Tampilkan postingan dengan label Rajab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rajab. Tampilkan semua postingan

Adab Laylat al-Israa' wal-Mi`raaj



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
27 Juni 2011   Lefke, Siprus
Laylat al-Israa wa 'l-Mi`raaj

As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh.
A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajim.
Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.

Saya bertanya pada Mawlana Syekh Nazim (q), amalan apa yang dapat kita lakukan malam ini, dan beliau berkata, “Sekarang malam sangat singkat; lakukan saja ziarah rambut suci Nabi (s) lalu salat dua rakaat Shalaat asy-Syukr, lillahi Ta`ala.”

Sebagaimana Grandsyekh `AbdAllah al-Fa`iz ad-Daghestani (q) berkata, “Ketika Sayyidina Muhammad (s) melakukan Israa wa ‘l Mi`raaj, di Surga, beliau salat dua rakaat Shalaat asy-Syukr bersama seluruh nabi lainnya (a), untuk bersyukur kepada Allah (swt) yang telah membawanya untuk Mi`iraj.  Pada rakaat kedua beliau membaca Du`a al-Qunuut,” jadi kita akan melakukan hal yang sama. 

Grandsyekh `AbdAllah al-Fa`iz ad-Daghestani (q), dan Mawlana Syekh baru saja mengatakan bahwa dua rakaat ini dilakukan atas niat bahwa Allah akan mengaruniakan kita dengan (berkah dari) salat yang sama yang dilakukan oleh Nabi (s) bersama 124,000 nabi lainnya!  Beliau (s) salat bersama mereka sebagai Imam dan mereka semua menjadi makmum di belakangnya.  Mawlana Syekh berkata, “Sebagai ummatu ‘n-nabi, kita juga salat di belakang Sayyidina Muhammad (s) dan para nabi lainnya di dalam salat tersebut.”

Jadi, kita akan melakukan salat itu sekarang, sampai mereka membawa rambut suci Nabi (s).

Shalaatu ash-Syukur lillahi Ta`ala ’l-Azhiim fii laylati Israa wa ‘l Mi`raaj!
Allahu Akbar!

Makna Spiritual dari Mukjizat Isra-Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Bismillaah ir-Rahmaan ir-Rahiim

"Subhaana l-ladzii asraa bi 'abdihi laylan min al-masjid il-haraami ila l-masjid il-aqsha l-ladzii baaraknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, Innahuu Huwa s-samii'u l-bashiir"

"Maha Suci Allah SWT, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS 17:1]

Allah SWT telah mewahyukan hal ini sebagai ayat pertama dari Al-Qur’an surat Al-Isra’ (Perjalanan Malam), yang dikenal pula sebagai Surat Bani Israil (Keturunan Israil) atau Surat Pensucian (subhan). Di dalamnya Allah SWT menyebutkan perjalanan malam (al-isra') saat mana Dia memangil Nabi SAW ke Hadirat Ilahiah-Nya.

Sebagaimana Allah SWT memulai Quran Suci dalam Surat Pembuka al-Fatihah, dengan kata-kata "Al-Hamdu Lillah - Segala Puji hanya untuk Allah," dengan cara yang sama pula Dia membuka Surat al-Isra' [QS 17:1], surat tentang Perjalanan Malam (Isra'), dengan "Subhana - Maha Suci Allah." Allah SWT tengah mensucikan dan mengagungkan Diri-Nya sendiri dengan berfirman, "Subhana alladzii asra" yang berarti "Maha Suci Diri-Ku, Yang membawa Nabi SAW pada Perjalanan Malam, memanggilnya ke Hadirat Ilahiah-Ku."

Berada di luar jangkauan pemahaman akal pikiran manusia, Allah SWT di sini tidak hanya tengah mengingatkan kita akan peristiwa tersebut. Tapi, Dia juga mensucikan dan mengagungkan Diri-Nya Sendiri berkenaan dengan peristiwa itu, saat mana Dia memindahkan Nabi SAW hampir dalam sekejap waktu dari Mekah menuju Masjid Al-Aqsha, yang kemudian diikuti dengan Naiknya Nabi SAW (Mi'raj), berpindah tempat dalam waktu yang, secara ajaib, demikian singkat, melalui domain duniawi dari alam semesta ini hingga ke luar darinya, dan melampaui batasan-batasan hukum fisika.

Tak ada cara ilmiah, secara duniawi, yang dapat menjelaskan pada kita bagaimana Nabi SAW bergerak melintasi bumi seperti itu, dan kemudian dibawa menuju Hadirat Ilahiah Allah SWT: perjalanan semacam itu adalah di luar jangkauan imajinasi. Karena itulah, Allah SWT mensucikan Diri-Nya sendiri dengan berfirman, "Ya, itu terjadi! Maha Suci dan Agung Diri-Ku Yang bisa melakukan hal ini! Aku di luar jangkauan semua hukum-hukum dan sistem ini. Aku-lah Pencipta dari seluruh sistem."


Persiapan Malaikati untuk Perjalanan Menakjubkan Ini

Malik bin Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Aku tengah terbaring di Hijr (di Masjid Haram Mekah) ketika seseorang (Malaikat Jibril AS) datang kepadaku dan membedah dadaku dari tenggorokan hingga perut. Ia mengambil jantungku dan membersihkannya dengan air sumur Zamzam sebelum mengembalikannya ke tempatnya semula. Kemudian ia membawa kepadaku suatu makhluk putih yang disebut al-Buraq, yang dengannya aku diterbangkan." Riwayat lain menceritakan bahwa dua malaikat utama, Jibril AS dan Mika'il AS datang pada Nabi SAW ketika beliau tengah berbaring di al-Hijr (Masjidil Haram di Mekah) dan mereka membawa beliau ke sumur Zamzam. Mereka membaringkan beliau pada punggungnya, kemudian Jibril AS membuka dada beliau dari atas hingga bawah, dan sama sekali tidak ada pendarahan. Jibril AS berkata pada Mika'il AS, 'Berilah aku air dari Zamzam,' yang kemudian diambil oleh Mika'il AS. Jibril AS mengambil jantung Nabi SAW dan mencucinya tiga kali sebelum mengembalikannya ke tempatnya semula. Kemudian ia menutup dada beliau dan mereka membawanya dari pintu masjid itu ke tempat di nama Buraq telah menanti."

Malaikat Jibril AS sebetulnya mampu untuk mengambil jantung Nabi SAW secara ajaib dengan bedahan yang kecil atau malah tanpa membuka dada beliau sama sekali. Namun, di sini kita melihat dalam Sunnah Nabi SAW suatu petunjuk bagaimana melakukan suatu operasi jantung yang terbuka. Teknik yang sama untuk membuka seluruh rongga dada ini kini digunakan oleh para ahli bedah jantung.


Kesempurnaan Penghambaan ('Ubudiyyah)

Bagaimanakah Allah SWT menggambarkan pribadi yang Dia bawa dalam Perjalanan Malam tersebut? Dia melukiskan pribadi itu sebagai "hamba-Nya" - 'abdi hi. Abu Qasim Sulayman al-Ansari RA berkata bahwa saat Nabi SAW mencapai level tertinggi dan maqam yang paling terhormat, Allah SWT mewahyukan pada beliau, "Dengan apakah Aku mesti memberimu kehormatan?" Nabi SAW menjawab, "Dengan menghubungkan diriku pada-Mu melalui penghambaan ('ubudiyyah)." Karena hal inilah, Allah SWT mewahyukan ayat Quran Suci ini, dengan memberikan penghormatan bagi Nabi SAW dengan gelar "hamba-Nya" saat melukiskan Perjalanan Malam (Isra'). Allah SWT tidak memberikan karunia seperti itu sebelumnya pada Musa AS. Dia hanya berfirman, "Dan tatkala Musa AS datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan..." [QS 7:143] mengacu Musa AS dengan menggunakan namanya. (Sedangkan pada kasus Nabi Muhammad SAW) Bukannya berfirman, "Maha Suci Dia Yang telah memperjalankan Muhammad SAW...", melainkan Allah SWT memberikan kehormatan pada Nabi SAW dengan mengacu Nabi SAW sebagai 'abdihi, "hamba-Nya." Kesimpulan halus lainnya dari penggunaan istilah "'abdihi", --hamba-Nya (suatu konstruksi dalam bentuk absentia atau orang ketiga) oleh Allah SWT ini, adalah adanya makna bahwa, 'Dia memanggil Nabi SAW ke suatu kekosongan di mana tak ada sesuatu apa pun melainkan Kehadiran Diri-Nya Sendiri.' Dan yang lebih ajaib daripada hal memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya adalah bahwa Dia membawa badan dan roh Nabi SAW, yang wujud dalam ruang dan waktu, ke suatu 'tempat' di mana tidak ada ruang dan waktu, tidak ada 'di mana' dan tidak ada pula 'kapan!'. Allah SWT membawa hamba-Nya yang tulus ini, Penghulu kita Muhammad SAW, dari wujud fisik kehidupan duniawi ini menuju Hadirat Ilahiah yang sepenuhnya abstrak.


Maqam Kedekatan pada Ilahi

Ayat ini berlanjut dengan melukiskan perpindahan Nabi SAW melalui maqam-maqam yang jumlahnya tak terhitung. Setelah menyempurnakan akhlaqnya melalui ibadah yang terus-menerus, 'ubudiyyah, Masjidil Haram, atau Masjid Suci, di sini merupakan suatu simbol atau indikasi bahwa Nabi SAW telah diangkat dari seluruh dosa. Penggambaran Allah SWT akan Nabi SAW sebagai "'abd"—hamba-- mendahului penyebutan-Nya akan dua masjid: Masjid Suci (Masjid al-Haram) dan Masjid Yang Berjarak Jauh (Masjid Al-Aqsha). Allah SWT tidak mengatakan hamba-Nya dibawa "dari Mekah," melainkan Dia berfirman, "dari Masjid yang Suci," Masjid al-Haram. "Suci" di sini bermakna yang tak dapat diganggu gugat, tak satu pun dosa diperbolehkan dalam wilayahnya, tidak pula ghibah, tidak pula menipu, atau berdusta. Di sana, seseorang mesti selalu waspada akan Kehadiran Allah SWT.

Masjid al-Haram, mewakili di sini suatu maqam di mana dosa-dosa yang menandakan kehidupan hewani tak lagi pernah dilakukan. 'Aqsha' dalam bahasa Arab bermakna 'Yang Terjauh'. Dus, Masjid al-Aqsha di sini disebut sebagai masjid terjauh dibandingkan dari Masjid al-Haram dan menyimbolkan alam atau realitas spiritual. Makna literalnya adalah, 'Ia membawa hamba-Nya dari Masjid al-Haram menuju Masjid pada ujung terjauh.' Secara simbolis, Allah SWT membawa Nabi SAW menjauhi hal-hal yang terlarang dari kehidupan duniawi ini, yang haram, menuju tempat terjauh darinya—Al-Aqsha. Titik terjauh dari kehidupan hewani adalah dimensi spiritual.

Kontras di antara kedua maqam ini, lebih jauh didemonstrasikan dengan adanya batu-batu yang terkenal yang ada di kedua tempat suci ini. Di Masjid al-Haram, kita mengenal adanya Hajar al-Aswad (Batu Hitam) yang dikendalikan oleh batasan-batasan fisik, ditaruh dalam suatu wadah, jatuh dari surga dan menjadi gelap oleh dosa-dosa kemanusiaan. Di Masjid al-Aqsha, terdapat batu suci yang menandai tempat di mana Nabi SAW naik ke langit, dan batu ini mengambang secara ajaib di udara, mengabaikan hukum gravitasi, ingin untuk meninggalkan tarikan gravitasi bumi, untuk meluncur menuju Hadirat Ilahi.

Makna halus yang dapat diturunkan dari urutan kata-kata di sini adalah bahwa hamba sejati Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, memulai dari maqam 'ubudiyyah, penghambaan, yang juga adalah tujuan dari penciptaannya. Hal ini mengizinkan dirinya untuk memulai dari kedudukan (maqam) akhlak yang sempurna dan tak bercacat ('ismat), meninggalkan semua yang terlarang, meninggalkan kecintaan atas kehidupan duniawi ini (al-haraam) dan bergerak dari situ menuju maqam terjauh, tingkatan tertinggi dari seluruh ciptaan, sebagaimana ditandai oleh maqam dari masjid terjauh, al-Aqsha.


Tahapan-tahapan Tasawuf

Dalam Ilmu Pensucian Jiwa, Tasawuf, tahapan-tahapan tersebut dinamai dengan Syariah, Tariqat, dan Haqiqat. Tahapan pertama terkait dengan bidang disiplin fisik, dari mana seorang pencari kemudian bergerak dalam "Jalan", Tariqah, dengan kendaraan 'ubudiyyah, penghambaan dan ibadah, dan kemudian naik menuju maqam haqiqat, realitas, di mana seluruh kebatilan dan kepalsuan punah, lenyap, dan Ketuhanan Allah SWT ditampakkan secara nyata pada sang hamba.

Allah SWT membawa Nabi Muhammad SAW ke Masjid al-Aqsha di Palestina, di mana hampir seluruh nabi menyambut beliau. Di sana beliau menjumpai seluruh nabi berkumpul, dan mereka melakukan salat secara berjamaah di belakang beliau. Dari sana Allah SWT mengangkat beliau menuju langit, seakan-akan Dia berfirman, 'Wahai nabi-nabi-Ku! Aku tidak pernah mengangkat seorang pun dari Masjid al-Aqsha seperti aku menaikkan Muhammad SAW.' Ini adalah untuk menunjukkan pada mereka bahwa Mi'raj (naiknya) Nabi Muhammad SAW—tidak seperti siapa pun di antara mereka, beliau tidak dibatasi oleh hukum-hukum alam semesta ini.


Dinaikkan di Malam Hari, Bercahaya Bagaikan Bulan Purnama

Allah SWT kemudian mengangkat beliau dari Masjid al-Aqsha dengan cara Mi'raj, menuju Hadirat Ilahiah-Nya. Mengapakah Allah SWT menggunakan kata-kata, 'laylan--pada suatu malam'? Mengapa Dia tidak berkata, 'naharan--pada suatu siang'? 'Laylan' di sini mengilustrasikan kegelapan dari dunia ini, ia menjadi bercahaya hanya oleh bulan yang berkilau dari Nabi SAW yang terbit untuk menerangi semua kegelapan.

"Subhan al-ladzii asraa bi 'abdihi laylan". "Maha Suci Ia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..." Lihatlah pada setiap kata dari ayat suci ini. Pertama-tama Allah SWT memuji Diri-Nya sendiri dalam bentuk orang ketiga, in absentia. Allah SWT kemudian secara ajaib memindahkan Nabi SAW dari Mekah menuju Masjid al-Aqsha (asra'). Kemudian Dia mengacu Nabi SAW sebagai "'abd - hamba", memberi beliau kehormatan melalui gelar tertinggi itu sebagai seseorang yang terkait dengan kehidupan spiritual, bukan kehidupan hewani. Risalah Nabi Muhammad SAW melengkapi dan menyempurnakan baik disiplin fisik dan hukum (syari'ah) dari Musa AS maupun spiritualitas (rawhaniyya) dari 'Isa AS. Syari'ah dari Musa AS berkaitan dengan kehidupan duniawi ini, sedangkan spiritualitas 'Isa AS terkait dengan kehidupan surgawi. Dengan melalui dan melampaui kehidupan duniawi, yang diwakili oleh Isra' (Perjalanan Malam), menuju kehidupan surgawi, yang diwakili oleh Mi'raj, Nabi SAW dibawa di atas kedua sayap ini. Tak seorang pun nabi dibawa dalam kedua dimensi ini kecuali Junjungan kita, Sayyidina Muhammad SAW.


Kendaraan-Kendaraan Nabi SAW

Salah seorang dari ulama-ulama besar bidang Tafsir Quran, al-'Ala'i RA berkata, "Pada Malam Mi'raj Nabi SAW menggunakan lima kendaraan yang berbeda-beda. Yang pertama adalah Buraq, suatu makhluk bersayap yang membawa beliau dari Mekah menuju Masjid al-Aqsha. Yang kedua adalah Kenaikan (Mi'raj) yang dengannya Nabi SAW mencapai langit dunia ini, as-sama' ad-dunya'. Ada dua penjelasan untuk Mi'raj: satu, bahwa Buraq membawa Nabi SAW ke atas, dan yang kedua, bahwa sebuah 'tangga' turun dan menaikkan Nabi SAW dengan amat cepat. Kendaraan ketiga adalah sayap-sayap para Malaikat yang membawa Nabi SAW hingga langit ketujuh. Kendaraan keempat adalah sayap-sayap Jibril AS yang membawa beliau dari langit ketujuh menuju Sidrat al-Muntaha, 'Pohon Lotus Terjauh'. Kendaraan kelima adalah suatu karpet (ar-raf raf) yang membawa beliau hingga maqam 'dua ujung busur panah--qaba qawsayn.' [QS 53:9]." "Serupa dengan itu, Nabi SAW berhenti pada sepuluh maqam yang berbeda: tujuh langit dan yang kedelapan di Sidrat al-Muntaha. Yang kesembilan adalah tempat di mana beliau mendengar suara dari pena-pena Malaikat yang tengah menulis amal perbuatan manusia, dan maqam kesepuluh adalah di 'Arsy (Singgasana). Wallahu A'lam, dan Allah SWT-lah yang lebih tahu."


Aspek Mukjizat dari Isra' dan Mi'raj

Seluruh kejadian-kejadian ajaib ini terjadi di malam Perjalanan Malam dan Kenaikan, Laylat al-Isra' wal-Mi'raj. Banyak hadis-hadis yang menjelaskan detail peristiwa-peristiwa di Perjalanan Malam ini yang telah disahihkan oleh berbagai huffaz (Ahli Hadis) seperti Ibn Shihab RA, Tsabit al-Banani RA, dan Qatada RA. Allah SWT mendukung nabi-nabi-Nya dengan keajaiban-kejaiban (mu'jizat) agar mampu melampaui hukum-hukum fisika dan batasan-batasan realitas kemanusiaan kita. Jika Allah SWT mengaruniakan suatu mukjizat, janganlah kita memandangnya sebagai sesuatu yang tak mungkin, jika kita seperti itu, maka kita hanya akan menjadi seperti ilmuwan yang tak mampu memahami apa pun di luar jangkauan persepsi mereka.

Para ulama berbeda pendapat pada malam apa perjalanan agung ini terjadi. Imam Nawawi RA berkata bahwa Perjalanan ini terjadi di bulan Rajab. Dalam kitab ar-Rawda karangan Nawawi RA, ia menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi sepuluh tahun dan tiga bulan setelah awal Kenabian, sedangkan Fatawa menyatakan bahwa peristiwa Perjalanan Malam ini terjadi lima atau enam tahun setelah permulaan wahyu. Apa pun kasusnya, para ulama sepakat bahwa Laylat al-Isra' wal Mi'raj ini terjadi baik pada badan maupun roh (dari Nabi SAW).


Visi Ibrahim AS dan Dimensi Spiritual

Allah SWT berfirman dalam Qur'an Suci: "Wa kadzaalika nurii Ibraahiima malakuut as-samaawaati wa l-ardhi wa liyakuuna min al-muuqiniin" "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim AS tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim AS itu termasuk orang-orang yang yakin." [QS 6:75]

Allah SWT menunjukkan kerajaan langit dan bumi pada Nabi Ibrahim AS, dengan membuka pandangan spiritual Ibrahim AS (basiirah) agar beliau melihat keindahan dan keajaiban alam semesta dari tempat beliau berpijak di bumi. Allah SWT menunjukkan pada beliau apa yang di luar hukum-hukum alam semesta fisik, melalui mata kalbunya. Sekalipun demikian, segera setelah ayat ini, Allah SWT telah menunjukkan pula pada Ibrahim AS keagungan-keagungan di balik alam semesta fisik, "Falammaa janna 'alaihi l-laylu ra-a kawkaban qaala haadza rabbiy..." "Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku'" [QS 6:76]. Dalam ayat-ayat berikutnya Ibrahim AS, secara serupa, "keliru" pula menganggap bulan dan matahari sebagai tuhannya: "Falammaa ra-a l-qamara baazighan qaala haadzaa rabbiy, falammaa afala qaala la in lam yahdii rabbiy la-akuunanna min al-qawm id-dhaalliin; falammaa ra-a s-syamsa baazighatan qaala haadzaa rabbiy.." "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: 'Inilah tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat; Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah tuhanku...'" [QS. 6:77-78]. Ayat-ayat ini yang berkaitan dengan bintang-bintang, bulan dan matahari adalah ditujukan pada orang-orang yang tidak beriman. Allah SWT menunjukkan pada Ibrahim AS Kebenaran dan ia telah meraih keyakinan dalam iman (sebagaimana ditunjukkan ayat 6:75, red.).

Sebagai seorang nabi, Ibrahim AS juga bebas dari dosa, dan dus, tak mungkin untuk menganggap selain Allah SWT sebagai Tuhannya. Tetapi, adalah tugas Ibrahim AS untuk menyampaikan suatu Risalah Samawi (Pesan Langit). Untuk berusaha membawa setiap orang berada dalam naungan Rahmah Allah SWT, Ibrahim AS mencoba untuk mengajar ummatnya dengan cara yang sedemikian rupa hingga tidak membuat mereka menolak pesan dakwahnya. Dengan secara bijaksana menggunakan suatu proses eliminasi, ia menunjukkan pada mereka bahwa suatu dimensi spiritual benar-benar wujud/ada. Ibrahim AS menghilangkan bintang (sesuatu yang kecil), kemudian bulan, kemudian matahari (benda langit yang nampak terbesar). Ibrahim AS menegaskan kembali keyakinan sejatinya pada Allah SWT dan pemalingan dirinya dari gangguan-gannguan duniawi dengan mengatakan, "Falamma afalat qaala yaa qawmi innii barii-un mimmaa tusyrikuun. Innii wajjahtu wajhiya li l-ladzii fathar as-samaawaati wa l-ardha haniifan, wa maa ana min al-musyrikiin." "maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan'." [QS 6:78-79] Makna dari penunjukan ini adalah: jangan mengejar hal-hal dari kehidupan duniawi ini, tapi carilah dimensi spiritual yang melampaui semua hukum-hukum alam semesta fisik.

Di zaman kita saat ini, ilmuwan-ilmuwan yang materialistik dan beberapa sekte Islam yang berpikiran sempit mencoba untuk menyangkal spiritualitas, dimensi keempat, yang telah Allah SWT tunjukkan pada Ibrahim AS. Mereka yang menolak dan menyangkal adanya dimensi spiritual dari Islam, maka mereka tengah terjatuh dalam perangkap yang sama seperti yang dialami oleh kaum Ibrahim AS. Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Yang paling kutakutkan bagi umatku adalah syirk tersembunyi (membuat partner bagi Allah SWT).' Syirik tersembunyi adalah bagi seseorang untuk merasa bangga akan dirinya sendiri, yang paling mudah termanifestasikan dalam bentuk penolakan atas kata-kata orang lain.


Perbedaan atau Kehormatan dari Kenaikan (Mi'raj) Nabi Muhammad SAW

Nabi Ibrahim AS telah ditunjukkan padanya kerajaan malakut, dari langit dan bumi. Nabi Musa AS tidak melihat kerajaan ini. Tetapi, Musa AS mampu untuk mendengar Allah SWT dan berbicara langsung pada Allah SWT dari Gunung Sinai, sehingga beliau dikenal sebagai Kalimullah (ia yang berbicara dengan Allah SWT secara langsung). Sekalipun Ibrahim AS dikaruniai kemampuan untuk melihat dalam dimensi-dimensi spiritual, dan Musa AS dikaruniai kemampuan untuk mendengar Allah SWT secara langsung, tubuh dan badan dari kedua nabi besar ini tetap tinggal di bumi, dan dikenai hukum-hukum fisika-nya. Pandangan (visi) Nabi Ibrahim AS dan pendengaran Nabi Musa AS melampaui batasan fisik melalui kekuatan roh mereka, tetapi tubuh mereka tidaklah bergerak melampau dunia fisik ini.

Tetapi, Allah SWT telah membuat Nabi Muhammad SAW bergerak dalam dimensi-dimensi spiritual dengan tubuh fisik beliau dalam kebebasan paripurna dari hukum-hukum fisika. Allah SWT menyebut Nabi SAW "linuriyahu min aayaatinaa..." "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dati tanda-tanda (kebesaran) Kami..." [QS 17:1]. Allah SWT menunjukkan pada Ibrahim AS kerajaan alam semesta ini, tapi Ia menggerakkan Nabi SAW dalam tubuh dan ruh beliau di luar hukum-hukum fisika alam semesta ini, untuk menunjukkan pada beliau 'tanda-tanda Kami', aayaatina. Bentuk kepemilikan (possesive) yang terkait dengan Tanda-tanda (Aayaat) sebagai milik dari Allah SWT secara langsung, menunjukkan kehormatan yang lebih agung dan pengetahuan yang dianugerahkan pada Nabi SAW. Kerajaan langit dan bumi yang ditunjukkan! pada Nabi Ibrahim AS adalah karya dalam lingkup alam semesta fisik ini, dan tidak menjangkau Surga, sedangkan ayat-ayat Allah SWT yang ditampakkan pada Nabi Muhammad SAW langsung terkait dengan Allah SWT dan tidak terhubung dengan dunia ini.


Visi (Penglihatan) Nabi SAW akan Tuhannya dan Kesempurnaan Tawhiid

"Lalu Allah SWT mewahyukan pada hamba-Nya apa yang ia wahyukan. Hati Nabi SAW tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad SAW telah melihat-Nya lagi pada waktu yang lain, di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya Yang paling besar." [QS 53:10-18].

Imam Nawawi RA dan almarhum Imam Mutawalli Sya'rawi RA sepakat dengan mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat-ayat ini, bahwa maknanya adalah Nabi SAW melihat Tuhannya di waktu lain, bukannya bahwa ia melihat Jibril AS di waktu lain, sebagaimana beberapa menyatakan. Imam Nawawi RA meriwayatkan dalam komentar (syarah) Sahih Muslim-nya, "Sebagian besar ulama berkata bahwa Nabi SAW melihat Tuhannya dengan kedua mata kepalanya-- ra'a rabbahu bi'aynay ra'sihi. Nabi SAW datang melalui suatu perjalanan panjang menuju Singgasana Ilahiah (arsy), mencapai qaaba qawsayni (jarak dua ujung busur panah), dan mencapai Surga Jannat al-Ma'wa di dekat Sidrat ul-Muntaha.

Setelah semua ini, Imam Sya'rawi RA bertanya, "Apakah yang membuat penglihatan Nabi SAW tidak berpaling? Beberapa mengatakan bahwa itu adalah Jibril AS, tapi Nabi SAW telah melihat Jibril AS dalam banyak kesempatan dan Jibril AS menyertai dan bersama beliau selama masa Perjalanan Malam dan Kenaikan (Isra' Mi'raj) itu. Adalah irrelevan untuk mengatakan bahwa pada hal inilah pandangan Nabi SAW tidak berpaling atau tidak lepas, karena jika ini mengacu pada Jibril AS, maka Nabi SAW telah memiliki berbagai kesempatan untuk telah melihatnya. Allah SWT tidaklah mengatakan sesuatu yang irrelevan, dan karena inilah saya berpihak pada mayoritas ulama (termasuk Imam Nawawi RA) dengan mengatakan bahwa dengan mata fisiknyalah Nabi SAW melihat Allah SWT."

"Laqad ra'a min aayaati rabbi hi l-kubraa" "Sungguh dia telah melihat sebagian ayat-ayat Tuhannya yang paling agung." [QS 53:18]. Apakah kemudian yang bisa menjadi Ayat Terbesar bagi Nabi SAW selain dari penglihatan akan Tuhannya? Karena Nabi SAW telah melihat semua tujuh tingkatan dari Surga, kemudian naik ke tingkatan yang lebih jauh dari ciptaan apa pun sebelum maupun sesudahnya, menuju "jarak dua ujung busur panah". Dinyatakan dalam hadits bahwa karunia terbesar bagi orang-orang beriman di kehidupan Akhirat bukanlah kenikmatan-kenikmatan Surga, melainkan melihat Tuhan mereka setiap hari Jumat. Jika orang-orang beriman, baik yang awam maupun yang khawas, akan melihat Tuhan mereka di akhirat nanti, jelas tentu saja, "Ayat Terbesar" bagi Kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW tak mungkin kurang dari itu.

"Wa maa ja'alna r-ru'ya l-latii arainaa-ka illaa fitnatan li n-naasi" "Dan tidaklah Kami karuniakan visi yang Kami perlihatkan padamu (Ya Muhammad SAW) melainkan sebagai ujian bagi manusia."[QS. 17:60]. Berkenaan dengan ayat ini, Ibn 'Abbas RA berkata, "Rasul Allah SAW benar-benar melihat dengan matanya sendiri visi (dari semua yang ditunjukkan pada beliau) pada malam Isra' ke Jerusalem (dan kemudian ke langit)..." Inilah keagungan Nabi Muhammad SAW. Tak seorang pun pernah melihat Tuhannya selain dari Muhammad SAW, yang menjadikannya sebagai satu-satunya monoteis (muwahhid) sejati. Tak seorang pun kecuali Muhammad SAW mencapai suatu pemahaman sempurna akan Keesaan Ilahiah—Tawhid--pemahaman siapa pun selain beliau akan tawhid hanyalah peniruan (taqliid).

Nabi Ibrahim AS adalah Bapak para nabi dan beliau dikaruniai visi spiritual untuk melihat karya-karya dalam alam semesta ini dan Nabi Musa AS dikaruniai kemampuan berbicara langsung dengan Tuhannya. Tetapi, Allah SWT memindahkan Nabi Muhammad SAW dengan tubuh fisiknya, bertentangan dengan hukum-hukum fisika alam semesta, menuju ke Keghaiban, suatu tempat di mana tak ada apa pun dan tak ada kemungkinan akan apa pun--"la khala wa la mala". Allah SWT membawa Muhammad SAW ke sana dan membukakan bagi beliau Diri-Nya Sendiri, dengan cara yang Dia kehendaki. Bagaimana ini terjadi, kita tak mengetahuinya. Ini tak terlihat dan tak diketahui (ghayb). Dus, sebagaimana Ibn 'Abbas RA berkata, ini adalah suatu perkara untuk diimani dengan penerimaan penuh, dan bukan suatu perkara untuk dipertanyakan.


Penjelasan tentang Ayat-ayat tentang Berhala

"Maa zaagha l-basaru wa maa taghaa, laqad ra-a min aayaati rabbihi l-kubraa, afara-aitum ul-laata wa l-'uzza wa manaata ts-tsaalitsat al-ukhraa" "Penglihatannya tidak berpaling dan tidak lepas. Sungguh ia telah melihat Tanda-Tanda Terbesar Tuhannya. Maka apakah kalian melihat Lat dan 'Uzza dan yang ketiga Manat?" [QS 53:17-20]

Mengapakah Allah SWT menyebut ketiga tuhan-tuhan palsu ini; Lat, 'Uzza dan Manat, yang disembah oleh para musyrikin Mekah, segera setelah Dia menyebut "Ayat-ayat Terbesar Tuhannya" dalam ayat 53:18? Para ulama berkata bahwa ayat 53:18 menunjukkan bahwa Muhammad SAW telah mencapai pemahaman sempurna akan Keesaan (Tawhid) Allah SWT, sementara ayat 53:19-20 sebagai kontrasnya, menunjukkan bahwa berhala-berhala ini tak lebih dari buatan para pemahatnya. Jika "Ayat-ayat terbesar" [QS 53:18] mengacu pada Jibril AS, tentu kemudian tidak akan diikuti dengan (ayat) yang menyebut berhala-berhala palsu sesudah ayat itu.

Nabi Ibrahim AS menyebut sebuah bintang, bulan, dan matahari - tiga entitas dari kehidupan duniawi ini--sebagai objek-objek yang secara keliru telah dianggap tuhan selain Allah SWT. Dan dalam surat Bintang (an-Najm), Allah SWT menyebutkan al-Lat, al-'Uzza, dan Manat, sekali lagi tiga tuhan-tuhan palsu, segera setelah mendeskripsikan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian besar ulama. Kedua wahyu [dalam surat yang berbeda tentang Ibrahim AS dan Muhammad SAW] ini menolak konsep batil dari penyembahan berhala, dan secara halus pula menekankan ide palsu akan suatu trinitas, yang mencakup sebagian besar dari bentuk-bentuk kemusyrikan. Keesaan adalah bagi Allah SWT Yang Maha Tinggi dan Maha Suci, Yang Satu--al-Wahid, Yang Unik--al-Fard, Yang Abadi--as-Shamad.

Wa min Allah at tawfiq

© Islamic Supreme Council of America,
http://www.islamicsupremecouncil.org

Rahasia di Balik Tanggal 27 Rajab

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Jakarta, September 2004

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Rajab adalah bulannya Allah (swt), Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku,” demikian sabda Nabi (s).  Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram, di mana Allah (swt) melarang hamba-hamba-Nya untuk berperang, berkelahi, atau membunuh apapun.

Rajab adalah bulan di mana Allah (swt) memanggil Nabi (s) ke Hadirat-Nya. Oleh karena itu bulan Rajab sangat penting, Allah (swt) menurunkan Rahmat-Nya pada kita semua.  Allah (swt) adalah Al-Rahman, Yang Maha Pemurah. Al-Rahman juga bermakna bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tercipta dari Nama-Nya Al-Rahman.  Ketahuilah, dari sifat al-Rahman tersebut, Allah (swt) menciptakan semua makhluk, termasuk langit dan bumi dan semuanya adalah untuk manusia. “Kuciptakan semua ini untuk hamba-hamba-Ku,” dan seluruh ciptaan-Nya berada di bawah kendali manusia. Dari sifat ar- Rahman, Allah (swt) memanggil Nabi (s) ke Hadirat-Nya dan menghiasinya dengan nama-Nya yang Indah dan mengirimkan kembali ke dunia untuk membimbing umat.  Inilah tanda bahwa Allah (swt) mencintai kita semua.

Ketika Nabi (s) melaksanakan perjalanannya menuju Hadirat Allah (swt), Dia telah menyandangkan beliau dengan Asma-Nya.  Hanya Allah (swt) yang mengetahui berapa lama Nabi (s) berada di Hadirat-Nya.  Ketika Isra Mi’raj tersebut kita mengetahui bahwa Nabi (s) hanya berjarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi di hadapan Allah (swt) [QS 53:9], dan ketika Allah (swt) mengirimkan kembali Nabi (s) ke dunia, Allah (swt) menyandangkan beliau dengan Asma al-Rauf, Yang Maha Pengasih.  Sebagaimana sabda Nabi (s), “Aku adalah Qasim dan aku adalah Mahi,” ini adalah atribut-atribut beliau sebagaimana Allah (swt) memberikan atribut tersebut kepada kekasih-Nya. Oleh karena itu Nabi (s) memiliki sifat menyayangi dan memaafkan. Nama al-Qasim hanya untuk Nabi (s), tak seorang pun boleh memakai nama tersebut.

Al-Qasim sebagaimana Atribut Allah (swt) yang diberikan kepada Nabi (s), dan hanya Nabi (s) yang memiliki otoritas untuk memakai nama itu, di mana dengan nama itu Nabi (s) menjalankan otoritasnya untuk membagi rahmat Allah kepada alam semesta.  Seperti kita pada saat ini sedang menjalankan suatu aktifitas, itu semata-mata berasal dari rahmat Allah (swt) yang dibagikan oleh Nabi (s).

Al-Mahi, Yang Maha Menghapus, Allah (swt) memberikan dari sifat tersebut kepada Nabi (s) untuk menghapuskan dosa-dosa kita melalui syafaat yang diberikan Allah (swt) kepada Nabi (s).  Beliau mengambil dosa kita, seperti Allah (swt) juga juga mengubah kita dari yang sakit menjadi sembuh. “Aku adalah Thaa Haa,” Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada-Ku.”  “Tha Haa maa anzalnaa alaykal Qur’ana li tasiqaa”. Apa arti di balik nama Thaa dan Haa? Hanya Allah (swt) dan Nabi Muhammad (s) yang mengetahuinya, dan kalau Nabi (s) mengetahuinya, maka para awliya juga diberikan pengetahuan tentangnya oleh Nabi (s). Kami telah menurunkan Al-Qur’an bukan untuk menjadi beban atau memberikan kesulitan kepadamu tetapi untuk mengingat-Ku, untuk menjadi hamba-Ku, untuk berdoa kepada-Ku, untuk membersihkan hamba-Ku dan sebagai Cahaya di dalam kalbu mereka.

Allah (swt) mengirimkan al-Qur’an untuk menyiapkan umat, mengapa Allah (swt) memanggil Nabi (s) pada tanggal 27 Rajab untuk Isra Mi’raj?  Dan Allah (swt) menurunkan Laylat ul-Qadar pada 27 Ramadan?  Ada rahasia di balik tanggal-tanggal tersebut.  Mengapa tidak diturunkan pada tgl 25 atau 23?  Laylat ul-Qadr, 27 Ramadan, dan Isra Mi’raj, 27 Rajab adalah sesuatu yg tetap.  Kita berpuasa pada tanggal 27 Rajab.  Setiap kita melewati 27 Rajab atau 27 Ramadan hati kita senang tetapi kita tak pernah bertanya?  Awliya bertanya, “Mengapa Ya Allah, apa Rahasia di balik tanggal 27 tersebut?” Dan Allah (swt) memberi jawaban kepada mereka melalui Nabi (s).  “Setelah 27 adalah 28, dan alfabet Islam seluruhnya berjumlah 28 huruf, di mana huruf ke-28 adalah Ya”. Artinya pada malam ke-27 Allah (swt) membawa Nabi (s) untuk melakukan Isra Mi’raj dan mempersiapkan beliau untuk malam ke-28. Huruf ke-28 adalah huruf terakhir, yaitu “Ya”, yang berasal dari nama Nabi (s), “Yasin”, atribut beliau yang paling istimewa.

Alif adalah huruf pertama dalam abjad dan merupakan simbol awal.  Nama Allah (swt) diawali dengan alif. “Dari Alif hingga Ya, Aku siapkan engkau, wahai Nabi (s), untuk ke-28 Samudra Ilmu Allah (swt).” Allah (swt) menyandangkan Ilmu-Nya kepada Nabi (s).  Sesuatu yang berasal dari akhirat dimulai dengan Alif, Islam dimulai dari huruf alif, Ihsan diawali dengan alif, Iman diawali dengan alif. Sementara Muhammad (s), diawali dengan huruf mim.  Islam yang diawali alif, menjadi Muslim yang diawali dengan huruf mim, Iman yang diawali dengan alif menjadi Mukmin yang diawali dengan mim, oleh sebab itu, di antara alif dan mim adalah area transisi di mana Allah (swt) mempersiapkan Nabi (s).

Huruf terakhir Ya merupakan huruf awal nama Nabi (s), Yasin.  Yasin adalah jantungnya Al-Qur’an, Intisari Al-Qur’an, ketika manusia mati mereka membacakan surah Yasin (akhir huruf dalam abjad Islam dan akhir kehidupan dibacakan Yasin). Allah (swt) memberikan rahasia setiap huruf dari surat Yasin tersebut, di dalam setiap huruf Al-Quran berarti lebih dari 500.000 makna. Setiap alif bisa berarti berbagai macam makna sesuai tempatnya. Setiap huruf di dalamnya mempunyai arti-arti sendiri, setiap huruf seperti cahaya ilmu pengetahuan.

Tidak semua hamba-Nya mengetahui rahasia ilmu tersebut, seperti perumpamaan bahwa Ilmu Nabi (s) tak setetes pun dari Samudra Ilmu Pengetahuan Allah (swt), dan ilmu Sahabat dibanding Nabi (s) seperti setetes dari samudra ilmu Nabi (s) dan ilmu awliya dibanding Sahabat seperti setetes dari ilmu para Sahabat, demikian pula ilmu ulama dibanding ilmu awliya seperti setetes dari samudra ilmu awliyaullah.

Kita mengetahui bahwa ilmu kita sangatlah sedikit, kita tidak mengetahui hal itu semua, tetapi tetap saja kita arogan bahwa kita adalah orang yang berilmu, congkak.  Kita merasa bahwa diri kita adalah orang yang penting, kita ingin orang tahu bahwa kita adalah orang yang berilmu. Lebih baik bagi kalian bila kalian duduk di pojok, menghinakan diri dan merasa tak mengetahui apapun. Jangan membanggakan diri kalian di hadapan orang lain, karena ketika kalian membanggakan diri, maka Iblis segera masuk ke dalam diri kalian.  Nabi (s) adalah manusia yang sangat merendahkan dan menghinakan diri di hadapan Allah (swt), sehingga Allah (swt) mengangkat derajat beliau.

Jika seseorang bersifat rendah hati maka Allah (swt) akan mengirimkan orang tersebut hamba-hamba-Nya yang terbaik dari para waliullah untuk membimbingnya.  Tetapi kepada hamba-Nya yang arogan—takabur, Allah (swt) pun mengirimkan orang-orang-Nya juga, dari segi kuantitas—banyak, tetapi mereka bukanlah hamba-hamba-Nya yang terbaik, para awliya-Nya. Kita boleh berbangga karena kita mencintai Nabi (s), kita boleh bangga karena kita memeluk Islam, tetapi kita tidak boleh berbangga karena amal kita.  Amal yang kita banggakan akan kembali kepada kita bila kita menyombongkan amal di hadapan orang lain atau di hadapan-Nya.

Seperti juga kita tahu nama-nama hewan, seperti keledai atau singa. Maka seperti Singa, ia memiliki ribuan nama yang sama, di Inggris disebut Lion, di Perancis Leon, ada berapa banyak bahasa di dunia ini? Bila di Cina saja ada ribuan bahasa. Maka singa pun memiliki begitu banyak nama. Begitu pula siapa namamu??!! Ketika orang menanyakan nama kita kita membuka KTP, Kartu nama, Oo..Sunarto, Suharto, Bambang. Kita bahkan kadang tak tahu siapa yang memberikan nama kita, siapa yang memberikan nama kalian, kita tak tahu nama kita sesungguhnya, hanya Allah (swt) yang tahu nama kita sebenarnya. Allah (swt) memberikan nama hanya kepada Muhammad (s) dan nabi-nabi yang tercantum di dalam Al-Quran. Tetapi kita tak mempunyai nama dan identitas itu. Nama kita hanya berasal dari orang tua kita. Kita tidak memiliki kejelasan status kita di dunia ini, kita tak memiliki nama, kita adalah bukan apa-apa, tetapi tetap saja sombong dan membanggakan diri di hadapan mahluk maupun di hadapan- Nya.

“Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya”, bahkan saat ini pun kita tidak tahu apa nama kita. Mereka pikir diri mereka ulama, syekh, politisi. Wahai manusia letakkan dirimu serendah mungkin, janganlah sombong di hadapan mahluk-Nya bahkan di hadapan Allah (swt). Bila kita meletakkan diri kita serendah mungkin, maka Allah (swt) akan mengangkat derajat kita. Ketika Allah (swt) membuka hati hamba tersebut, maka hamba itu menjadi awliya-Nya, maka pada saat itu Allah (swt) memberikan rahmat-Nya kepada para awliya-Nya. Wali-wali Allah (swt) tidak pernah bersedih hati.

Jika kita berniat mencari wali Allah, maka kita pasti akan menemukan mereka. Mereka bisa datang melalui mimpi, atau melalui berbagai cara lain, tetapi kita harus mulai dengan niat untuk menemui mereka, dan ketika awliya berada di hadapan kita, jangan lepaskan kesempatan itu. Saya hanya seperti kalian, saya bukan wali, saya pun mencari wali, saya tidak pernah mengatakan bahwa diri saya adalah seorang wali, hasha! Saya memang berada di pintu seorang wali, Mawlana Syekh Nazim (q).  Saya bukan apa-apa, selama 55 tahun saya mengikuti seorang wali besar, Sulthanul awliya Syekh Nazim (q), beliaulah yang membawa kita semua ke hadirat Nabi (s). Ilmu yang saya berikan kepada kalian, berasal dari beliau. Mata tak mungkin berada di atas alis, tak pernah!! Dialah Syekh Nazim (q), pembimbing kita semua, Syekh kita semua, Sultan untuk kita semua. Kita semua adalah murid beliau. Jika beliau ingin membuka hati kita untuk berbicara maka beliau akan memberikan otoritasnya kepada hati kita dan kita bisa berbicara. Setiap orang senang mendapat buah-buahan segar, mereka tak suka dengan buah yang sudah busuk, buah yang tidak segar. Awliyaullah selalu mendapatkan buah yang segar untuk kalian, karena hati mereka selalu tersambung kepada para Sahabat, Abu Bakar ash-Shiddiq (r), Ali bin Abi Thalib (r, kw) dan mereka mendapatkannya dari kalbu Rasulullah (s).

Dengan kerendahan hati para awliya, maka Allah (swt) memberi mereka ilmu untuk membimbing dan memperbaiki umat. Mereka tak perlu mempersiapkan makalah untuk bicara di hadapan orang-orang. Makalah untuk orang biasa, sedangkan ilmu awliya berasal langsung dari Nabi (s). Makalah ulama, profesor tidaklah seperti buah yang segar tidak baru, sedangkan yang disampaikan awliya adalah informasi yang masih segar yang berasal dari Syekhnya dan itu semua berasal dari hati Rasulullah (s).

Dengan jalan itu mereka selalu menerima informasi yang segar yang disampaikan kepada kita, informasi yang berguna untuk memenuhi kebutuhan saat itu juga. Syekh kita mempunyai begitu banyak wakil yang mempunyai otoritas untuk menyampaikan hal tersebut. Allah (swt) memiliki 124.000 wali, setiap wali memiliki level yang berbeda, dari yang terendah hingga tertinggi. Semua wali dari yang terendah hingga tertinggi mampu melihat cahaya Rasulullah (s), cahaya itu bersinar begitu terangnya. Cahaya itu selalu kontinu mengalir ke dalam kalbu para awliya seperti air terjun. Janganlah kalian bayangkan bahwa cahaya hanya mempunyai 20 warna saja, tetapi bisa berjuta-juta warna.

Setiap wali melihat cahaya warna yang berbeda sesuai dengan levelnya masing-masing. Kadang-kadang ada wali yang tingkatannya terendah hanya bisa menangkap dua warna: biru dan merah saja, sementara yang lain hanya kuning dan hijau saja. Tetapi sebenarnya di antara dua cahaya tersebut ada berjuta-juta warna lainnya. Awliya, ketika melihat hati Nabi (s) mereka melihat cahaya. Tetapi awliya yang levelnya paling tinggi, wali yang memiliki level tertinggi dapat melihat jutaan cahaya, tetapi ia pun sangat rendah hati. Karena kerendahan hatinya itu, ia tidak mengatakan jutaan warna, jutaan informasi yang ia dapatkan dari kalbu Rasulullah (s). Ia dapat melihat dan menyampaikan, ia bisa mengambil ilmu yang tersembunyi dari kalbu Nabi (s). Di setiap jutaan waktu akan terjadi jutaan cahaya yang berbeda, begitu pula jutaan informasi yang berbeda.

Setiap wali diberi anugerah yang berbeda-beda, meskipun levelnya berbeda mereka memiliki penampilan yang sama. Sehingga kadang mereka yang berada di level terendah menyangka dirinya sama. Wali di level tertinggi atau terendah bisa menyerap informasi dari hati Rasulullah (s) untuk disampaikan kepada kita semua. Dari wali tertinggi yang memiliki jutaan cahaya, maupun yang terendah, yang hanya mampu menangkap satu atau 2 warna, penampilan mereka adalah sama. Setiap wali bisa saja mempunyai 1000 wakil untuk menyampaikan informasi dari kalbu Nabi (s). Meskipun demikian setiap wali memiliki cahaya yang berbeda-beda, bisa saja wali di area ini hanya melihat warna merah, sementara yang lain biru dan lain-lain. Tetapi mereka terlihat sama walaupun sebenanrnya berbeda. Wali di level yang lebih rendah mengira bahwa dirinya sama dengan wali yang lain, tetapi wali di level yang lebih tinggi, mereka dapat mengetahui di mana posisi mereka sebenarnya.

Setiap wali mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk bicara. Meskipun demikian di hadapan Syekh Nazim (q) mereka tampak sama, tetapi Syekh mengetahui kemampuan mereka, jadi kita jangan mencampur-adukkan mereka seolah-olah sama padahal mereka memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain sesuai levelnya masing-masing. Kemampuan ilmu itu berasal dari kalbu Mawlana Syekh Nazim (q), Sultan kita.

Mawlana Syekh mengatakan bahwa pada tanggal 27 Rajab akan terjadi pembukaan yang besar kepada umat. Setiap tiran, penguasa yang zalim akan diruntuhkan. Bukan hanya tiran dari golongan non muslim tetapi juga dari seluruh makhluk-Nya. Tiran non muslim maupun tiran muslim akan kalah, musnah, dan orang yang memperoleh pengampunan akan menggantikan posisi mereka.

Pembukaan ini dimulai pada tanggal 27 Rajab, dan pada tanggal 15 Syakban seluruh umat akan mengetahui informasi ini. Siapa pun yang menggunakan Islam untuk keuntungan mereka, akan dibersihkan satu per satu untuk kemunculan Sayyidina Imam Mahdi (a), tidak akan ada penundaan lagi. Penderitaan umat telah sangat berat. Dari informasi melalui kalbu Syekh Nazim (q), bulan Rajab ini adalah waktu yang sangat penting, awliyaullah menerima informasi bahwa pada tanggal 27 Rajab akan dimulai penghancuran terhadap para tirani tersebut.

Bisa saja ada kejadian-kejadian yang luar biasa besar di hadapan kita, kejadian yang tak pernah diperkirakan kita semua. Dan pada tanggal 15 Syakban umat akan menerima informasi apa yang sedang terjadi. Zaman ini adalah zamannya Imam Mahdi (a), banyak ulama yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan politik. Mereka akan dihancurkan satu per satu, tahap demi tahap. Bulan Rajab adalah pembalasan kepada para tiran tersebut.

Berbahagialah khususnya mereka yang telah melaksanakan khalwat. Mereka seperti bintang yang bersinar, dan menjadi yang baik di antara kita, peganglah tangan mereka.

Wa min Allah at Tawfiq


Zikir di Bulan Rajab

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

4 Oktober 2001

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Rasulullah SAW telah menyebutkan segala hal yang akan terjadi. Beliau telah menyebutkan semua tanda yang akan muncul sebelum kiamat. Beliau berkata kepada para sahabat, “Aku melihat kesengsaraan datang sebagai suatu malam yang gelap...[1] Pada saat itu orang yang duduk lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang mengendarai kendaraan.”

Maksud hadis di atas berarti tinggal di rumah dan tidak pergi ke manapun. Jangan pergi ke warung kopi atau ke pusat perbelanjaan. Tidak masalah bila kalian harus pergi bekerja, tetapi kalian harus berangkat dari rumah ke tempat kerja kemudian dari tempat kerja langsung kembali ke rumah—tidak pergi ke mana-mana lagi.

Dalam hadis tersebut kita mendengar sebuah gambaran mengenai apa yang akan terjadi. Siapa yang berada di dalam rumah akan selamat. Siapa yang berkeliaran di luar akan berada dalam kesulitan. Siapa yang duduk akan lebih aman. Dan siapa yang mengendarai kendaraannya akan berada dalam situasi yang paling buruk. Setiap hari setiap murid harus melakukan zikir:

700 kali astagfirullah wa atubu ilayh,
700 kali la hawla wa laa quwatta illa-billah il-‘aliiy il-‘azhiim
700 kali hasbunallah wa ni’mal-wakiil
700 kali bismillahir rahmaanir rahiim
700 kali Ya Wadud
5000 kali Allah, Allah dengan lidah
5000 kali Allah, Allah dalam hati
2000 kali shalawat
100 kali Surat al-Ikhlash

Jika kalian tidak sanggup melakukannya, paling tidak lakukan salat hifzh (maksudnya shalat memohon perlindungan) sebanyak 2 rakaat agar kita terlindung dari penderitaan yang datang dari atas maupun dari bawah. (Salat ini dilakukan setelah ‘Isya, rakaat pertama setelah al-Fatiha dibaca al-Ikhlash 2 kali dan rakaat kedua al-Ikhlash 1 kali)

Bagi orang yang menjaga adabnya di bulan Rajab, telah dijamin sebuah kunci untuk menerima inspirasi dan informasi surgawi. Jika kalian melakukan awrad (latihan spiritual) dengan baik maka kalian akan mendapatkan kunci itu. Kunci tersebut akan membuka hati kalian untuk bisa melihat dan mendengarkan apa yang sebelumnya tidak kalian perkirakan.

Semoga Allah SWT memafkan dan mendukung kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Sawfa tud’iiu narin min ardi Najd yasyraibu laha ‘anaq al-ibli bi Basra”—“Hari Akhir tidak akan datang sampai ada api yang dipancarkan dari Hijaz yang akan menerangi leher unta-unta di Basra.” [2]

Kita berpikir bahwa hal ini terjadi dengan adanya perang antara Kuwait dan Irak, tetapi ternyata terjadi sekarang. Panas dari api itu akan mencapai daerah antara Basra dan Najd atau Hijaz.

Saat itu tidak ada tempat yang aman di bumi ini, kecuali di Mekah, Madinah, dan Syam (Damaskus). Tetapi jika Allah SWT menghendaki, tak ada yang dapat melukai kalian. Bahkan jika sebuah bom atom jatuh tepat di samping kalian, kalian tidak akan terluka. Ada 7 kelompok orang-orang suci, Budala, Nujaba, Nuqaba, Awtad, Akhyar, Jinn yang akan melindungi orang-orang yang telah ditakdirkan untuk tetap hidup. Jika kalian tewas, maka kalian mendapat predikat syahid—dan akan masuk surga. Tetapi jika kalian hidup, kalian akan tinggal bersama Imam Mahdi AS, dan juga akan masuk surga. Ini lebih baik.

Kalian harus selalu melawan ego kalian, khususnya di bulan ini. Jika ego mengatakan pergi ke kiri, maka pergilah ke kanan, jika dia berkata “makan”, jangan makan; jika dia bilang “pergi belanja”, tinggallah di rumah.

Sekarang akan turun suatu tajali yang kuat, yang merupakan manifestasi dari Kekuatan Ilahi. Jangan pergi keluar—ke mall, tempat hiburan, ke pizza, menghabiskan waktu berjalan-jalan. Tinggallah di rumah, lakukan zikir dan baca Al-Qur’an.

Bagi wanita yang suka berjalan-jalan, sebaiknya sekarang tinggal di rumah. Sebab di bulan ini ada bahaya. Siapa yang tertangkap melakukan suatu kesalahan maka tajalli dari Jalal (Kekuatan Ilahi) akan menghukumnya. Jadi berhati-hatilah. Jangan membuat kesalahan.


Catatan kaki

[1] Abu Musa al-Asy’ari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebelum jam-jam terakhir akan ada suatu huru-hara seperti suatu malam yang gelap di mana seseorang yang taat di pagi hari akan menjadi orang yang tidak taat di malam harinya, atau sebaliknya seorang yang taat di malam hari akan menjadi tidak patuh di pagi harinya. Pada masa itu siapa yang duduk akan lebih baik dari pada yang berdiri dan siapa yang berjalan akan lebih baik dari pada yang berlari. Jadi marilah kita tundukkan diri kita untuk berdoa. Jika ada orang yang datang kepada salah seorang di antara kamu, biarkan dia menjadi seperti lebih baik dari kedua anak Adam AS. (Sunan Abu Dawud, buku ke-35 “Kitab Al-Fitan Wa Al-Malahim” Nomor 4246)

[2] Abu Hurayra RA melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari Kiamat tidak akan datang sampai terdapat api yang berpijar di bumi Hijaz yang akan menerangi leher unta-unta di Basra. (Sahih Muslim, Buku ke-041, Nomor 6935)

Adab Bulan Rajab

Adab ini dilakukan sehari sebelum masuknya Bulan Rajab, antara Asar dan Magrib dan diulang sebagai adab harian bagi para salik (pejalan), kira-kira dimulai 1,5 jam sebelum Salat Subuh, tanpa membaca Doa Agung yang ditransmisikan oleh Grandsyekh Sultan Awliya Syekh `Abdullah Fa`iz ad-Daghestani QS (ad-du`aa ul-maatsuur li Sulthan al-Awliyaa) yang hanya dilakukan pada malam pertama.

Mandi Suci (ghusl) antara Salat Asar dan Magrib.
Kenakan pakaian terbaik.
Gunakan wangi-wangian yang enak, khususnya bagi pria.
Lakukan Salat Sunnat Wudu 2 rakaat.

Baca:
Yaa Rabbil `Izzati wal `Azhamati wal Jabbaruut
Wahai Tuhan yang memiliki Kemuliaan, Keagungan dan Memaksakan Kehendak-Nya.

Bergerak 3 langkah ke depan, ke arah kiblat dari posisi salat Anda.

Niat:
Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah, nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii haadzal-jaami`)

Aku berniat 40 (hari mengasingkan diri), aku berniat untuk beritikaf, aku berniat khalwat, aku berniat mendisiplinkan (ego), aku berniat mengadakan perjalanan di jalan Allah SWT, demi Allah SWT di masjid ini.

Baca:
Yaa Haliim 100 kali (untuk menghilangkan amarah)
Yaa Hafizh 100 kali (untuk menghilangkan penderitaan)

Bayangkan diri Anda berada di Taman yang diberkati (al-Rawdhah) di depan makam Nabi SAW menghadap Rasulullah SAW dan ucapkan 100 kali selawat:

Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Muhammad SAW dan kepada keluarga Muhammad SAW

Miliki niat bahwa Allah SWT akan membuat kita berada dalam hadirat spiritual Rasulullah SAW, Imam Mahdi AS dan para Syekh kita.

Niat:
Yaa Rabbii innanii nawaytu an ataqaddama nahwa bahri wahdaniyyatika ilaa maqaamil fanaa-i fiika falaa tarudanii yaa Rabbii, yaa Allaah khaa-iban hatta tuwash-shilanii ila dzaak al-maqaam al-maqaamul fardaanii

Ya Tuhanku, aku bergerak dan melangkah ke depan untuk meraih Maqam al-Fana dalam Hadirat Ilahiah. Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu untuk melenyapkan diriku dalam Hadirat-Mu, Ya Rabbi, Aku bergerak menuju Samudra Keesaan-Mu, Samudra Wahdaniyyah, Ya Rabbi janganlah Engkau menolakku hingga aku mencapai Maqam al-Fardani yang unik.

Yaa Rabbi, yaa Allaah haytsu haadza as-syahru huwa syahruka ji’tuka dha-ifan wa naawiyan an a`mala `amalan biduun `iwadhun aw ay-yakuuna fiihi thalaban lil-fadhiilati qaasidan iyyaaka Ilaahii anta maqshuudi wa ridhaaka mathluubi

Ya Rabbi, karena bulan ini adalah bulan-Mu, aku datang kepada-Mu sebagai tamu yang lemah dan berniat untuk beribadah kepada-Mu tanpa meminta apa pun sebagai balasannya. Tuhanku, Engkaulah maksud dan tujuanku, dan hanya rida-Mu-lah yang kutuju. Aku mohon janganlah Engkau menolakku.

Ya Rabbi, kullu `umrii qad amdhaytuhu fil ma`aashii wasy-syirkil-khafii. Wa innanii uqirru bi-annanii lam aati ilaa baabika bi `amalin maqbuulin `indaka anta-Allaahul-ladzii laa ya’tii ahad ilaa baabika bi `amalihi bal bi-fadhlika wa juudika wa karamika wa ihsaanika. Anta Allaahul-ladzii la taruddu `abdan jaa-a ilaa baabika falaa taruddanii yaa Allaah

Ya Rabbi, seluruh hidupku telah kuhabiskan dalam kekafiran, syirik dan berperilaku buruk. Kunyatakan sepenuh hati bahwa aku tidak pernah melakukan satu amalan pun yang Engkau terima. Engkau adalah Allah SWT, Yang tidak pernah mengusir orang yang datang ke pintu-Mu. Engkau adalah Allah SWT, tiada seorang pun yang datang ke pintu-Mu dengan amalannya, melainkan dengan anugerah dan rahmat-Mu.

Yaa Rabbii, kullu umuuri fawwadh-tuhaa ilayka hayaatii wa mamaatii wa ba`da mamaatii wa yawmul hasyr. Kullu umuuri hawwaltuhaa `indaka. Wa fawwadh-tu amrii ilayka, laa amliku min amri nafsii syay-an. Laa naf`an, wa laa dharran, wa laa mawtan, wa laa hayaatan, wa laa nusyuuran. Kullu umuuri wa hisaabi wa su-aalii wa jawaabii hawwaltuhu `indaka yaa Rabbii yaa Allaah. Naashiiyati bi-yadika wa anaa `aajizun `anil jawaabi wa law mitsqaala dzarratin

Ya Rabbi, aku telah menyerahkan segalanya ke dalam genggaman-Mu: kehidupanku, kematianku, kehidupanku di Hari Kemudian, dan Hari Kiamat. Seluruh hartaku telah kupersembahkan kepada-Mu dan Engkaulah yang mengawasi diriku. Ya Rabbi, aku tidak memiliki apa pun dengan ego dan jiwaku. Aku tidak bisa mendatangkan kebaikan atau keburukan kepada diriku, atau hidup kepada diriku atau kematian kepada diriku, tetapi aku telah menyerahkan segalanya kepada-Mu. Seluruh penilaian-Mu terhadapku dan semua pertanyaan-Mu kepadaku serta seluruh jawabanku telah kuserahkan kepada-Mu. Apa pun yang ingin Kau lakukan terhadapku, Engkau melakukannya. Leherku ada dalam genggaman-Mu, aku tidak berdaya dalam menjawab pertanyaan-Mu, bahkan jawaban terkecil pun aku tidak bisa menjawabnya. Dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaan serta tidak adanya harapan ini aku datang ke pintu-Mu.

Law kaana laka yaa Rabbii baabayni ahadahumaa mukhashash-shun littaa-ibiina min `ibaadika al-mu’miniin wal aakharu littaa-ibiina min `ibaadika al-`aashiin. Ji’tuka yaa Allaah nahwu baabik alladzii yahtaaju an yadkhula minhu `ibaaduka al-`aashiin. Wa innanii uqirru wa a`atarif annahu yajibu an ujaddida islaamii wa iimaanii min haadzal baab li-izh-haaril `ajzi

Ya Rabbi, jika Engkau mempunyai 2 pintu bagi hamba-Mu untuk memasukinya, satu untuk semua hamba-Mu yang beriman dan satunya lagi untuk hamba-Mu yang tidak beriman. Aku datang kepada-Mu melalui pintu yang digunakan oleh orang tidak beriman dan aku percaya bahwa inilah satu-satunya pintu masuk untukku. Aku menyatakan pada-Mu bahwa aku harus memperbarui Iman dan Syahadatku dari pintu ini, untuk menunjukkan kerendahan hati dan ketidakberdayaanku.

Wa haadzaal `amalu huwa awwalu `amalin lii ba`da maa syahidtu bil Islaami haqqan. Yaa Rabbii wa Anta wakiilii, yaa Wakiil haytsu naquulu Allaaha `alaa maa naquulu Wakiil wa Syahiid.

Amal ini dan syahadat ini adalah amal pertama bagiku setelah aku mengucapkan syahadat dan masuk Islam dan Engkau adalah Pelindungku di mana kami mengatakan, Allah SWT adalah Pelindung dan Saksi terhadap apa yang kami ucapkan.

Ucapkan 3 kali syahadat:
Asy-hadu anlaa ilaha illallaah wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah SWT.

Menyatakan kembali 5 Rukun Islam:
Iqaamush-shalaati wa iitaa-uz-zakaat wa shawmu ramadhaana, wa Hajjul bayt
Mendirikan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadan, dan ibadah Haji ke Rumah Allah SWT.

Menyatakan kembali Rukun Iman:
Aamantu billaahi wa malaa-ikatihi wa kutubihi wa rusulihi wal yawmil aakhiri wa bil qadri khayrihi wa syarrihi min Allahi ta`alaa

Aku percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, utusan-utusan-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk—adalah berasal dari Allah SWT Yang Maha Tinggi.

Yaa Rabbii, yaa Allaahu kam zhahara minnii minadz-dzunuubi wal ma`aashii zhaahiran wa baathinan wa sirran min `ahdi iijaadi dzarratii wa ruuhii wa dukhuuli ruuhii ilaa jismii wa zhuhuurii minal `aalamid-dunyaa ilaa yawminaa hadzaa raj`atu `anil jamii`i ialayka bit-tawbati wal istighfaar

Ya Rabbi, ya Allah, sejak Hari Perjanjian (Alastu bi Rabbikum, Qaalu bala)—apa pun janjiku kepada-Mu, aku menerimanya dan berjanji untuk melaksanakan semuanya. Ya Allah SWT, Ya Tuhanku, sejak hari di mana Engkau menciptakan atomku, zarahku, dan sejak hari di mana Engkau meniupkan rohku, dan sejak hari di mana jiwaku muncul dari tempat yang benar-benar abstrak menjadi eksis, hingga kini, berapa banyak ketidakpatuhan telah kulakukan, dari zarahku, jiwaku dan tubuhku baik secara fisik maupun spiritual. Aku menyesali semuanya dan aku menyesali apa yang telah kulakukan dan aku kembali kepada-Mu untuk memohon ampunan dan tobat.

Wa innanii qad dakhaltu wa salaktu fii rahmaati syahrika hadzaal mubaarak falaa taruddnii yaa Rabbii `an baabika wa laa tatrukniii li ahwaali nafsii wa law lilahzhah wa anaa astaghfiruka

Ya Rabbi, aku masuk dan bergerak ke dalam Samudra Berkah dari bulan-Mu yang penuh pujian. Ya Rabbi, janganlah Engkau menolakku dari pintu-Mu dan janganlah Engkau meninggalkan diriku pada egoku walaupun hanya dalam sekejap mata dan aku memohon ampunan-Mu.

Istighfaar:
Astaghfirullaah (100 kali)

(kemudian duduk)

Lanjutkan dengan awrad harian Naqsybandi tingkat mapan (Adzkaar al-yawmi: dzikir ahlul `azhiim), mulai ayat Aamanar-Rasuul sampai akhir.

Catatan: bagian ini dilakukan sebagai adab harian di bulan Rajab tetapi tidak dilakukan dalam adab memasuki bulan Rajab.

Aamanar-Rasuul [QS 2:285-286]
Alam Nasyrah (7 kali)
Al-Ikhlash (11 kali)
Al-Falaq (1 kali)
An-Naas (1 kali)
Laa ilaha illallaah (9 kali)
Laa ilaha illallaah Muhammad Rasuul Alaah (1 kali)
Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa sallim (10 kali)

Sayyid ash-Shalawaat:
`Alaa asyrafil `aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat
`Alaa afdhalil `aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat
`Alaa akmalil `aalamiina Sayyidinaa Muhammadinis shalaawaat

Shalaawaatullaahi ta`aalaa wa malaa-ikatihii wa anbiyaa-ihii wa Rusulihii, wa jamii`i khalkihii `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammad, alayhii wa `alayhimus-salaam wa rahmatullaahi ta`aalaa wa barakaatuh, wa radhiyallaahu tabaaraka wa ta`aalaa `an saadaatina ash-haabi Rasuulillaahi ajma`iin. Wa `anit-taabi`iina bihim bi ihsaan, wa `anil a-immatil mujtahidiinal maadhiin wa `anil `ulamaa-il muttaqiin, wa`anil awliyaa-i shaalihin, wa am-masyaayikhina fii thariqatin Naqsybandiyyatil `aliyyah Qaddas Allaahu ta`aalaa arwaahahumuz zakiiyah, wanawwarallaahu ta`aalaa adhrihatahumul mubaarakah, wa a`aadallaahu ta`aalaa `alaynaa min barakaatihim wa fuyuudhaatihim daa`iman wal hamdullilaahi rabbil `aalamiin, al-Faatihah

Ihda:
Ila hadhratin Nabiyyi SAW wa ‘aalihi wa shahbihil kiram, wa ilaa arwaahi ikhwaanihi minal-anbiyaa’i wal mursaliin wa khudamaa-i syaraa-ihim wa ilaa arwaahil a-immatil arba`ah wa ilaa arwaahi masyaayikhinaa fii thariiqatin Naqsybandiyyatil ‘Aliyyah, khaassatan ila ruuhi imamith-thariqati wa Ghawtsil khaliiqati Khwaajaa Bahaauddiin Naqsyband Muhammad al-Uwaysiyil Bukhaari, Wa ‘ilaa hadhrati Mawlaanaa Sulthaanil Awliya Syaykh ‘Abdullah Daghistaanii, wa Mawlaanaa Syaykh Muhammad Naazhim al-Haqqaani wa ilaa saa-iri saadaatinaa wash-shiddiqiina al-Faatiha

Surat al-Fatihah (dengan niat telah disandangkan dengan tajjali yang turun ke Madinah)

Allaah Huu Allaah Huu Allaah Huu Haqq (3 kali)

Bayangkan bahwa diri kita sedang berada di antara Tangan Allah SWT

Zikir:
Allah Allah 5000 kali (dalam hati)
Allah Allah 5000 kali (bersuara)

Selawat:
Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa sallim
(1000 kali setiap hari, kecuali Senin, Kamis dan Jumat 2000 kali)

Salat Najat
Salat Syukur
Salat Tasbih

Catatan: ketiga salat ini dilakukan sebagai adab harian di bulan Rajab tetapi tidak dilakukan pada adab memasuki bulan Rajab.

Yaa Shamad (500 kali)
Dengan niat untuk menghilangkan aspek buruk dari ego.

Astaghfirullaah (500 kali)
Dengan niat memohon kepada Allah SWT agar mengampuni dosa-dosa kita, sejak diciptakannya jiwa kita sampai hari ini.

Astaghfirullaah (500 kali)
Dengan niat bahwa sejak hari ini sampai hari terakhir di dunia, Allah SWT akan melindungi kita dari dosa-dosa.

Alhamdulillaah (500 kali)
Sebagai rasa syukur bahwa Allah SWT tidak menciptakan kita sebagai umat dari nabi-nabi yang lain

Alhamdulillaah (500 kali)
Sebagai rasa syukur bahwa Allah SWT telah menciptakan kita sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW, dan memuliakan kita dengan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, `Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, Syekh Sayyid Syarafuddin ad-Daghestani QS, dan memuliakan kita dengan Grandsyekh Syekh `Abd Allah al-Fa`iz ad-Daghestani QS, dan memuliakan kita dengan menjadikan kita sebagai pengikut Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS

Doa Agung dari Sulthan al-Awliyaa (ad-Du`a ul-Maatsuur)

Sumber:
The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions
by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
© 2004, Islamic Supreme Council of America

Adab Harian antara Magrib dan Isya di Bulan Rajab

Niat:
Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah, nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii haadzal-jaami`)

Aku berniat 40 (hari mengasingkan diri), aku berniat untuk beritikaf, aku berniat khalwat, aku berniat mendisiplinkan (ego), aku berniat mengadakan perjalanan di jalan Allah SWT, demi Allah SWT di masjid ini.


Surat al-An`am
(kalau memungkinkan, baca setiap hari)

Baca satu juz Alquran setiap hari
(sebagai bagian dari awrad harian)

Dalail Khayrat
(sebagai bagian dari awrad harian)

Awrad harian

Puasa
Perbanyak puasa, khususnya pada hari Senin dan Kamis, juga pada Laylat al-Raghaib (Malam Jumat pertama di bulan Rajab), pertengahan Rajab dan pada tanggal 27 Rajab.


Sumber:
The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions
by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
© 2004, Islamic Supreme Council of America