Wudu

Dalam hadis mengenai orang buta, Nabi SAW berkata kepada orang buta itu, “Langkah pertama adalah pergilah ambil wudu.”  Itu berarti wudu adalah  awal (pembukaan) dari penyembuhan segala penyakit.  Tetapi wudu yang seperti apa?  Wudu yang ribuan kali lebih kuat daripada wudu yang biasanya. 

Ketika kalian mengambil wudu, selain membaca niat, kalian membasuh tangan hingga pergelangan,  dan  di  antara jari-jemari.  Ketika kalian membasuh kedua tangan, itu artinya gerak pertama yang kalian lakukan adalah menggunakan kedua tangan itu, jadi energi level pertama berada di kedua tangan.  Tubuh bertindak sebagai sebuah penampung energi.  Melalui olah gerak yang beraneka ragam, orang mulai mendapatkan energi lalu memusatkannya dan melepaskannya melalui  kedua  tangan.  Energi ini dapat digunakan untuk menyembuhkan orang yang sakit, seperti halnya orang buta tadi, yang kebutaannya disembuhkan melalui pelepasan energi.  Empat belas abad yang lalu Nabi SAW menyembuhkan kebutaan melalui energi.  Itulah sebabnya beliau mengatakan, “Senjata yang melindungi kalian dari musuh adalah wudu.”

 Mawlana Syekh Hisyam QS sedang berwudu di Zawiyah Cikereteg, 2004.


Langkah-Langkah dalam Berwudu:

Niat:

A’udzubillaahi minasy syaythaanir rajiim,  Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Nawaytul wudhu’a lillaahi ta’aalaa.

Aku berlindung kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk. Dengan nama Allah SWT yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Aku berniat wudu karena Allah SWT.

Basuhlah kedua tangan dengan air

Gosokanlah tangan kiri hingga pergelangan dengan menggunakan tangan kanan sebanyak 3 kali, sambil menyebutkan Asma Allah SWT ke-81: Yaa Muntaqiim sebanyak 3 kali, dan Asma Nabi SAW ke-81: Yaa Dzul Fadhl 3 kali.  Ini adalah untuk mengaktifkan energi pada tangan kiri kalian (Lihat telapak tangan kiri, di situ terdapat angka 81 dengan huruf Arab).

Lakukan hal yang sama dengan tangan kanan, kali ini sambil menyebutkan Asma Allah SWT ke-18: Yaa Fattah sebanyak 3 kali, dan Asma Nabi SAW ke-81: Yaa Rasuulur-Rahmah, 3 kali.  Dengan maksud untuk mengaktifkan energi pada tangan kanan kalian (Pada telapak tangan kanan, di situ terdapat angka 18 dengan huruf Arab).

Basuh kedua tangan dengan cara menindihkan tangan kiri dengan tangan kanan sehingga jari-jemari tangan kanan memasuki celah jari-jemari tangan kiri.  Gosok sebanyak 3 kali, sambil menyebutkan Asma Allah SWT ke-9: Yaa Jabbar sebanyak 3 kali dan Asma Nabi SAW ke-9: Yaa `Aqiib, 3 kali.  Ini adalah penyatuan antara kedua angka pada masing-masing telapak tangan, di mana 8+1 dan 1+8=9.  Ketika kalian menggosokkan kedua tangan, maka itu berarti mengaktifkan 99 Asma ul-Husna Allah.  Dengan demikian kalian mengaktifkan 9 titik penerima energi pada tubuh kalian.

Air mencegah energi itu agar tidak merembes keluar, ia membekukannya.

Kemudian basuh anggota tubuh berikutnya, mulai dari kumur-kumur, membasuh hidung, muka, kedua tangan, rambut, telinga dan kaki, di mana setiap kali membasuh anggota tubuh dibaca basmalah dan syahadat.

doa setelah wudu: 

Subhaanaka Allaahumma wa bihamdika. Asyhadu allaa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilayk.

Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan terimalah tawbatku.

Atau:                                                            

Allaahummaj ’alnii minat-tawwaabiina, waj’alnii minal mutathahhiriina Allaahummaj ’alnii min ‘ibaadika shalihiin minal ladziina laa khawfun ‘alayhim wa laa hum yahzanuun.

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang (senang) mensucikan diri. Maha Suci Engkau ya Allah, masukkanlah aku ke dalam golongan hamba-Mu yang saleh, di mana mereka tidak sekalipun takut kepada musuh-Mu (orang-orang kafir) yang tidak pula bersedih hati (terhadap apa yang telah Engkau berikan).

Lalu dibaca Surat al-Qadr atau Surat al-Ikhlash sekali, dua kali atau 3 kali.

 

 

Kutipan Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS mengenai Wudu

(dari buku Secrets of The Heart)

Guru sufi yang palsu menyatakan bahwa kita tidak perlu berwudu.  Bagaimana mungkin wudu tidak diperlukan?  Salah satu Nama Rasulullah SAW adalah nabi dari “orang-orang yang bercahaya”, al-ghurr al-mujjalin.  “Orang pertama yang akan kupanggil menghadapku untuk masuk ke dalam surga dan bertemu dengan Allah SWT di surga dan tetap bersamaku adalah mereka yang anggota tubuhnya bercahaya seperti cahaya matahari karena dibasuh dengan wudu.” (Bukhari-Muslim).  Setiap orang di antara kalian yang selalu menjaga wudunya akan termasuk orang-orang yang beruntung itu.  Ketika Abu Hurayrah RA ditanya mengapa ia membasuh anggota tubuhnya dengan air melebihi yang diperlukan, ia menjawab bahwa ia ingin agar seluruh anggota tubuhnya bercahaya pada hari itu.  Lalu bagaimana mungkin—orang yang mengaku sufi—berkata bahwa wudu tidak diperlukan?  Mereka mengaku bahwa mereka melakukan wudu dengan cara menghirup, lalu mengeluarkan semua kotoran mereka.  Ini lebih baik dilakukan di kamar mandi, bukan di masjid.  Kalian hanya bisa masuk ke masjid setelah melakukan wudu!  Tidak ada satu pun yang dapat membersihkan kalian kecuali dengan wudu.  Kami membantah apa yang dikatakan oleh guru-guru sufi palsu itu.  Mereka yang mengaku sufi itu bukan sufi sejati, malahan sesungguhnya mereka menentang sufisme, dan merekalah yang memberi citra buruk kepada sufisme.

Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidina Bilal RA, “Wahai Bilal RA, Aku mendengar langkahmu di surga.  Apa yang kamu lakukan (untuk mendapat penghargaan semacam ini)?”  Bilal RA menjawab, “Wahai Rasulku tercinta, setiap kali aku berwudu baik di siang hari maupun ketika aku bangun di tengah malam untuk berwudu (setelah pergi ke kamar kecil), aku melakukan salat wudu minimal dua rakaat.“ (Bukhari-Muslim).  Kita tidak meringankan tubuh kita seperti halnya binatang, tanpa membersihkan diri, kemudian kita melangkah ke dalam masjid dan berkata bahwa kita akan melakukan salat.  Kita tidak mengatakan hal ini kepada muslim yang baru, tetapi kepada muslim yang telah lama.  Kita mendiskusikan hal ini dengan terbuka karena, “la haya’a fid din,” “tidak perlu malu dalam urusan agama.” (hadis).

Rasulullah SAW bersabda, “Aku takut umatku nanti akan melakukan salat tanpa membersihkan diri setelah mereka membuang urin.” (hadis, Rasulullah SAW suatu ketika melewati dua kuburan, kedua orang yang dimakamkan di sana telah disiksa.  Beliau bersabda…’Salah satu di antara mereka tidak pernah melakukan tindakan untuk mencegah dirinya dikubur dengan urinnya sendiri’ dan seterusnya.” Bukhari, Jana’iz bab 80).  Banyak orang di sini yang pergi ke kamar kecil dan keluar tanpa membersihkan diri mereka, kemudian melakukan wudu dan salat, hal ini tidak dapat diterima.  Dalam kasus ini salatnya tidak diterima.  Kalian harus menyiram dan membersihkan diri kalian ketika membuang urin.  Jika tidak, kalian tidak bisa melakukan salat.  Saya ulangi bahwa ini adalah untuk orang yang sudah lama menjadi muslim, bukan untuk yang baru menjadi muslim.  Kalian harus membersihkan diri sebelum kalian melakukan salat.  Bagaimana kalian akan berdiri (dalam salat) menghadap Allah SWT dan berharap agar salat kalian diterima?  Salat kalian tidak akan diterima, meskipun itu lebih baik daripada tidak—dibandingkan dengan orang yang tidak salat sama sekali.

Setiap orang harus membersihkan dirinya baik secara fisik maupun spiritual.  Tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Aku telah membersihkan diriku secara spiritual.”  Untuk para pemula, lupakan, tetapi bagi kita, kita harus datang untuk salat dalam keadaan bersih, baik di masjid maupun di rumah.  Kalian harus sangat berhati-hati dalam masalah ini.  Jangan membuang urin sembarangan sebagaimana yang dilakukan oleh anjing, keledai, atau monyet, tanpa merasa malu karena Syekh tidak melihat kalian.  Jika Syekh tidak melihat kalian, kedua malaikat di pundak kalian bisa melihat kalian.  Jika mereka pun tidak melihat kalian, Allah SWT melihat kalian.  Tidakkah kalian merasa malu terhadap hal ini?  Pergilah ke kamar kecil di bandara atau di pom bensin di Amerika, di sana, tidak ada orang yang merasa malu berpakaian tidak selayaknya, berdiri dan membuang air seperti anjing… apakah ini yang dinamakan hormat dan adab?  Kalian harus berada dalam ruangan tersendiri agar tidak ada orang yang bisa melihat kalian.  Itulah adab yang diajarkan oleh Islam.  Islam mengajarkan kalian untuk selalu menghormati orang, termasuk diri kalian sendiri.

Sayyidina ‘Ali RA, KW, semoga Allah SWT mengangkat derajatnya, selama hidupnya tidak pernah melihat bagian-bagian tubuhnya yang sifatnya pribadi.  Itulah sebabnya beliau menerima kehormatan yang begitu tinggi, penghargaan yang kita ucapkan setelah menyebutkan namanya, “karramallahu wajhahu”, yang secara harfiah berarti, “Semoga Allah SWT memuliakan wajahnya.”  Beliau tidak pernah membiarkan matanya melihat bagian tubuh pribadinya.  Bagaimana dengan kita dewasa ini?  Kita meninggalkan bagian tubuh pribadi kita, lalu mencari milik orang lain dan bahkan menggambarkannya! Di televisi, mereka mengajarkan setiap orang, termasuk anak-anak, tentang bagaimana cara berkencan dan bagaimana cara melihat bagian tubuh pribadi masing-masing.  Peradaban macam apa ini?  Ini adalah suatu kebodohan.  Kehidupan binatang lebih baik daripada peradaban seperti ini. 

Kita terlalu banyak melakukan dosa.  Kita memerlukan jalan yang aman dan cepat untuk mencapai Tuhan kita.  Kita harus mengetahui bahwa Malam Permintaan yang Sakral ini adalah salah satu jalan untuk mendekati-Nya.  Ke mana pun kita memandang, kita temukan diri kita dalam keadaan berdosa, itulah sebabnya kalian harus mencari tempat di mana orang-orang membuat suatu pertemuan demi Allah SWT, mereka mengingat Allah SWT dan mengingat Rasulullah SAW, sehingga kalian dapat mendekati-Nya dengan cepat.  Oleh sebab itu jangan melewatkan pertemuan semacam itu.