Adab Laylat al-Israa' wal-Mi`raaj
Makna Spiritual dari Mukjizat Isra-Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Bismillaah ir-Rahmaan ir-Rahiim
"Subhaana l-ladzii asraa bi 'abdihi laylan min al-masjid il-haraami ila l-masjid il-aqsha l-ladzii baaraknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, Innahuu Huwa s-samii'u l-bashiir"
Allah SWT telah mewahyukan hal ini sebagai ayat pertama dari Al-Qur’an
Sebagaimana Allah SWT memulai Quran Suci dalam Surat Pembuka al-Fatihah, dengan kata-kata "Al-Hamdu Lillah - Segala Puji hanya untuk Allah," dengan cara yang sama pula Dia membuka
Malik bin Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Aku tengah terbaring di Hijr (di Masjid Haram Mekah) ketika seseorang (Malaikat
Kesempurnaan Penghambaan ('Ubudiyyah)
Maqam Kedekatan pada Ilahi
Allah SWT membawa Nabi Muhammad SAW ke Masjid al-Aqsha di Palestina, di mana hampir seluruh nabi menyambut beliau. Di
Dinaikkan di Malam Hari, Bercahaya Bagaikan Bulan Purnama
Allah SWT kemudian mengangkat beliau dari Masjid al-Aqsha dengan cara Mi'raj, menuju Hadirat Ilahiah-Nya. Mengapakah Allah SWT menggunakan kata-kata, 'laylan--pada suatu malam'? Mengapa Dia tidak berkata, 'naharan--pada suatu siang'? 'Laylan' di sini mengilustrasikan kegelapan dari dunia ini, ia menjadi bercahaya hanya oleh bulan yang berkilau dari Nabi SAW yang terbit untuk menerangi semua kegelapan.
"Subhan al-ladzii asraa bi 'abdihi laylan". "Maha Suci Ia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..." Lihatlah pada setiap kata dari ayat suci ini. Pertama-tama Allah SWT memuji Diri-Nya sendiri dalam bentuk orang ketiga, in absentia. Allah SWT kemudian secara ajaib memindahkan Nabi SAW dari Mekah menuju Masjid al-Aqsha (asra'). Kemudian Dia mengacu Nabi SAW sebagai "'abd - hamba", memberi beliau kehormatan melalui gelar tertinggi itu sebagai seseorang yang terkait dengan kehidupan spiritual, bukan kehidupan hewani. Risalah Nabi Muhammad SAW melengkapi dan menyempurnakan baik disiplin fisik dan hukum (syari'ah) dari
Seluruh kejadian-kejadian ajaib ini terjadi di malam Perjalanan Malam dan Kenaikan, Laylat al-Isra' wal-Mi'raj. Banyak hadis-hadis yang menjelaskan detail peristiwa-peristiwa di Perjalanan Malam ini yang telah disahihkan oleh berbagai huffaz (Ahli Hadis) seperti Ibn Shihab RA, Tsabit al-Banani RA, dan Qatada RA. Allah SWT mendukung nabi-nabi-Nya dengan keajaiban-kejaiban (mu'jizat) agar mampu melampaui hukum-hukum fisika dan batasan-batasan realitas kemanusiaan kita. Jika Allah SWT mengaruniakan suatu mukjizat, janganlah kita memandangnya sebagai sesuatu yang tak mungkin, jika kita seperti itu, maka kita hanya akan menjadi seperti ilmuwan yang tak mampu memahami apa pun di luar jangkauan persepsi mereka.
Allah SWT berfirman dalam Qur'an Suci: "Wa kadzaalika nurii Ibraahiima malakuut as-samaawaati wa l-ardhi wa liyakuuna min al-muuqiniin" "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada
Sebagai seorang nabi, Ibrahim AS juga bebas dari dosa, dan dus, tak mungkin untuk menganggap selain Allah SWT sebagai Tuhannya. Tetapi, adalah tugas
Di zaman kita saat ini, ilmuwan-ilmuwan yang materialistik dan beberapa sekte Islam yang berpikiran sempit mencoba untuk menyangkal spiritualitas, dimensi keempat, yang telah Allah SWT tunjukkan pada
Nabi Ibrahim AS telah ditunjukkan padanya kerajaan malakut, dari langit dan bumi. Nabi Musa AS tidak melihat kerajaan ini. Tetapi,
Tetapi, Allah SWT telah membuat Nabi Muhammad SAW bergerak dalam dimensi-dimensi spiritual dengan tubuh fisik beliau dalam kebebasan paripurna dari hukum-hukum fisika. Allah SWT menyebut Nabi SAW "linuriyahu min aayaatinaa..." "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dati tanda-tanda (kebesaran) Kami..." [QS 17:1]. Allah SWT menunjukkan pada Ibrahim AS kerajaan alam semesta ini, tapi Ia menggerakkan Nabi SAW dalam tubuh dan ruh beliau di luar hukum-hukum fisika alam semesta ini, untuk menunjukkan pada beliau 'tanda-tanda Kami', aayaatina. Bentuk kepemilikan (possesive) yang terkait dengan Tanda-tanda (Aayaat) sebagai milik dari Allah SWT secara langsung, menunjukkan kehormatan yang lebih agung dan pengetahuan yang dianugerahkan pada Nabi SAW. Kerajaan langit dan bumi yang ditunjukkan! pada Nabi Ibrahim AS adalah karya dalam lingkup alam semesta fisik ini, dan tidak menjangkau Surga, sedangkan ayat-ayat Allah SWT yang ditampakkan pada Nabi Muhammad SAW langsung terkait dengan Allah SWT dan tidak terhubung dengan dunia ini.
"Lalu Allah SWT mewahyukan pada hamba-Nya apa yang ia wahyukan. Hati Nabi SAW tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad SAW telah melihat-Nya lagi pada waktu yang lain, di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya Yang paling besar." [QS 53:10-18].
Setelah semua ini, Imam Sya'rawi RA bertanya, "Apakah yang membuat penglihatan Nabi SAW tidak berpaling? Beberapa mengatakan bahwa itu adalah Jibril AS, tapi Nabi SAW telah melihat Jibril AS dalam banyak kesempatan dan Jibril AS menyertai dan bersama beliau selama masa Perjalanan Malam dan Kenaikan (Isra' Mi'raj) itu. Adalah irrelevan untuk mengatakan bahwa pada hal inilah pandangan Nabi SAW tidak berpaling atau tidak lepas, karena jika ini mengacu pada Jibril AS, maka Nabi SAW telah memiliki berbagai kesempatan untuk telah melihatnya. Allah SWT tidaklah mengatakan sesuatu yang irrelevan, dan karena inilah saya berpihak pada mayoritas ulama (termasuk Imam Nawawi RA) dengan mengatakan bahwa dengan mata fisiknyalah Nabi SAW melihat Allah SWT."
"Laqad ra'a min aayaati rabbi hi l-kubraa" "Sungguh dia telah melihat sebagian ayat-ayat Tuhannya yang paling agung." [QS 53:18]. Apakah kemudian yang bisa menjadi Ayat Terbesar bagi Nabi SAW selain dari penglihatan akan Tuhannya? Karena Nabi SAW telah melihat semua tujuh tingkatan dari Surga, kemudian naik ke tingkatan yang lebih jauh dari ciptaan apa pun sebelum maupun sesudahnya, menuju "jarak dua ujung busur panah". Dinyatakan dalam hadits bahwa karunia terbesar bagi orang-orang beriman di kehidupan Akhirat bukanlah kenikmatan-kenikmatan Surga, melainkan melihat Tuhan mereka setiap hari Jumat. Jika orang-orang beriman, baik yang awam maupun yang khawas, akan melihat Tuhan mereka di akhirat nanti, jelas tentu saja, "Ayat Terbesar" bagi Kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW tak mungkin kurang dari itu.
"Wa maa ja'alna r-ru'ya l-latii arainaa-ka illaa fitnatan li n-naasi" "Dan tidaklah Kami karuniakan visi yang Kami perlihatkan padamu (Ya Muhammad SAW) melainkan sebagai ujian bagi manusia."[QS. 17:60]. Berkenaan dengan ayat ini, Ibn 'Abbas RA berkata, "Rasul Allah SAW benar-benar melihat dengan matanya sendiri visi (dari semua yang ditunjukkan pada beliau) pada malam Isra' ke
Nabi Ibrahim AS adalah Bapak para nabi dan beliau dikaruniai visi spiritual untuk melihat karya-karya dalam alam semesta ini dan Nabi Musa AS dikaruniai kemampuan berbicara langsung dengan Tuhannya. Tetapi, Allah SWT memindahkan Nabi Muhammad SAW dengan tubuh fisiknya, bertentangan dengan hukum-hukum fisika alam semesta, menuju ke Keghaiban, suatu tempat di mana tak ada apa pun dan tak ada kemungkinan akan apa pun--"la khala wa la mala". Allah SWT membawa Muhammad SAW ke
"Maa zaagha l-basaru wa maa taghaa, laqad ra-a min aayaati rabbihi l-kubraa, afara-aitum ul-laata wa l-'uzza wa manaata ts-tsaalitsat al-ukhraa" "Penglihatannya tidak berpaling dan tidak lepas. Sungguh ia telah melihat Tanda-Tanda Terbesar Tuhannya. Maka apakah kalian melihat Lat dan 'Uzza dan yang ketiga Manat?" [QS 53:17-20]
Mengapakah Allah SWT menyebut ketiga tuhan-tuhan palsu ini; Lat, 'Uzza dan Manat, yang disembah oleh para musyrikin Mekah, segera setelah Dia menyebut "Ayat-ayat Terbesar Tuhannya" dalam ayat 53:18? Para ulama berkata bahwa ayat 53:18 menunjukkan bahwa Muhammad SAW telah mencapai pemahaman sempurna akan Keesaan (Tawhid) Allah SWT, sementara ayat 53:19-20 sebagai kontrasnya, menunjukkan bahwa berhala-berhala ini tak lebih dari buatan para pemahatnya. Jika "Ayat-ayat terbesar" [QS 53:18] mengacu pada
Nabi Ibrahim AS menyebut sebuah bintang, bulan, dan matahari - tiga entitas dari kehidupan duniawi ini--sebagai objek-objek yang secara keliru telah dianggap tuhan selain Allah SWT. Dan dalam
http://www.islamicsupremecouncil.org
Rahasia di Balik Tanggal 27 Rajab
Zikir di Bulan Rajab
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
4 Oktober 2001
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Rasulullah SAW telah menyebutkan segala hal yang akan terjadi. Beliau telah menyebutkan semua tanda yang akan muncul sebelum kiamat. Beliau berkata kepada para sahabat, “Aku melihat kesengsaraan datang sebagai suatu malam yang gelap...[1] Pada saat itu orang yang duduk lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang mengendarai kendaraan.”
700 kali la hawla wa laa quwatta illa-billah
700 kali hasbunallah wa ni’mal-wakiil
700 kali bismillahir rahmaanir rahiim
700 kali Ya Wadud
5000 kali Allah, Allah dengan lidah
5000 kali Allah, Allah dalam hati
2000 kali shalawat
100 kali
Catatan kaki
Adab Bulan Rajab
Adab ini dilakukan sehari sebelum masuknya Bulan Rajab, antara Asar dan Magrib dan diulang sebagai adab harian bagi para salik (pejalan), kira-kira dimulai 1,5 jam sebelum Salat Subuh, tanpa membaca Doa Agung yang ditransmisikan oleh Grandsyekh Sultan Awliya Syekh `Abdullah Fa`iz ad-Daghestani QS (ad-du`aa ul-maatsuur li Sulthan al-Awliyaa) yang hanya dilakukan pada malam pertama.
Kenakan pakaian terbaik.
Gunakan wangi-wangian yang enak, khususnya bagi pria.
Lakukan Salat Sunnat Wudu 2 rakaat.
Yaa Rabbil `Izzati wal `Azhamati wal Jabbaruut
Wahai Tuhan yang memiliki Kemuliaan, Keagungan dan Memaksakan Kehendak-Nya.
Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah, nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii haadzal-jaami`)
Yaa Haliim 100 kali (untuk menghilangkan amarah)
Yaa Hafizh 100 kali (untuk menghilangkan penderitaan)
Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Muhammad SAW dan kepada keluarga Muhammad SAW
Yaa Rabbii innanii nawaytu an ataqaddama nahwa bahri wahdaniyyatika ilaa maqaamil fanaa-i fiika falaa tarudanii yaa Rabbii, yaa Allaah khaa-iban hatta tuwash-shilanii ila dzaak al-maqaam al-maqaamul fardaanii
Asy-hadu anlaa ilaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah SWT.
Iqaamush-shalaati wa iitaa-uz-zakaat wa shawmu ramadhaana, wa Hajjul bayt
Mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadan, dan ibadah Haji ke Rumah Allah SWT.
Aamantu billaahi wa malaa-ikatihi wa kutubihi wa rusulihi wal yawmil aakhiri wa bil qadri khayrihi wa syarrihi min Allahi ta`alaa
Aku percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk—adalah berasal dari Allah SWT Yang Maha Tinggi.
Astaghfirullaah (100 kali)
(kemudian duduk)
Alam Nasyrah (7 kali)
Al-Ikhlash (11 kali)
Al-Falaq (1 kali)
An-Naas (1 kali)
Laa ilaha illallaah (9 kali)
Laa ilaha illallaah Muhammad Rasuul Alaah (1 kali)
Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa sallim (10 kali)
`Alaa asyrafil `aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat
`Alaa afdhalil `aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat
`Alaa akmalil `aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat
Ila hadhratin Nabiyyi SAW wa ‘aalihi wa shahbihil kiram, wa ilaa arwaahi ikhwaanihi minal-anbiyaa’i wal mursaliin wa khudamaa-i syaraa-ihim wa ilaa arwaahil a-immatil arba`ah wa ilaa arwaahi masyaayikhinaa fii thariiqatin Naqsybandiyyatil ‘Aliyyah, khaassatan ila ruuhi imamith-thariqati wa Ghawtsil khaliiqati Khwaajaa Bahaauddiin Naqsyband Muhammad al-Uwaysiyil Bukhaari, Wa ‘ilaa hadhrati Mawlaanaa Sulthaanil Awliya Syaykh ‘Abdullah Daghistaanii, wa Mawlaanaa Syaykh Muhammad Naazhim al-Haqqaani wa ilaa saa-iri saadaatinaa wash-shiddiqiina al-Faatiha
Allah Allah 5000 kali (dalam hati)
Allah Allah 5000 kali (bersuara)
Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa sallim
(1000 kali setiap hari, kecuali Senin, Kamis dan Jumat 2000 kali)
Salat Najat
Salat Syukur
Salat Tasbih
Dengan niat untuk menghilangkan aspek buruk dari ego.
Dengan niat memohon kepada Allah SWT agar mengampuni dosa-dosa kita, sejak diciptakannya jiwa kita sampai hari ini.
Dengan niat bahwa sejak hari ini sampai hari terakhir di dunia, Allah SWT akan melindungi kita dari dosa-dosa.
Sebagai rasa syukur bahwa Allah SWT tidak menciptakan kita sebagai umat dari nabi-nabi yang lain
Sebagai rasa syukur bahwa Allah SWT telah menciptakan kita sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW, dan memuliakan kita dengan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, `Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, Syekh Sayyid Syarafuddin ad-Daghestani QS, dan memuliakan kita dengan Grandsyekh Syekh `Abd Allah al-Fa`iz ad-Daghestani QS, dan memuliakan kita dengan menjadikan kita sebagai pengikut Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS
The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions
by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
© 2004, Islamic Supreme Council of
Adab Harian antara Magrib dan Isya di Bulan Rajab
Niat:
Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah, nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii haadzal-jaami`)
(kalau memungkinkan, baca setiap hari)
(sebagai bagian dari awrad harian)
(sebagai bagian dari awrad harian)
Perbanyak puasa, khususnya pada hari Senin dan Kamis, juga pada Laylat al-Raghaib (Malam Jumat pertama di bulan Rajab), pertengahan Rajab dan pada tanggal 27 Rajab.
The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions
by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
© 2004, Islamic Supreme Council of