Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

Adab Harian di Bulan Safar

Selain awrad harian, lakukan pula awrad berikut ini setiap hari:

  • Syahadat 3 kali,
  • Istighfar 300 kali,
  • Banyak bersedekah 

Awrad tambahan di atas berfungsi sebagai perlindungan terhadap 70.000 bala (kutukan) yang dijatuhkan kepada umat manusia di bulan ini.  Mawlana Syekh Nazim QS juga berpesan untuk berhati-hati terhadap kesulitan yang terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.  

Adab Rabu Terakhir di Bulan Safar

Seorang `ulama besar, Imam Abdul Hamiid Quds, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” mengatakan, “Banyak Awliya Allah yang mempunyai Pengetahuan Spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.”  Hari ini dianggap sebagai hari yang sangat berat dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun.  Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat Alquran, “Yawma Nahsin Mustamir” yakni “Hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari ini. 

Untuk melindungi dari kutukan yang jatuh ke bumi pada hari tersebut—Rabu terakhir di bulan Safar—dianjurkan untuk melakukan salat 4 rakaat (Nawafil, sunnah).  Setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kawtsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali.

Setelah salat dianjurkan untuk memanjatkan doa memohon perlindungan dari segala kutukan dan bencana yang jatuh ke bumi pada hari tersebut.  Doanya adalah sebagai berikut: 

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim,

Allaahumma Ya Syadidal Quwa, Wa Ya Syadidal Mihal, Ya Aziiz, Ya Man Zallat li Izzatika Jamii'a Khaliqika, Ikfini min syarri Jamii'i Khaliqika, Ya Muhisinu, Ya Mujmilu, Ya Mutafadh-dhilu, Ya Mun'imu, Ya Mukrimu, Ya man La Ilaha Illa anta Arhamni bi Rahmatika ya Arhama Ar-Rahimiin,

Allahuma bi Sirril Hasani wa akhiihi, wa Jaddihi wa abiihi, wa Ummihi wa Baniihi, Ikfini syarra haazal yawmi wa ma yanzilu fiih,

Ya Kaafi al-muhimmaat, Ya Daafi al-baliyyat, fasa yakfiika humullaahu wa Huwa Samii'ul Aliim, wa Hasbuna Allah wa Ni'mal Wakiil wa la Hawla wala Quwwata illa billa hil Ali'yyil Azhiim.

Wa Shallallahu ala Sayyidina Muhammadin Wa ‘ala Aalihi Wa Shahbihi wa Sallam. Amiin.

Puasa di Bulan Muharam

Imam Ghazali menyatakan dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, “Puasa sangat dianjurkan pada beberapa hari yang istimewa, di antaranya dapat ditemukan pada setiap tahun, yang lain ada pada setiap bulan, dan yang lainnya dalam setiap minggu.  Yang dapat ditemukan pada setiap tahun setelah Ramadan adalah:

·        Hari `Arafah (9 Zulhijah)

·        Hari `Asyura (10 Muharam)

·        10 hari pertama di bulan Zulhijah

·        10 hari pertama di bulan Muharam

 

Kita dianjurkan untuk berpuasa pada bulan-bulan yang dimuliakan, yaitu: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.”

 

Mu’awiyah Ibnu Abu Sufyan RA meriwayatkan, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT tidak mewajibkan kalian untuk berpuasa di hari ‘Asyura,  tetapi aku berpuasa, dan barang siapa di antara kalian yang ingin berpuasa, maka berpuasalah dan bagi yang tidak ingin, maka tidak ada keharusan atas mereka.” (Sahih Muslim)

 

Abu Qatada RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Berpuasa pada tanggal 10 Muharam menghilangkan dosa setahun sebelumnya.” (Sahih Muslim)

 

Abu Hurayrah RA melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda bahwa setelah Ramadan, puasa Muharam adalah puasa yang paling sempurna. (Sahih Muslim)

 

Hakan bin al-Arat RA meriwayatkan, “Aku pergi ke Ibn Abbas RA, Aku berkata kepadanya, ceritakan kepadaku tentang puasa pada hari ‘Asyura!”  Ia berkata, “Ketika kalian melihat bulan baru untuk Muharam, hitunglah (hari) dan (mulailah) berpuasa pada tanggal 9,” Aku berkata kepadanya, “Apakah ini cara Rasulullah SAW berpuasa?”  Ia berkata, “Ya” (Sahih Muslim)

 

Hazrat Ibn Abbas RA meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW bersabda, “Jika Aku dapat bertahan hingga tahun depan, aku juga akan berpuasa pada tanggal 9 Muharam.” (Sahih Muslim).  Catatan:  apa yang dimaksud oleh Rasulullah SAW adalah bahwa beliau juga akan berpuasa pada tanggal 9, sebagaimana tanggal 10 Muharam yang biasa beliau SAW lakukan.  Oleh sebab itu kita juga sebaiknya mencoba untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam.

 

Sumber: 
staff@naqshbandi.org

Doa Akhir Tahun

Dibaca 3 kali setelah Asar pada tanggal 29 atau 30 Zulhijah. 

Wa shallallaahu `alaa sayyidinaa wa mawlaanaa muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihii wa sallam/allaahumma maa `alimtu fii haadzihis-sanati mimma nahaytanii `anhu falam atub minhu walam tardhahuu walam tansahuu wa hamilta `alayya ba`da qudratika `alaa `uquubatii wa da`awtanii ilaat-tawbati minhu ba`da jur-atii `alaa ma`shiyyatika fa-innii astaghfiruka faghfirlii wa maa `amiltu fiihaa mimmaa tardhaahu wa wa`adtanii `alayhits-tswaaba fa as-aluka allaahumma yaa kariimu yaa dzal jalaali wal ikraami an tataqabbalahuu minnii wa laa taqtha` rajaa-ii minka yaa kariim/wa shallallaahu `alaa sayyidinaa wa mawlaanaa muhammadin wa `alaa aalihi wa ash-haabihii wa sallam

Selawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan penghulu kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.  Ya Allah, apa yang telah kulakukan pada tahun ini terhadap hal-hal yang Kau larang aku untuk melakukannya dan aku belum bertobat daripadanya; sedangkan Engkau tidak rida dan tidak melupakannya; dan aku telah melakukannya di dalam keadaan di mana Engkau berupaya untuk menghukumku, tetapi Engkau mengilhamiku dengan tobat atas kelalaianku melakukan dosa-dosa itu semua; sesungguhnya aku memohon ampunan-Mu, maka ampunilah aku.  Dan tidaklah aku melakukan yang demikian atas apa yang Engkau ridai dan Kau janjikan aku dengan pahala atas yang demikian itu.  Maka aku memohon kepada-Mu.  Ya Allah, Wahai yang Maha Pemurah!  Wahai Yang Maha Agung dan wahai Yang Maha Mulia agar Engkau menerima tobat itu dariku dan janganlah Engkau menghampakan harapanku kepada-Mu Wahai Yang Maha Pemurah.  Selawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan penghulu kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

Doa Awal Tahun

Dibaca 3 kali setelah Maghrib pada tanggal 1 Muharam. 

Wa shallallaahu `alaa sayyidinaa wa mawlaanaa muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihii wa sallam/allaahumma antal abadiyyul qadiimul awwalu wa `alaa fadhlikal `azhiimi wa juudikal mu`awwali wa haadzaa `aamun jadiidun qad aqbala nas-alukal `ishmata fiihi minasy-syaythaani wa awliyaa-ihi wa junuudihi wal `awna `alaa haadzihin-nadsil ammarati bis-suu-I wal isytighaala bimaa yuqarribunaa ilayka zulfaa yaa dzal jalaali wal ikraami yaa arhamar-raahimiin/wa shallallaahu `alaa sayyidinaa wa mawlaanaa muhammadin wa `alaa aalihi wa ash-haabihii wa sallam/amiin

 

Selawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan penghulu kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.  Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Kekal, Yang Qadim dan Awal, atas anugerah-Mu dan pemberian-Mu yang Agung yang sangat kami harapkan, dan tahun baru ini sungguh telah datang, kami memohon kepada Engkau ya Allah, penjagaan yang kuat atas diri kami dari gangguan setan, para pengikutnya serta bala tentaranya.  Dan lindungi kami dari nafsu amarah yang buruk ini, sibukkan kami dengan amalan agar kami selalu mendekatkan diri kepada-Mu, wahai Dzat pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang Maha berbelas kasihan. Dan selawat dan salam semoga tercurah pada junjungan dan penghulu kami Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.  Amin

 

Adab Hari `Asyura (10 Muharam)

Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Antara Zuhur dan Ashar:
Salat 4 rakaat, pada setiap rakaat dibaca al-Faatiha 1 kali dan al-Ikhlash 10 kali.

Zikir:
La ilaha ill Allah (1.000 kali)
Shalawat (1.000 kali)
Surat al-Ikhlash (1.000 kali)

Doa:
Allahumma tsabitna ‘alal Haqq
Ya Ghaliiban ghayra maghluub
Ya Nashiral Mu’miniin
Ya Ghiyatsal Mustaghitsiin
Ya Qariiban ghayra ba’id
Ya Syahidan ghayra mash-huud

Hasbi Allahu wa ni’mal Wakiil, la hawla wa laa quwwata
Illa billaahil ‘Aliyyil ‘Azhiim
Ghufranaka, Rabbanaa wa ilaykal mashiir


Rabbanaa taqabbal minna
Bi hurmatil Habib… al-Faatiha.


Sumber:
On The Bridge to Eternity
by Shaykh Muhammad Nazim al-Haqqani
© 1999, Planet Ilmu Sdn. Bhd.

Adab Ziarah Wali

Oleh: K.H. Mustafa Mas’ud Haqqani

 

Nabi SAW bersabda, 

“Barang siapa berziarah ke makamku, niscaya aku akan memberinya syafaatku.”

 

Wahai yang terbaik di antara para penghuni kubur

Wahai kau, yang keharumannya membubung luhur

Menuju ketinggian dan menukik menyentuh kedalaman,

Mungkinkah aku jadi tebusan bagi makam yang kautinggali,

Yang di dalamnya ada kemurnian, karunia, dan kemurahan hati!

(sebuah puisi Arab Badui di makam Nabi SAW)


Untuk dapat melakukan ziarah dengan baik, perlu diperhatikan adab yang benar, agar tercapai tujuan yang semestinya, dan tidak meleset arahnya.  Pastikan bahwa kita benar-benar sedang mengarah hanya pada apa-apa  yang disukai dan diridai Allah SWT, jangan pada arah yang tidak jelas.

Bahwa berziarah kepada para awliya atau pun para kekasih Allah SWT—apalagi yang merupakan sahabat Nabi SAW, ataupun umumnya para wali, merupakan perkara yang sangat dianjurkan, dan seyogyanya begitu rupa kita pentingkan. Rasulullah SAW sendiri nyata-nyata mengunjungi makam sahabat-sahabat beliau, yang merupakan awliya itu, di Baqi' al-Gharqad, mendoakan ampunan Allah SWT bagi sahabat-sahabat beliau.  Demikian juga beliau berziarah ke Uhud. Bahkan suatu ketika Rasulullah SAW juga menyapa suatu makam orang kafir,

Betul nggak janji-janji Allah SWT yang aku disuruh menyampaikannya kepadamu?  Ancaman-ancamannya sudah kamu  jumpai  sekarang kan?” 

Mawlana Syekh Nazim QS dan Syekh Hisyam QS, ditemani Syekh Mustafa dan Ki Taufiq ketika berziarah ke Makam Syekh Abdullah Khani, salah satu Khalifah Syekh Abdul Khalid al-Baghdadi QS.  Makam itu terletak di dalam kompleks Pesantren at-Taufiqy, Wonopringgo, Pekalongan.  Ziarah dilakukan pada tahun 2001.

Para sahabat lalu bertanya, “Apakah mereka dapat mendengar sapaanmu itu yaa Rasulallah SAW?  Rasulullah SAW menjawab, ”Mereka mendengar, namun (karena kafirnya di dunia dahulu, kini mereka sibuk dengan penderitaan yang sedang melilit dirinya di dalam kubur) tak mampu lagi menjawab sebagaimana mestinya.”

Nah, kalau orang kafir saja mendengar, walaupun tak berdaya menjawab, bagaimana halnya dengan orang mukmin?  Bagaimana dengan orang saleh?  Bagaimana dengan awliya?  Bagaimana dengan para Syuhada?   Bagaimana dengan Anbiya'?  Bagaimana dengan sahabat-sahabat Nabi SAW yang mereka merupakan suluh bagi kita untuk dapat meraih petunjuk Allah SWT yang kita cari, dan yang sangat kita perlukan?  Yang demikian ini sudah jelas terungkap dalam riwayat dan hadits yang shahih.

Hal-hal yang sepatutnya menjadi tujuan ziarah ke makam para wali, atau pun orang-orang alim adalah agar kita menjadi semakin dekat (qarib/taqarrub) kepada Allah SWT itu sendiri.  Kedua adalah agar kita berdoa dengan tulus, dan bersungguh-sungguh untuk beliau; karena sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahi suatu bentuk berkah yang berlimpah kepada beliau; dan karena ‘lubernya’ berkah itu, semoga terlimpah kembali kepada para peziarah dan keluarganya; yaitu dalam bentuk dan takaran rahmat yang semakin melimpah ruah.

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS berziarah ke Makam Sunan Ampel di Surabaya pada tahun 2004.  Pada awalnya beliau membaca Surat Yasiin, kemudian dilakukan zikir Khatm Khwajagan.  Setelah ziarah Mawlana bercerita bahwa Sunan Ampel QS adalah penguasa spiritual di daerah itu, dan sejak hari pertama Mawlana datang ke Surabaya, Sunan Ampel QS sudah mengundangnya untuk berkunjung ke makam beliau.  Mawlana juga berkata bahwa Sunan Ampel QS bukan seorang pengikut Tarekat Naqsybandi, namun pada saat ziarah, beliau minta ditunjukkan zikir yang biasa dilakukan oleh para pengikut Naqsybandi, yaitu Zikir Khatm Khwajagan.  Sunan Ampel QS sangat senang dan setelah itu beliau berbay'at ke dalam Tarekat Naqsybandi.

Yang sepatutnya dilakukan olah para peziarah adalah mengambil posisi berhadapan muka dengan yang diziarahi. Dalam jarak yang cukup dekat namun penuh hormat. Menyampaikan salam dengan sikap yang sopan, khusyuk, merunduk, memandang ke bumi dangan teduh, serta menghormati pribadi yang diziarahi, seraya menanggalkan aneka macam kesadaran diri yang ada.  Imajinasikan seolah-olah kita sedang menatap muka beliau, dan sorot mata beliau pun seolah-olah menatap kita.  Hati meliput cakrawala keluhuran martabat maupun asrar (rahasia rohaniah) yang dilimpahkan Allah SWT pada beliau; pada keluhuran kewalian beliau; pada aspek kedekatan beliau dengan Allah SWT dan lantaran ketaatan beliau kepada-Nya yang telah mendatangkan limpahan wacana Rabbaniyah pada diri beliau itu.  Lakukan hal ini dengan khidmat.  Kalbu atau pun bashirah (mata batin) peziarah seharusnya terus-menerus dan semakin cermat menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa betapa dangkal dan tumpulnya upaya diri kita untuk meraih taraf "kasih" Allah SWT seperti yang telah beliau peroleh itu.  Maka tumbuhkanlah sendiri suatu nuansa kesadaran diri untuk mulai semakin bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah SWT; dengan meniru beliau yang sedang diziarahi itu, dan agar memperoleh pencerahan dari beliau.

Inilah nikmatnya berziarah yang dapat ditempuh untuk dapat lebih bergegas-gegas lagi menuju Allah SWT; bangunkan sendiri garis lurus dalam alam sadar (conscious) kita suatu energi gaib (di dalam kalbu) seraya mengelakkan diri dari pesona; magnitude; maupun tarikan kuat "selera duniawi".

Salat di Masjid Ampel setelah ziarah.

Ketahuilah, sesungguhnya getaran selera dangkal, atau duniawi itulah yang membutakan "bashirah", dan menghalangi suatu kedekatan antara kita dengan Allah SWT, atau pun dengan citra diri yang baik, dan itu jugalah yang tak henti-hentinya membuat kita berputar-putar secara tak berkeputusan.

Hendaknya peziarah memandang diri sendiri dengan mata hatinya; betapa sesungguhnya dengan ziarah itu berarti Allah SWT sedang bermurah hati menjadikan dirinya semakin mendekati seorang wali tertentu, dan bahwa dirinya mulai bersedia menyandang perilaku (akhlak) para kekasih-Allah SWT itu; bahwa ia semakin mantap dalam berpegangan kepada model panutan, serta  jalan hidup yang benar, dan penuh kesungguhan menuju Allah SWT, seperti yang dilakukan beliau-beliau para awlia itu.  Dan agar dapat mencapai martabat kehambaan yang hakiki di sisi Allah SWT, seperti yang saat ini menjadi reputasi beliau-beliau para wali itu.

di Makam Mawlana Malik Ibrahim QS atau Sunan Gresik, 2004

Namun betapa kenyataan sehari-hari yang dijalani para peziarah justru mendepak kembali peluang, dan kondisi yang dihadapkan oleh Allah SWT itu menjadi hanya selintas maya.  Jika memang demikian, seharusnya peziarah mulai membayangkan seolah-olah dirinya sedang hadir di hari kiamat, atau pun di hari kebangkitan.

Saat itu para awliya yang bangkit dari makamnya itu pun dalam tampilan atau citra yang cerah dan penuh keriangan karena menyandang rida Allah SWT dari sebab perilaku yang beliau-beliau lakukan di dunia dahulu dengan penuh ketaatan – di samping keterkaitannya yang intens bersama Rasulullah SAW.  Beliau-beliau mengendarai kereta cahaya yang menggambarkan karamah beliau, seraya dipayungi oleh para malaikat dengan payung yang gemerlap, yang berawal dari amalan-amalan salehnya.  Di atas kepala beliau-beliau bertemaram cahaya tiara, sedemikian teduh, dan dapat kita jadikan tambatan yang dapat menyaput derita para pendosa, atau pun orang-orang yang berbekal ketaatan, namun lantaran pengejarannya di dunia ini atas syahwat yang tak berkeputusan, dapat menjungkalkan yang bersangkutan ke derita kubur.  Orang-orang seperti itu kini sedang melolong dalam tujuannya dan kebingungannya. Penuh ketakutan dan bersimbah peluh yang telah menenggelamkan dirinya dalam nestapa, seraya makin tak tahu apa yang bisa diperbuatnya.

Yakinkanlah dirimu wahai peziarah, jangan sampai kelak akan mengalami yang demikian itu.  Maka bangkitkan rohanimu, jangan lagi berlalai-lalai, berdukalah sekarang, menangislah saat ini, jangan nanti.  Dan mulailah berdoa untuk kedua perspektifmu; di dunia ini, terutama di akhirat nanti.  Mohonlah agar Allah SWT yang Rahim membenahi dirimu dengan mengkaruniakan Tawfiq kepadamu, seperti halnya menjadi karunia Allah SWT bagi orang-orang saleh. Bacalah ayat-ayat al-Qur'an, perbanyak doa, istighfar, penyadaran diri kepada Allah SWT yang semakin sungguh-sungguh dan penuh harap.  Tentramkan dirimu bersama awliya, anbiya, atau sahabat, dan merasakan cukup bersamanya sajalah, jika yang demikian ini dapat kita persembahkan kepada Allah SWT niscaya Dia makin melimpahkan rahmat, dan semakin  berkenan mengijabahkan doamu.

Ketahuilah hanya dengan bersungguh-sungguh, orang akan mendapatkannya dan yang beruntung meraih pintu Sang Pemurah, pasti tak akan kandas dari segala apa yang menjadi maksud dan tujuannya.  Oleh karena itu hindarilah kecondongan hati yang tak bersungguh-sungguh melalui ziarahmu kepada orang saleh.

Berziarahlah dalam kekhusyukan, dalam taqarrub kepada Allah SWT.  Janganlah karena pertimbangan membutuhkan pengakuan orang, dan jangan pula supaya terkesan sebagai orang saleh, malah nanti akan  menjadi tambahan puing petaka rohanimu saja.

Hindarilah dari bercakap yang tidak baik, atau pun tak senonoh, atau pun yang tak jelas perlu dan manfaatnya, di haribaan makam orang saleh.  Sebab hal itu dapat  menimbulkan murka Allah SWT, dapat menimbulkan "gelo" (kekecewaan—Jawa) atau pun kedukaan orang saleh itu sendiri, dan sekiranya malah akan menghampirkan dirimu sendiri kepada kehancuran secara tidak kita sadari. Sekali lagi elakkan yang demikian ini.

Poin utama dalam ziarah adalah menggerakkan zikir, selawat, baca ayat  al-Qur'an, sepenuh jiwa dan raga.

Hanya Allah SWT saja yang dapat menunjukkan kita ke jalan yang benar dan membahagiakan.  Maka kita bersandar, bertumpu, dan berserah diri ke jalan-Nya.  Selawat dan salam semoga makin terlimpah kepada Rasulullah SAW, pegangan kita hingga hari pembalasan kelak.  La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim.


Adab Ziarah

Mengucapkan Salam (yang dipuisikan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad) kepada Arwah yang diziarahi, seraya menghadap ke Hadirat Allah SWT dengan sepenuh hati:

 

Salaamullah yaa Saadah Minarrahmaan yaghsyaakum

 (diulang di antara bait-bait berikut:)

 

Ibaadallah ji’naakum qaashadnaakum thalabnaakum

Tu’inuunaa tughiitsuunaa bihimmatikum wajadwaakum

Fah-buunaa wa uthuuna athaayaakum hadaa yaakum

Falaa Khayyabtumuu zhannii fahasyaakum wahaasyaakum

Sa’idnaa idz atainaakum wafuznaa hiina zurnaakum

Faquumuu wasyfa’uu fiinaa ilar-rahmaan mawlakum

`Asaa nuhzhaa asaa nu`thaa mazaayaa min mazaayaakum

`Asaa Nazhrah `asaa rahmah taghsyaanaa wataghsyaakum

Salaamullah hayyaakum wa’aynullaah tar’aakum

Washallallahu Mawlaana wasallama maa ataynaakum

‘Alal Mukhtaari syaafi’inaa wamunqi dzinaa wa iyyaakum

 

Wahai Tuanku, semoga Salam Allah tetap tercurah padamu

Kami, hamba-hamba Allah datang kepadamu

Kami bermaksud bersentuhan dengan rohanimu dan kami berharap berkahmu

Untuk menolong kami, menyejukkan kami dengan siraman yang berasal darimu, sesuai dengan spirit dan pencapaianmu selama ini. 

Maka cintailah dan berikanlah kepada kami apa-apa yang Allah berikan padamu selama ini.

Jangan biarkan pengharapan ini sia-sia, jauhlah engkau semua dari sifat tega menyia-nyiakan kami.

Kami sangat beruntung datang di haribaanmu dan kami amat berbahagia dengan kunjungan ini, maka bangkitlah menjadi syafaat buat kami bermohon pada ar-Rahman tuanmu.

Mudah-mudahan kita dirangkum dan dibelai dengan limpahan karunia yang selama ini dianugerahkan kepadamu.

Mudah-mudahan kita dipandang dan dilimpahi rahmat yang akan makin menyelimuti kita.

Mudah-mudahan engkau semakin dihidupkan dengan belaian Allah dan pandangan menggembalakan.

Mudah-mudahan rahmat Allah semakin terlimpah pada manusia pilihan agar semakin terlimpah untuk kita dan yang menuntun kami semua.

 

Al-Faatihah 

Syahadat 3 kali

Istighfaar 3 kali

Al-Ikhlash  3 kali

Al-Falaq

An-Naas

Ihda: Ilaa Hadratin Nabi… Al-Faatihah

Membaca Surat Al Mulk atau Surat Yasin atau lainnya                   

Doa                                                            

Al-Faatihah

bisa juga dibacakan zikir Khatm Khwajagan, Mawlid, Tahlil dan sebagainya.

Zulhijah: Bulan Kurban

Imam Ghazali menyatakan dalam Kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din, “Puasa sangat dianjurkan pada beberapa hari yang istimewa, di antaranya dapat ditemukan pada setiap tahun, yang lain ada pada setiap bulan, dan yang lainnya dalam setiap minggu. Yang dapat ditemukan pada setiap tahun setelah Ramadan adalah:

· Hari ‘Arafah (9 Zulhijah)
· Hari ‘Asyura (10 Muharam)
· 10 hari pertama di bulan Zulhijah
· 10 hari pertama di bulan Muharam

Kita dianjurkan untuk berpuasa pada bulan-bulan yang dimuliakan, yaitu: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab.”

Keutamaan 10 Hari Pertama di Bulan Zulhijah

“Demi Fajar! Dan malam yang sepuluh! Dan yang genap dan yang ganjil!” [89:1-3]

Allah SWT telah memberkati Jumat sebagai hari yang terbaik dalam seminggu, Ramadan sebagai bulan terbaik dalam setahun, dan 10 hari terakhirnya sebagai hari-hari terbaik di bulan Ramadan. Serupa dengan hal itu Dia juga telah menyatakan sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah sebagai masa yang penuh dengan kebaikan.

Untuk membedakannya, Allah SWT memanifestasikan kesucian rentang waktu “Sepuluh Malam” ini dalam Alquran. Menurut sejumlah ulama dalam Islam, ‘Sepuluh Malam’ merujuk pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan atau sepuluh hari pertama di bulan Muharam atau lima hari ganjil terakhir di bulan Ramadan, yang juga termasuk, Malam Kemuliaan, Kedua Malam Idulfitri dan Iduladha, Mi’raj, ‘Arafah, dan Malam Pertengahan (Nisfu) Syakban. Tetapi sebagian besar ulama itu percaya bahwa ’Sepuluh Malam’ itu merujuk pada 10 malam pertama di bulan Zulhijah. Alasannya karena haji dilaksanakan selama kurun waktu tersebut.

Ditambah lagi dengan adanya hari ‘Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Zulhijah. Sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah adalah hari-hari yang terpenting dalam setahun. Dan hari ‘Arafah adalah hari yang terpenting di antara yang sepuluh itu. Oleh sebab itu ia merupakan hari terpenting dalam setahun. Allah SWT memberikan kemuliaan terbesar kepada hamba-Nya dengan jalan mengampuni mereka. Kebahagiaan di Akhirat sangat dipengaruhi oleh pencarian terhadap ampunan Allah SWT, hari ‘Arafah adalah hari pengampunan. Rasulullah SAW bersabda bahwa Muslim yang berpuasa di hari ‘Arafah akan diampuni dosa-dosanya sepanjang tahun.

Selain itu masih ada lagi hari yang baik di bulan ini, yaitu Hari Raya Kurban atau Iduladha yang jatuh pada 10 Zulhijah. Ini adalah hari di mana Nabi Ibrahim AS diuji untuk mengorbankan putra yang paling dicintainya, Nabi Ismail AS sehingga setiap Muslim dianjurkan untuk memperingati peristiwa ini dan mengambil hikmahnya.

Rasulullah SAW mengatakan bahwa sepuluh hari pertama ini adalah waktu yang mustajab untuk berdoa, memohon, salat dan ibadah lainnya. Di laporkan dari Abu Hurayrah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari lain yang lebih disukai Allah SWT daripada 10 hari pertama di bulan Zulhijah.” Puasa di siang harinya adalah sama dengan puasa setahun penuh, dan ibadah di malam harinya setara dengan ibadah di malam Laylat al-Qadar. (Tirmidzi dan Ibnu Majah).

‘Abd Allah ibn Mas’ud RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari lain dalam setahun di mana suatu perbuatan baik mempunyai nilai yang sangat tinggi dibandingkan dengan hari yang sepuluh (yakni 10 hari pertama di bulan Zulhijah).” Seseorang bertanya, “Bagaimana dengan berjihad di jalan Allah SWT?” Beliau menjawab, “Bahkan dibandingkan jihad di jalan Allah SWT.” Haytami berkata, “Tabarani meriwayatkan hal itu dalam al-Mu’jam al-Kabir dan semua perawi hadis dalam rantai transmisinya adalah perawi yang sahih.

Juga diriwayatkan oleh Ibn Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih disukai oleh Allah SWT selain di 10 hari pertama bulan Zulhijah. Jadi dalam periode ini perbanyaklah tasbih (Subhanallah), tahlil (Laa Ilaha Ilallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar).” (Tabarani)

Hazrat Abu Qatadah al-Ansari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa di hari ‘Arafah (9 Zulhijah). Beliau bersabda, “Puasa itu bisa menebus dosa-dosa kecil di tahun sebelumnya dan tahun yang akan datang.” (Muslim) Puasa ini adalah Mustahab, tidak berdosa jika tidak melakukannya.

Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tetap terjaga dan melakukan ibadah di malam Idulfitri dan Iduladha, hatinya tidak akan mati ketika hati orang-orang yang lain mati.” (Targhiib)

Hazrat Muadz bin Jabal RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jannah (surga) adalah wajib bagi siapa yang tetap terjaga dengan niat beribadah pada malam 8, 9, dan 10 Zulhijah, malam Idulfitri dan malam Nisfu Syakban.” (Targhiib)

Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang berpuasa pada tanggal 1 Zulhijah seolah-olah ia ikut dalam Jihad di jalan Allah SWT selama 2.000 tahun tanpa istirahat sedikit pun. Bagi yang berpuasa di hari kedua seolah-olah ia telah beribadah kepada Allah SWT selama 2.000 tahun dan puasa di hari ketiga seolah-olah ia telah memerdekakan 3.000 budak di masa Nabi Ismail AS. Untuk puasa di hari keempat ia menerima ganjaran sama dengan 400 tahun ibadah. Untuk hari kelima ganjarannya setara dengan memberikan pakaian kepada 5.000 orang yang telanjang, puasa di hari ke-6 setara dengan ganjaran bagi 6.000 syuhada dan puasa di hari ketujuh, semua pintu di ketujuh neraka menjadi haram baginya dan untuk puasa di hari kedelapan, seluruh pintu surga akan dibuka baginya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa puasa pada hari pertama Zulhijah bagaikan telah mengkhatamkan Alquran sebanyak 36.000 kali. Catatan: puasa-puasa tersebut adalah Mustahab, tidak ada keharusan untuk melakukannya. Selain itu kita juga dilarang berpuasa pada hari Tasyrik (hari ke-11, 12, dan 13 bulan Zulhijah) sebagaimana `Aisyah RA dan Ibnu `Umar RA meriwayatkan bahwa tidak seorang pun diperbolehkan berpuasa pada hari Tasyrik, kecuali mereka yang tidak mampu berkurban.

Adab Ieduladha

Salat Iduladha adalah sunnah mu’akkad atau sunnah yang sangat dianjurkan dan lebih baik bila dikerjakan secara berjamaah. Dalam Mazhab Hanafi salat ini adalah wajib dan harus dilakukan oleh seluruh orang yang telah memenuhi persyaratan seperti ketika melakukan salat Jumat, yakni laki-laki dewasa yang berbadan sehat dan tinggal di daerah setempat di mana salat dilaksanakan.

Selain itu disunnahkan atau diwajibkan dalam Mazhab Hanafi bagi setiap Muslim dewasa dan wanita untuk mengorbankan minimal seekor biri-biri atau kambing saat Iduladha. Ini bisa dilakukan setelah salat di hari pertama hari raya sampai dengan waktu matahari terbenam di hari kedua. Seseorang boleh mewakilkan pengorbanannya kepada orang lain, baik di tengah kehadirannya atau tidak.

Dianjurkan pula untuk tidak makan sesuatu sampai selesai mengerjakan salat.

Juga dianjurkan untuk mandi sebelum salat, kapan saja setelah subuh, bahkan jika seseorang tidak ikut melakukan salat.

Dianjurkan bagi laki-laki untuk mengenakan pakaian terbaiknya dan menggunakan parfum. Disunnahkan untuk pergi ke Masjid lebih awal dan dengan berjalan kaki, kemudian pulang ke rumah dengan rute yang berbeda. Lebih disukai untuk salat berjamaah di lapangan terbuka daripada di masjid.

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Puasa enam hari di bulan Syawal dilakukan selama di bulan Syawal—bulan yang jatuh tepat setelah Ramadan.

Adalah mustahabb untuk menjaga puasa ini karena di dalamnya terdapat pahala yang sangat besar. Dengan menambahkan enam hari puasa di bulan Syawal terhadap puasa yang dilakukan di bulan Ramadan, akan didapatkan puasa setahun penuh, insya Allah. Puasa-puasa ini bisa dilakukan secara berturut-turut atau dalam interval tertentu bahkan tersebar secara acak selama masih di bulan Syawal.

Abu Ayyub RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa penuh di bulan Ramadan diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia bagaikan orang yang telah berpuasa setahun penuh.” (Targhiib)

Salat al-‘Utaqa’ fi Syawwal

Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailani QS
Dikutip dari Kitab Ghunya al-Talibin Li-Tariq al-Haq

Bismillahir rahmaanir rahiim
Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

Bagi mereka yang telah terbebas dari api neraka, terdapat salat sunnah yang dipelajari dari kitab tradisional sebagaimana Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Jika seseorang melakukan salat 8 rakaat di bulan Syawal, baik siang maupun di malam hari, di setiap rakaatnya membaca surat al-Fatihah dan al-Ikhlash sebanyak 15 kali dan setelah selesai ia bertasbih kepada Allah SWT (sabbaha) 70 kali, lalu memohon berkah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat) 70 kali, maka Allah SWT yang mengutusku sebagai Rasul Penegak Kebenaran (bi’l-Haqqi Nabiyyan) akan membukakan kran hikmah (yanabi’ al-hikma) di hatinya, sehingga lidahnya dapat berucap dengan penuh hikmah dan mampu melihat penyakit di dunia ini dan mengetahui cara penyembuhannya.”

Jika seseorang melakukan salat sebagaimana yang telah kugambarkan tadi, ia tidak akan bangkit dari sujud terakhirnya sampai Allah SWT yang mengutusku sebagai Rasul Penegak Kebenaran (bi’l-Haqqi Nabiyyan) memberi ampunan, dan jika ia meninggal, ia akan meninggal sebagai syuhada yang telah dijamin akan diampuni oleh Allah SWT.

Siapapun hamba Allah SWT yang melakukan salat ini dalam perjalanannya, niscaya Allah SWT akan memudahkan perjalanannya sampai di tempat tujuannya. Jika ia dibebani utang, Allah SWT akan melunasi utangnya, dan jika ia membutuhkan sesuatu, Allah SWT akan memenuhi kebutuhannya itu.

Tidak ada hamba Allah SWT yang melakukan salat ini yang tidak mendapat makhrafa di Taman Surga, bagi setiap huruf dan ayat yang dibaca. Seseorang bertanya, “Apa itu makhrafa, Yaa Rasulullah SAW?” Beliau lalu beranjak memberi penjelasan, “Istilah makhrafa merujuk pada suatu kebun di Taman Surga, bilamana seorang pengendara lewat selama ratusan tahun, ia tidak akan melewati satu bayangan pohon pun yang tumbuh di sana.”

ISNAD dari hadis di atas diberikan oleh Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani QS, “Laporan ini disampaikan kepada kita dari Syekh Abu Nasr Muhammad bin al-Banna’ QS yang menyebut rantai transmisi (isnad) berikut ini: Abu ‘Abdi’llah al-Husain bin ‘Umar al-‘Allaf—Abu ‘l-Qasim al-Qadi (seorang hakim) –Muhammad bin Ahmad bin Shiddiq—Ya’qub bin ‘Abd ar-Rahman—Abu Bakar Ahmad bin Ja’far al-Marwazi—‘Ali bin Ma’ruf—Muhammad bin Muhammad —Yahya bin Syuaib-Hamid—Anas bin Malik RA—Rasulullah SAW.

Doa Menyambut Datangnya Bulan Ramadan


a`uudzu billaahi minasy-syaythaanir-rajiim

Aku berlindung kepada Allah SWT dari godaan setan yang terkutuk


bismillaahir rahmaanir rahiim

Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahra Ramadhan

Salam dan selamat datang wahai bulan Ramadan


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-qur'aan

Salam dan selamat datang wahai bulan Quran


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahran-nur

Salam dan selamat datang wahai bulan (yang penuh) cahaya


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-ijtimaa`

Salam dan selamat datang wahai bulan pertemuan


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-fuqaraa'

Salam dan selamat datang wahai bulannya kaum miskin


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahrat-tawbati wal-rujuu`

Salam dan selamat datang wahai bulan tobat dan kembali


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahrad-du`aa'i wal-wuquuf

Salam dan selamat datang wahai bulan doa dan wuquf (permohonan)


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-fuqaraa'i wadh-dhu`afaa'

Salam dan selamat datang wahai bulannya kaum miskin dan lemah


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-ihsan

Salam dan selamat datang wahai bulan Ihsan


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-`ushat

Salam dan selamat datang wahai bulannya para pendosa


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-fawzi wal-falaah

Salam dan selamat datang wahai bulan kemenangan dan keberhasilan


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-munaajaati wat-tasbih

Salam dan selamat datang wahai bulan munajat dan pensucian


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-da`wati wal-irsyaad

Salam dan selamat datang wahai bulan dakwah (seruan) dan bimbingan


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-taraawiihi wal-qiyaam

Salam dan selamat datang wahai bulan tarawih dan qiyam (berdiri)


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-mashaabiiha wal-qanaadiil

Salam dan selamat datang wahai bulan lentera-lentera dan segala cahaya


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-khazaa'ini wal-kunuuz

Salam dan selamat datang wahai bulan kantong dan harta karun


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-malaa'ikati was-salaam

Salam dan selamat datang wahai bulan malaikat-malaikat dan keselamatan


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-ifthaari wal-suhuur

Salam dan selamat datang wahai bulan buka (puasa) dan sahur


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-mutsiirati wal-ashabb

Salam dan selamat datang wahai bulan persemaian dan tuli dari segala dosa


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahradh-dhu`afaa'

Salam dan selamat datang wahai bulan kaum yang lemah


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-ajri wal-jazaa'

Salam dan selamat datang wahai bulan pembayaran kembali dan pemberian pahala


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahrash-shabri wash-shiyam

Salam dan selamat datang wahai bulan sabar dan puasa


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahras-sa`aadah

Salam dan selamat datang wahai bulan penuh kegembiraan


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-miftaah

Salam dan selamat datang wahai bulan kunci


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-washli wal-wishal

Salam dan selamat datang wahai bulan penyatuan dan pertemuan kembali


marhaban ahlan wa sahlan yaa syahral-wadaadi wal-muhabbah

Salam dan selamat datang wahai bulan persahabatan dan cinta


marhaban ahlan wa sahlan yaa Sayyidasy-Syuhuur

Salam dan selamat datang wahai penghulu dari semua bulan


lam na`rif qadraka wa lam nahfazh hurmataka yaa syahral-ghufraan

Kami belum memperlakukanmu sesuai dengan kebesaran nilaimu

Tidak pula mensucikanmu, wahai bulan pengampunan


fa ardha `annaa wa laa tasykuu minnaa ilar-Rahmaan

Namun demikian, ridalah terhadap kami, jangan salahkan kami di hadapan Yang Maha Pengasih


wa kun syaahidan lanaa bi fadhli wa al-ihsaan

Dan bersaksilah untuk kami dengan kebaikan dan ihsan!

© Islamic Supreme Council of America,
http://www.islamicsupremecouncil.org

Adab Laylat al-Qadr

Niat:

Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah, nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii haadzal-jaami`)

Aku berniat 40 (hari mengasingkan diri), aku berniat untuk beritikaf, aku berniat khalwat, aku berniat mendisiplinkan (ego), aku berniat mengadakan perjalanan di jalan Allah SWT, demi Allah SWT di masjid ini.

  • 2 atau 4 rakaat Sunnah
  • 4 rakaat Fardhu Isya
  • 2 rakaat Sunnah
  • Adab ath-Thariqah
  • Niat

  • Niat untuk melakukan puasa keesokan harinya, disusul dengan niat untuk melaksanakan Salat Tarawih (20 rakaat).
  • Salat Tarawih (20 rakaat, 2-2)
  • Salat Tasbih
  • Salat Syukur
  • Salat Witir
  • Khatm Khwajagan
  • Menghabiskan malam dengan membaca Alquran dan mengamalkan awrad
  • Selama dalam keadaan terjaga, dianjurkan untuk melakukan salat antara 20 sampai 100 rakaat dengan membaca Al-Fatihah dan ayat pertama dan kedua dari Surat Al-Baqarah dan seterusnya (rakaat berikutnya, setelah Fatiha dibaca ayat 1-2 Surat Ali Imran dst).
  • Keesokan harinya dianjurkan untuk bersedekah sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT dan untuk memperbaiki puasa yang telah dilakukan. Bagikan sedekah itu kepada umat Rasulullah SAW, pengikut tarekat, fakir miskin dan orang-orang yang memerlukannya.

Sumber:
The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions
by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
© 2004, Islamic Supreme Council of America