19 Juni 2009

Doa dan Awrad Pelindung Diri

Syekh Hisyam Kabbani QS


Ayat-Ayat Surat al-Kahfi

Sepuluh ayat pertama dan terakhir Surat al-Kahfi perlu dibaca untuk melindungi diri dari fitnah Dajjal.  

Alhamdulillaahil ladzii anzala `alaa `abdihil kitaaba wa lam yaj`al-lahuu `iwajaa [1] qayyiman-liyundzira ba’san syadiidan min ladunhu wa yubasyiral mu’miniinal ladziina ya`maluunash-shaalihaati anna lahum ajran hasana [2] maakitsiina fiihi abada [3] wa yundziral-ladziina qaaluut-takhadzallaahu walada [4] maa lahum bihii min `ilmin wa laa li-abaa-ihim kaburat kalimatan takhruju min afwahihim in yaquuluuna illaa kadziba [5] fala`allaka baakhi`un-nafsaka `alaa aatsaarihim inlam yu’minuu bihaadzal hadiitsi asafa [6]  innaa ja`alnaa maa `alaal ardhi ziinatal-lahaa linabluwahum ayyuhum ahsanu `amala [7] wa innaa lajaa`iluuna maa `alayhaa sha`iidan juruzaa [8] am hasibta anna ash-habal kahfi war-raqiimi kaanuu min aayaatinaa `ajabaa [9] idz awaal fityatu ilal kahfi faqaaluu rabbanaa aatinaa mil-ladunka rahmatan wa hayyi’lanaa min amrinaa rasyadaa [10]  

Alladziina kaanat a`yunuhum fii ghithaa-in `andzikrii wa kaanu laa yastathii`uuna sam`aa [101] afahasibal-ladziina kafaruu an yat-takhidzuu `ibaadii min duunii awliyaa-a innaa a`tadnaa jahannama lil kaafiriina nuzulaa [102] qul hal nunabbiukum bil akhsariina a`maala [103] alladziina dhalla sa`yuhum fil hayaatid-dunyaa wa hum yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun`aa [104] ulaa-ikal-ladziina kafaruu bi-ayaati rabbihim waliqaa-ihii fahabithat a`maaluhum falaa nuqiimu lahum yawmal qiyaamati wazna [105] dzaalika jazaa-uhum jahannamu bimaa kafaruu wat-takhadzuu aayaati wa rusulii huzuwa [106] innal-ladziina aamanuu wa `amilush-shaalihaati kaanat lahum jannaatul firdawsi nuzulaa [107] khaalidiina fiihaa laa yabghuuna `anhaa hiwalaa [108] qul law kaanal bahru midaadal likalimaati rabbi lanafidal bahru qabla antanfada kalimaatu rabbi wa law ji’naa bimitslihii madadaa [109] qul innamaa ana basyarun mitslukum yuuhaa ilayya annamaa ilaahukum ilaahun waahidun faman kaana yarjuu liqaa-a rabbihii falya`mal `amalan shaalihan wa laa yusrik bi`ibaadati rabbihii ahadaa [110] 

 

Wirid Harian untuk Melindungi Diri dari Bencana

Untuk  menghindarkan diri dari kesulitan besar yang akan menimpa manusia pada akhir zaman, umat Muslim disarankan membaca zikir berikut setiap hari:

 

  • Astaghfirullaah wa atuubu ilayh 100-1.000 kali
  • La hawla wa laa quwwata illaa billaahil `Aliyyil `Azhiim 100-1.000 kali
  • Hasbunallah wa ni`mal Wakiil 100-1.000 kali
  • Bismillaahir Rahmaanir Rahiim 100-1.000 kali
  • Yaa Waduud 100-1.000 kali
  • Allah, Allah (bersuara) 5.000 kali
  • Allah, Allah (dalam hati) 5.000 kali
  • Selawat: Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa sallim 2.000 kali
  • Surat al-Ikhlash 100 kali

 

Jika seseorang tidak dapat melaksanakan awrad ini, maka disarankan setidaknya ia melaksanakan Shalaat al-Hifzh (salat perlindungan) 2 rakaat untuk melindungi diri dari kemalangan yang datang baik dari bawah maupun dari atas.  Pada rakaat pertama dibaca Surat al-Ikhlash 2 kali dan rakaat kedua Al-Ikhlash 1 kali setelah al-Fatihah. 


18 Juni 2009

Keutamaan Surat Yasiin


Kutipan Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS

 

Grandsyekh Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berkata, “Jika seseorang duduk dan mengambil wudu, lalu salat Asar dan duduk membaca Surat Yasin satu jam sebelum Magrib, Allah akan meluaskan, yuwasi `alayhi asbaab ad-dunya - Allah SWT akan meningkatkan kesejahteraannya di dunia.  Allah SWT akan mengirimkan suatu rahmat yang istimewa melalui sejenis malaikat yang juga istimewa dan rahmat itu akan datang kepada kita tanpa perlu melakukan sesuatu, kecuali duduk dan membaca Surat Yasin.” 

Grandsyekh melanjutkan, “Sejak usia delapan tahun, aku tidak pernah berhenti membaca Surat Yasin pada waktu Subuh dan Magrib.  Bahkan jika aku mempunyai banyak pekerjaan yang harus dilakukan, aku akan menghentikan pekerjaanku untuk membacanya.  Surat Yasin akan memperpanjang umur seseorang dan tidak akan mempendek umurnya.” 

“Jika seseorang membaca Surat Yasin, seolah-olah ia menghabiskan waktunya dalam beribadah, tanpa henti, tidak ada yang tertinggal dalam 24 jam itu, ia dalam keadaan beribadah sepenuhnya, siapapun yang membacanya pada waktu Subuh dan Magrib, yang merupakan awal bagi siang hari dan awal bagi malam, ia akan dibangkitkan dengan ibadah itu, seolah-olah ia telah beribadah sepanjang hidupnya.” 

Grandsyekh mengatakan, “Sejak usia muda, aku tidak pernah meninggalkannya, karena Yasin adalah jantungnya Alquran.”  Bila kalian telah mendapatkan jantungnya, maka kalian memiliki segalanya.  Bila kalian kehilangan jantung itu, maka kalian kehilangan segalanya.  

Allah SWT berfirman, Yasin. [Shall-allahu…] Wal-Qur'anil-hakiim.  Yasin, demi Alquran yang penuh hikmah. [36:1-2] 

Allah SWT bersumpah dengan Yasin, Nabi SAW dan kemudian bersumpah dengan Alquran suci.  Kemudian Dia berfirman, Innaka la-minal-murasaliin - Ya Muhammad SAW sesungguhnya engkau adalah Utusan Allah SWT.  `Ala shiraathim mustaqiim.  Di jalur yang benar, jalan yang lurus. [36:3-4] 

Itulah sebabnya ketika kalian membaca Surat Yasin, kalian berada di jalur yang benar.  Walaupun kalian memutusnya dalam sehari, namun kalian tetap berada di jalur yang benar.  Ketika kalian melakukan sesuatu yang tidak berada di jalur yang benar, malaikat di sisi kiri tidak akan mencatatnya, “Karena ia membaca Yasin, jangan tulis apapun.”  Ketika kalian membacanya di sore hari, itu sama halnya.  Bagaimana setan bisa datang dan menggoda kalian ketika kalian membaca Yasin, karena itu adalah jantungnya Alquran, itu adalah Nabi SAW. 

Ia berkata, “Jika sekelompok orang bertemu bersama sebelum Magrib dan duduk di dalam suatu lingkaran dan membaca Surat Yasin, Allah SWT akan melindungi mereka di dunia dan akhirat dan Allah SWT akan membimbing mereka hingga mereka meninggalkan dunia ini dan kemudian membawa mereka ke hadirat Nabi SAW, bagi mereka yang membaca Surat Yasin di waktu Subuh dan Magrib.” 

Ia berkata, “Seorang manusia, jika ia bangun setengah jam atau satu jam atau sepuluh menit atau bahkan lima menit sebelum Subuh, lalu mengambil wudu dan salat dua rakaat maka Allah SWT akan memberinya ganjaran lebih dari yang Dia berikan kepadanya untuk seluruh salat yang dilakukan pada siang harinya.” 

“Mengapa?  Karena ia bangun sementara orang-orang niaam, tidur.  Ia salat untuk Tuhannya dan tak seorang pun yang melihatnya.  Tak seorang pun yang melihat kalian.  Allah SWT suka itu.  Bukannya beribadah kepada Allah SWT karena ada orang yang melihatnya.  Apa yang kita lakukan?  Kita adalah para pendosa.  Karakter buruk kita, kita salat ketika ada orang, ketika tidak ada orang, “Ya Allah, siapa peduli?”  Itu adalah sesuatu antara kalian dengan Allah SWT.  Itu adalah apa yang Allah SWT suka.  Dia suka sesuatu yang kalian lakukan dan tak ada yang mengetahuinya.

 

Ketika membaca Surat Yasin, Mawlana Syekh Nazim QS berhenti untuk mengucapkan kalimat shallalaahu `alayhi wa sallam, karena Yasin adalah salah satu nama dari Nabi Muhammad SAW.  Setelah membaca ayat [36:58], beliau mengucapkan, razaqanaa Allaah (semoga Allah memberi rezeki kepada kita) dan setelah membaca ayat [36:59], beliau mengucapkan a`aadzanaa Allaah (semoga Allah melindungi kita).  Setelah selesai membaca Surat Yasin beliau juga mengucapkan kullu syay-in haalikun ila wajhah/lahul hukmu wa ilayhi turja`uun.


kaligrafi oleh Sana Naveed (www.muhammadanart.com)



07 April 2009

Link ke Berbagai Qasidah


Berikut ini adalah daftar link ke berbagai qasidah:
kaligrafi oleh Sana Naveed (www.muhammadanart.com)
Seluruh link dikutip dari http://surban.org

28 Maret 2009

Tabaruk dengan rambut dan kuku Nabi SAW

Mengenai hal ini kita menemukan banyak riwayat, misalnya yang diriwayatkan oleh al-Bukhari: 

Utsman ibn Abdullah ibn Mawhab berkata, “Keluargaku menyuruhku menemui Ummu Salamah membawa segelas air. Ummu Salamah mengeluarkan sebuah botol perak berisi beberapa helai rambut Nabi SAW, yang ia pergunakan ketika ada seseorang yang berada di bawah pengaruh jahat atau sakit. Biasanya mereka mengirimkan segelas air yang kemudian ke dalamnya dicelupkan rambut ini (untuk diminum). Kami biasa melihat botol perak itu; aku melihat di dalamnya beberapa helai rambut pirang.”1 

Masih menurut al-Bukhari, Anas berkata, “Ketika Nabi SAW mencukur rambutnya (setelah ibadah haji), Abu Thalhah menjadi orang pertama yang mengambil rambutnya.” 

Sementara dari riwayat Muslim, Anas berkata, “Nabi SAW melempar batu dalam jumrah, kemudian menyembelih hewan korban, lalu memerintahkan tukang cukur untuk mencukur rambutnya pada bagian kanan terlebih dahulu, kemudian beliau mulai memberikan rambut itu kepada umat.” 

Anas berkata, “Thalhahlah yang membagi-bagi rambut itu.”2 

Dan menurut Ahmad, Thalhah berkata, “Ketika Nabi SAW mencukur rambutnya di Mina, beliau memberiku rambut itu dari bagian kepala sebelah kanan seraya bersabda: ‘Anas, bawalah rambut ini ke Ummu Sulaym (ibunda Anas). Ketika para sahabat melihat apa yang diberikan Nabi SAW kepadaku, mereka mulai berebut mengambil rambut itu dari bagian kiri kepala, dan setiap orang mendapatkan bagiannya.” 

Ibn al-Sakan meriwayatkan melalui Shafwan ibn Hubairah dari ayahnya, dari Tsabit al-Bunani bahwa Anas ibn Malik berkata kepadanya (menjelang kematiannya), “Inilah sehelai rambut Rasulullah saw. Aku ingin kau meletakkannya di bawah lidahku (setelah aku mati).” Tsabit melanjutkan, “Aku meletakkannya di bawah lidahnya, dan ia dimakamkan bersama rambut itu.”3 

Abu Bakr berkata, “Aku melihat Khalid (ibn al-Walid) meminta gombak Nabi SAW dan mendapatkannya. Ia pernah meletakkannya di dekat matanya dan kemudian menciumnya.” Dikisahkan bahwa ia meletakkannya dalam qalansuwah (penutup kepala yang diikat serban)-nya dan setiap kali berperang ia selalu memenangkannya. Diriwayatkan oleh Ibn Hajar dalam karyanya, Ishâbah: Ibn Abi Zaid al-Qairawani meriwayatkan bahwa Imam Malik berkata, “Khalid ibn al-Walid memiliki sebuah qalansuwah yang didalamnya disimpan beberapa helai rambut Nabi saw., dan itulah yang dipakainya dalam Perang Yarmuk.”4

Ibn Sirin (seorang tabiin) berkata, “Sehelai rambut Nabi SAW yang kumiliki jauh lebih berharga daripada perak dan emas dan dari dunia beserta segala isinya.” (diriwayatkan oleh al-Bukhari, al-Baihaqi (Sunan Kubrâ), dan Ahmad). 

Dalam Shahîh al-Bukhari,5 Utsman ibn Abdullah ibn Mawhab berkata, “Kaumku mengutusku dengan membawa sebotol air kepada Ummu Salamah.” Ia mengacungkan tiga jari yang menunjukkan ukuran botol yang berisi beberapa helai rambut Nabi SAW Ustman menambahkan, “Jika seseorang sakit karena kutukan (teluh) atau penyakit lainnya, ia akan mengirim gelas (berisi air) kepada Ummu Salamah (dan ia akan mencelupkan rambut Nabi SAW ke dalamnya dan kemudian air itu diminum). Aku melihat di dalam botol itu ada beberapa helai rambut kemerahan.” 

Hafiz Ibn Hajar berkata, “Mereka biasa menyebut botol tempat menyimpan rambut Nabi SAW dengan jiljâlan, yang disimpan di rumah Ummu Salamah.”6

Hafiz al-Aini berkata: 

Ummu Salamah menyimpan beberapa helai rambut Nabi SAW dalam sebuah botol perak. Ketika beberapa orang menderita sakit, mereka menemuinya dan memohon keberkahan rambut ini. Karena keberkahannya, mereka sembuh. Jika seseorang diserang penyakit karena teluh atau penyakit lain, ia akan mengutus istrinya kepada Ummu Salamah membawa sebuah mikhdzabah atau tempat air, dan ia akan mencelupkan rambut itu ke dalam air itu lalu air itu diminum, dan orang itu pun sembuh. Setelah itu, rambut tersebut disimpan kembali di dalam jiljâl.7 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah ibn Zaid ibn Abdi Rabbih dengan sanad yang sahih, bahwa Nabi SAW memotong kukunya dan membagikannya kepada umat.8

 

Catatan:

1Al-Bukhari, Shahîh, dalam Kitab Pakaian, bab “Apa yang disebut rambut kelabu.”

2Muslim, al-Tirmidzi, Abu Dawud.

3Diriwayatkan oleh Ibn Hajar dalam al-Ishâbah fî Tamyîz al-Shahâbah, (Kalkuta, 1983), 1:72, di bawah entri: “Anas ibn Malik.”

4Ibn Abi Zaid, al-Jâmi‘ fî al-Sunan, (edisi 1982), h. 227.

5Shahîh al-Bukhari, Jilid 7, Kitab 72, no. 784.

6Ibn Hajar, Fath al-Barî, Jilid 10, h. 353.

7Hafiz al-Aini, ‘Umdah al-Qâri’, Jilid 18, h. 79.

8Imam Ahmad dalam karyanya, Musnad (4: 42), menurut al-Haitami dalam Majma‘ al-Zawâid (3:19).


Sumber:

Syafaat, Tawasul dan Tabaruk (Syekh Hisyam Kabbani QS)

Seri Akidah Ahlussunah, penerbit Serambi

Terjemahan dari:

Encyclopedia of Islamic Doctrine Vol.4: Intercession (Tawassul), oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani qs (KAZI Publications, 1998)

23 Maret 2009

Empat Tingkatan Mursyid Naqsybandi

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

http://www.nurmuhammad.com/NaqshbandiSecrets/naqshmurshid.htm 

19 Desember 2001

(translasi oleh Eyang Soetono) 


Jika engkau sungguh mencintai Allah SWT, taati aku dan Allah SWT akan mencintaimu [Qur’an].  Para Syuyukh Naqsybandi adalah pembimbing menuju Sayyidina Muhammad SAW dan Allah SWT. Apapun yang diberikan Nabi SAW, ambillah; dan apapun yang dilarangnya, tinggalkanlah.  Mereka memelihara disiplin syariat untuk membangun kalian dengan kewajiban harian menuju level iman dan berlanjut menuju level ihsan. 

Mursyid Sejati terdiri atas empat tingkatan:

Mursyid Tabarruk: Penunjuk jalan terutama untuk menerima barakah dan biasanya menyelesaikan tugasnya dengan memberi kalian sebuah awrad (wirid) dan praktek harian.

Mursyid Tazkiyya: Penunjuk jalan yang mengangkat (derajat) kalian ke atas dengan mengambil amal buruk dan keinginan buruk kalian.

Mursyid Tasfiyya: Penunjuk jalan yang melenyapkan semua keinginan kalian terhadap dunia. 

Mursyid Tarbiyya: Level tertinggi yang akan mengangkat (derajat) kalian dengan disiplin dan membawa kalian kepada maqam kalian di Hadirat Ilahi.

 

MURSYID AT-TABARRUK

Dia berada pada tingkat pertama dan diperkenankan untuk mengajari kalian dan menaruh talqin dzikr pada lidah kalian.  Dia mengajari kalian untuk mengingat dan menyeru Allah SWT, dan bagaimana untuk mengikuti perintah Allah SWT. Dia memberi kalian langkah pertama pada jalan tarekat.  Seperti anak kecil yang kata pertamanya adalah “baba,” kalian menyeru pada siapa yang pertama kali kalian cintai. Jadi dia mengajari kalian bagaimana mengatakan “Allah” dan untuk membangun hubungan itu antara hati kalian dengan Surga. Dengan pembacaan doa, kalian akan mengenali tanda-tanda Allah SWT. Jika kalian tidak melihatnya, berarti kalian mencapai tahap yang coba ditunjukkan oleh Mursyid itu kepada kalian. Dia harus meletakkan  sultan adz-dzikr pada lidah kalian yang digambarkan dalam al- Quran:

Kami mengungkapkan al-Quran dan Kami melindunginya. 

Dia akan meletakkan pembacaan al-Quran dan Asma Allah SWT dan arah menuju Nabi SAW (yaitu, bagaimana membaca selawat) sesuai dengan kebutuhan pribadi kalian untuk mencapai hadirat Sayyidina Muhammad SAW. Pembacaan selawat berbeda-beda antara seseorang dengan orang lainnya.  Mursyid memberi tahu kalian mana Asma Allah SWT yang dibaca dan bagaimana membaca selawat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kalian. 

Mursyid at-Tabarruk harus memiliki pengetahuan dan kuasa atas segala pujian terhadap Allah SWT – baik yang terucap maupun dalam hati.  Dia harus mengetahui zikir setiap makhluk yang ada, baik yang hidup maupun yang tidak hidup.  Dia juga tahu apa yang dibutuhkan oleh tubuh kalian untuk membaca tasbih, karena setiap sel dalam tubuh kalian memiliki tasbih tertentu.  Mursyid ini mengetahui bahasa apa dan tasbih jenis apa yang dibuat setiap makhluk, mendengarkannya secara serentak, tanpa tumpang-tindih atau membingungkan. Dia mengetahui semua tasbih untuk muslim dan nonmuslim, karena tubuh mereka membuat tasbih tanpa memandang apakah tubuh dan pikirannya menerima Islam.  Dia menerima dari Nabi SAW ilmu tentang informasi yang tepat (presisi) tentang apa yang diperbuat oleh setiap makhluk yang hidup dan nonhidup, baik di dunia maupun di alam barzakh.  Dia juga tahu benar tentang jin dan kelebihan yang diberikan kepada mereka dari Allah SWT dan/atau  hukumannya.  Dia mengetahui secara tepat bagaimana setiap insan dan jin dapat memperoleh rida Allah SWT, termasuk amal apa yang membuka pintu untuk mencapai barakah hadirat Sayyidina Muhammad SAW.  Dia akan mengtahui tasbih apa yang diperlukan murid untuk tubuhnya dan untuk jiwanya, secara terpisah.

Mursyid at-Tabarruk mengtahui nama semua manusia sepanjang penciptaan, sebagaimana diajarkan kepada Adam AS, dan dicontohkan dalam ayat-ayat al-Quran, di mana Allah SWT bertanya kepada Malaikat apakah mereka tahu semua nama ciptaan, namun mereka tidak mengetahuinya.  Ketika Dia bertanya kepada Adam AS, dia membaca semua nama ciptaan satu per satu. Ketika dilakukan (pembacaan) itu, setiap bentuk spiritual mereka muncul di depan Adam AS. Mursyid ini tentu telah mewarisi kuasa itu dari Adam AS.

Dia harus tahu para malaikat dari setiap makhluk ciptaan, termasuk mereka yang mencatat amal baik dan amal buruk kalian, demikian pula mereka yang memonitor jumlah makanan yang kalian lahap. Dia harus tahu semua malaikat yang melayani manusia. Dia harus tahu berbagai giliran malaikat yang turun – mereka yang turun sepuluh menit sebelum Fajar, sebelum Maghrib, dan antara Maghrib dan Isya.  (Catatan: pada masa lalu, giliran ganti pada saat Zuhur, namun pada masa Grandsyekh `Abdullah QS, waktu itu diganti menjadi antara Ashar dan Maghrib).  Para malaikat yang datang pada gilirannya ini mengharapkan murid untuk melaksanakan awrad yang diwajibkan dari Mursyidnya ini. Mereka mengharap melihat murid terlibat dalam praktek ini ketika mereka turun (ke dunia), agar dapat meneruskan cahaya dan hubungan surgawi yang mereka miliki.  

Jika murid itu tidak melaksanakan kewajiban wiridnya itu dalam kurun waktu khusus ini, malaikat tidak dapat mencerahkan hatinya. Pada dasarnya, murid yang tidak melakukan wiridnya adalah seperti keledai.

Sebagai balasan dari memelihara kewajiban hariannya, murid dapat mengandalkan perlindungan Mursyidnya dan mendapat jaminan sambungannya kepada Sayyidina Muhammad SAW.  Pertalian ini harus ada, agar Mursyid dapat menyerahkan murid itu ke tahap kedua, yaitu kepada Mursyid at-Tazkiyya.

Tahap pertama ini dimulai dengan membaca sehari-hari 5.000 kali “Allah, Allah” dan membaca 500 kali selawat dengan cara yang telah dirumuskan bagi murid.  Tahap berikutnya adalah membaca sehari-hari 24.000 kali “Allah, Allah” dan 5.000 kali selawat.   Ini baru tahap pertama dari tujuh belas tahap yang berbeda dari Mursyid Tabarruk. 

Grandsyekh berhenti sampai di tahap satu ini karena dia berkata bahwa pikiran orang-orang  tidak dapat membawa lebih dari itu.  Setelah semua tujuh belas tahap berikutnya adalah tahap Mursyid at-Tazkiyya.

Dalam mata rantai Tarekat Naqsybandi selain Mata Rantai Emas kita, mungkin terdapat pribadi yang berbeda untuk mengisi masing-masing setiap posisi dari empat tahapan ini. Dalam banyak kasus, seorang Syekh dapat memanggul dua sampai tiga tahapan sebelum Syekh lainnya mengambil alih secara fisik. Namun dalam Mata Rantai Emas, Syekh di zaman ini memiliki otoritas dan kuasa untuk mengatur keempat tahapan bagi setiap murid. Itulah sebabnya sekali seseorang mengambil bay’at dalam tarekat kita, mereka tidak akan pernah membutuhkan Mursyid lainnya.  Di masa ini, Syekh hanya ingin agar kita menyadari bahwa kita tidak memiliki kemampuan melakukan sesuatu yang berguna.  Makin buruk anggapan kita tentang diri kita, makin bahagia beliau dengan kita. Beliau ingin kita mengetahui bahwa amal kita tak akan pernah membawa kita ke mana-mana, dan bahwa satu-satunya kesempatan yang kita miliki adalah keterlibatan Syekh kita.  Maka kita harus terus-menerus minta ampunan dan kasihnya. 

Grandsyekh `Abdullah QS (semoga Allah SWT mensucikan ruhnya) sering mengingatkan kita hal berikut ini: 

“Engkau harus selalu terus-menerus menancapkan tiga kukumu ke dahimu (yaitu ingat tiga hukum ini setiap saat jika engkau ingin berhasil dalam tarekat). 

“Jika Aku memberimu sebuah sekop patah dan memerintahkan kamu untuk menggali sampai ke dalam tengah bumi untuk mendapatkan berlianmu, kamu harus menggali. Kamu jangan pernah bertanya mengapa atau mengeluh; kamu hanya perlu menggali.”

“Jika Aku memberimu sebuah ember dan berkata ‘kuras samudra itu’, jangan menanyakan bahwa air tidak akan pernah berkurang, atau mendebat bahwa tidaklah mungkin menguras samudra dengan sebuah ember: cukup mulailah mengurasnya! Sesaat pikiran itu muncul pada dirimu bahwa tugas itu adalah tidak mungkin, tidak praktis, atau tidak ada gunanya, kamu gagal dalam ujian itu dan harus memulai lagi dari awal.”

“Jika Aku mengatakan (pada) semut makanannya ada di Barat dan dia berada di Timur, dia akan langsung mulai berjalan. Murid harus seperti semut itu: jangan menggunakan pikiranmu untuk mengetahui bagaimana kamu akan mendapat makananmu, cukup berjalanlah! Jika kamu meninggal dalam upaya, kamu meninggal, dan kamu berserah diri.”

Instruksi paling penting adalah, jika seseorang melaksanakan (menyelesaikan) tiga amalan ini secara tekun, Allah SWT akan mengirim malaikat Riiha Sibah, yang akan membawa murid itu ke Hadirat Ilahi! Dia akan melakukan ini untuk kita karena kita mematuhi Allah SWT dengan mematuhi Syekh kita, dan Rahmat-Nya adalah tak terbatas dan Dia melakukan yang Dia kehendaki. Kita akan mencapai Tahap Ilahiah bukan karena amal, ibadah, atau pengorbanan kita yang manapun, namun karena tahap kepasrahan kita.

Ketika mendengar ini, seorang murid bertanya, “Jadi mengapa bersungguh-sungguh dalam ibadah?” Syekh akan membawa setiap pengikutnya ke Hadirat Ilahi sampai pada satu titik, tetapi hanya mereka yang bersungguh-sungguh di Jalan Allah SWT yang sesungguhnya akan melihat dan mendengar dalam Samudra itu. Untuk seseorang khusus yang memenuhi kewajiban mereka, penampakan dan suara akan terbuka bagi mereka. Kalian jangan pernah mencoba bangga karena telah menyelesaikan kewajiban kalian, jangan. Menyadari itu tidak berharga seperser pun, namun lakukanlah (persembahan) itu dengan taat dan rendah hati, dengan menyadari bahwa tanpa Syekh, kalian adalah seorang pecundang. 

 

MURSYID AT-TAZKIYYA 

Sebagaimana telah dikatakan, terdapat empat kategori Mursyid. Pertama adalah Mursyid at-Tabarruk. Mursyid ini membimbingmu untuk melaksanakan beberapa bentuk ibadah seperti zikir dan pembacaan al-Quran, untuk mendapat hadiah dari Allah SWT. 

Kategori kedua adalah Mursyid at-Tazkiyya. Dia membimbing kalian dalam proses pencucian yang disebut tazkiyat an-nafs. Bagaimana seseorang mencuci atau menyucikan diri sendiri?  Perjuangan jenis apa yang harus dilewati oleh seseorang agar mencapai kendali atas nafsu/keinginannya? Nabi SAW menggambarkan perjuangan ini, al-jihad an-nafs, sebagai jihad al-akbar dalam hadits berikut ini: 

"Kita kembali dari jihad al-asghar kepada jihad al-akbar.” 

Para sahabat bertanya, “Apakah jihad al-akbar?” artinya, “Apa yang lebih hebat dari memerangi orang tak-beriman, di jalan Allah SWT dan berharap mati setiap saat?” Beliau menjawab, “Jihad al-nafs.” 

Adalah sangat sukar untuk melawan diri sendiri. Adalah mudah untuk memerangi musuh seseorang, karena kalian tahu bahwa dia adalah musuh kalian, namun diri kalian tak akan pernah mengatakan pada kalian bahwa dia adalah musuhmu. Nabi SAW mengatakan, “Barang siapa mengekang apapun di antara kedua rahangnya dan kedua kakinya, Aku menjamin surga baginya.” Nafsu/keinginan adalah apapun yang datang dan berasal dari mulut dan apapun yang berproses dari nafsu seksual, syahwat al-haraam. Jihad an-nafs memberikan kendali terhadap keinginan seperti itu.

Diri kalian sendiri tak akan membiarkan kalian mengendalikan itu. Itu akan selalu dalam sebuah perlawanan/pertentangan dengan kalian.  Lidah akan selalu menginginkan makanan yang paling enak. Dalam berjuang melawan diri sendiri, pertama adalah keinginan akan makanan. Kalian menginginkan jenis makanan terbaik, kalian selalu mencari berbagai jenis makanan. Jika kalian telah memiliki sepuluh, kalian menginginkan dua belas.  Mata selalu lapar! 

Nabi SAW bersama para sahabat, sering sekali memakan sisa kuah daging, tanpa daging sedikit pun. Mereka mencelupkan roti ke dalam saus/kuah, menganggapnya sebagai suatu makanan yang lezat, dan mereka berbahagia, alhamdulillah. Hari ini, oh! Kita menginginkan begitu banyak makanan, diimpor dari negeri lain, untuk membuat berbagai macam makan eksotik!  Jadi, pada tataran ini, melarang lidah kalian untuk makan barang haram dan bahkan kekenyangan, adalah sangat penting. Bergosip, bohong, menyebarkan kekacauan dan merencanakan pemberontakan – semua ini melewati lidah dan harus dihindarkan karena itu berasal dari setan. Seseorang yang menggemari praktek tersebut menjadi seperti seekor burung merak ‑ sombong. Fir’aun menjadi begitu sombong, berkata, “Akulah Pangeran (Rabb) kalian Yang Maha Tinggi.” Dia tidak mau melihat siapapun lebih tinggi darinya.

 

Bagaimana Mursyid at-Tazkiyya menghancurkan keinginan seperti ini?

Dengan menunjukkan bagaimana mengikuti jejak Nabi SAW melawan diri sendiri  atas empat musuh: ego, dunia, hawa, dan setan. Setiap orang memiliki keempat musuh ini melekat pada dirinya, tanpa kecuali. Mursyid ini mengajari kalian untuk berjuang terhadap musuh ini dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. 

Sebagai tambahan, Mursyid at-Tazkiyya memiliki pengetahuan lengkap tentang empat madzhab pikiran dalam Islam. Dia harus tahu riwayat hidup dan semua hukum fiqih, pendapat jumhur ulama dan ajaran agama dari Imam Abu Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi‘i, dan Imam Ahmad. Agar dapat membimbing murid, Mursyid tahap ini harus memiliki akses spiritual lengkap yang dibawa keempat imam legendaris ini, dan dia dapat mengikuti mereka tanpa salah sedikit pun; kalau tidak demikian, dia tidak akan dapat membimbing kalian. 

Semua kualitas seorang Mursyid at-Tabarruk harus dipegang oleh seorang Mursyid at-Tazkiyya dan di atas itu dia harus memiliki ilmu dari empat madzhab, dan dia harus memiliki ijazahnya. Lembaga masa kini mengabaikan tradisi ini dengan memberikan gelar PhD (Doktor). Dari awal Islam sampai dengan tiga puluh hingga empat puluh tahun lalu, tidak terdapat PhD, hanya ada ijazah - izin. Syekh mengakui muridnya telah menyelesaikan pelajaran mereka di bawah bimbingannya, dan memberi wewenang kepada mereka untuk mengajar. Syekh harus menerima ijazahnya dari Syekh sebelumnya, mengikuti jejak mata rantai ke belakang yang berujung pada salah satu dari empat imam.  

Sistem ini telah dimusnahkan habis dalam jangka waktu lima puluh tahun terakhir ini. Kini Islam dipelajari dalam sistem universitas yang tiada hubungannya dengan bagaimana Islam diajarkan selama empat belas abad. Itulah sebabnya ulama Islam masa kini tidak memiliki cahaya, tetapi hanya perhatian kepada kekayaan dan titel di mana ulama masa lalu sama sekali tidak memiliki perhatian terhadap hal itu. Ulama masa lalu duduk di sudut-sudut masjid, mengajari murid mereka tentang cinta, toleransi, dan barakah Islam. Ulama masa kini mengajari bagaimana puasa, bagaimana untuk menimbulkan kekacauan, menukil dan menempelkan dari al--Quran dan Hadits, mengajari murid mereka untuk menyebarkan kebingungan.  Mengapa muslim tidak berhasil? Karena mereka sangat jauh dari agama mereka.  Orang seperti kita, kita bukan pemimpin, dan kita bukan presiden. Kita tak dapat membuat perubahan. Mereka yang dapat melakukan perubahan jauh dari Islam; mereka adalah muslim dalam nama saja. 

Mursyid at-Tazkiyya memulai dengan laa ilaaha ill-Allah. Apa yang pertama kali dibawa oleh Nabi SAW, Laa ilaaha ill-Allah. Ketika kalimat itu terbentuk dalam diri, bagaimana empat musuh itu dapat menyerang kalian? Bila kalian percaya akan hal itu, dan memegang teguh kepercayaan akan akhirat, kalian tidak dapat terlibat dalam kesalahan apapun. Kita mengucapkan (kalimat) itu hanya dengan lidah, namun tidak dengan perbuatan. Jika kita mengucapkannya dalam kebenaran dengan lidah dan perbuatan, Allah SWT dan Nabi-Nya akan mendukung kita.  Jangan mengira kita tidak akan menghadapi kesukaran. Apakah Nabi SAW menderita oleh umatnya? Beliau berkata, "Tiada seorang Nabi pun yang dilukai oleh umatnya sebagaimana aku dilukai oleh umatku.”  Beliau adalah Rasul terbaik, namun Allah SWT mengiriminya dengan kesukaran untuk melihat fondasinya dan taat asasnya.   Maka Laa ilaaha ill-Allah hanya terbentuk dalam diri Nabi SAW. karena beliau adalah pembawa kalimat tersebut yang paling sempurna.  Jika seorang dari ulama masa kini mengangkat satu kakinya dari bumi dan terbang, dia akan begitu sombong, dan umat akan mulai menyembahnya.   Nabi SAW pergi Isra dan Mi’raj. Dalam sebuah tubuh fisik yang dibuat sesuai dengan hukum alam (dunia) ini, beliau bergerak (dalam ruang) melawan hukum alam ini, ke Surga lalu kembali, dan beliau tidak pernah sombong.  Beliau adalah sosok pribadi paling sederhana.  Beliau tidak pernah mengangkat kepalanya. Kini jika seseorang terangkat bahkan bukan terangkat dari bumi, namun hanya terangkat ke sebuah kursi, dia menjadi begitu sombong sehingga dia bahkan tidak mau menerima tamu yang mengetuk pintunya. 

Janganlah menolak untuk membuka pintumu!  Mursyid at-Tazkiyya adalah seseorang yang berlari mengejar Allah SWT.  Allah SWT mengiriminya hamba yang jujur, berlari menyertainya. Hal pertama yang diajarkan kepadanya adalah laa ilaaha ill-Allah, untuk membentuk tawhid sempurna dalam pengikutnya. Ketika itu sudah terbentuk, maka mereka dapat mengucapkan “Allah, Allah”.  Pada saat itu mereka melihat tanda-tanda Allah SWT di mana-mana.  Kemudian mereka dapat bersaksi: asy-hadu allaa ilaaha ill-Allah wa asy-hadu anna Muhammadan `Abduhu wa Rasuuluh. Pada saat itulah mereka melakukan syahadat yang benar. 

Tugasnya adalah meletakkan `Asma al-Jalalah, “Allah, Allah” pada lidah kalian paling sedikit 24.000 kali.  Orang mungkin mengatakan bahwa itu akan mengambil waktu seharian. Cobalah itu esok, dan katakan padaku berapa lama itu mengambil waktu. Itu tidak akan lebih lama dari satu jam, tetapi lebih dekat kepada setengah jam. Dan setelah itu membaca 5000 shalawat Nabi SAW. Itu akan memakan waktu setengah jam. Jadi jumlah keduanya adalah satu jam! 

Pada tahun 1996 Syekh saya, Syekh Nazhim Adil al-Haqqani QS (semoga Allah SWT mensucikan ruhnya) memerintahkan saya berkhalwat untuk empat puluh hari dalam sebuah masjid di Turki.   Beliau berkata, “Setiap hari ucapkan paling sedikit 48.000 kali “Allah, Allah” dan 24.000 kali shalawat dan sepuluh juz al-Quran. Jika kamu menyelesaikan itu, kamu dapat melanjutkan sampai kepada 124.000 kali “Allah, Allah” dan 48.000 shalawat dan dua puluh juz.  Jika kamu menyelesaikan itu, baca seluruh al-Quran dan 700.000 kali “Allah, Allah” dan 240.000 shalawat.” 

Itu sangat melelahkan. Meskipun saya tidak pernah memenuhi bacaan harian tiga puluh juz al-Quran, saya mencapai 700.000 kali “Allah, Allah”, 48.000 kali shalawat dan lima belas juz. Ini adalah tambahan dari semua awrad lainnya. 

Itu adalah Mursyid at-Tazkiyya.  Ketika mereka mengatakan, “Lakukan itu”, mereka mengirimkan dukungan.  Bila kalian berjalan pada Jalan Allah SWT, Dia mendekati kalian. Itu adalah sebuah hadits Qudsi, “Jika kalian mendatangi Allah SWT sejarak satu hasta, Dia datang kepada kalian sejarak sepuluh hasta, dan jika kalian datang kepada-Nya berjalan, Dia datang kepada kalian dengan berlari.”  Itu artinya Allah SWT mengirim bantuan-Nya, Kuasa-Nya, selama kalian memperlihatkan kemajuan. 

Jika kita memperlihatkan kemajuan, Allah SWT akan mengirim bantuan Nya.  Semoga Allah SWT mengirimi kita bantuan-Nya.  Seorang Mursyid at-Tazkiyya telah memiliki semua karakteristik dari seorang Mursyid at-Tabarruk. Dia memiliki metodenya, jalannya, dan telah mewarisi rahasia dari Nabi SAW untuk melakukan proses penyucian kepada pengikutnya melalui perjuangan murid di dalam diri mereka. 

Mursyid at-Tazkiyya harus menjadi seorang yang selalu melakukan sunnah dan syariat Nabi SAW dalam tingkatan yang tertinggi, memelihara al-‘aziima.  Dia sadar terhadap pemikiran apapun yang mendatangi pikirannya yang tidak sejalan dengan empat madzhab, dan dia menolaknya, karena dia telah dinaikkan pada level di mana seluruh hati dan pikirannya diarahkan oleh keempat madzhab, mengikuti sunnah Nabi SAW. 

Dia telah mendapat izin untuk memberi instruksi dan membimbing pengikutnya untuk memanggil Rabb mereka dalam tahlil dua puluh empat ribu kali dan dengan mengucapkan dua puluh empat ribu “Allah, Allah” dan mengucapkan shalawat lima ribu kali. Ketika mereka mengatakan “Allah”, hati dan lidah bekerja bersama, seperti kombinasi raga dan ruh, kombinasi ruh dan pikiran, menggunakan bentuk fisik dan bentuk ruhaniah, menggabungkan dua elemen ini untuk membuat mereka menjadi pencari pada jalan ilahiah. Setiap kali seorang murid berkata “Allah” hatinya berirama dan lidahnya berirama secara bersamaan, terbang kepada Hadirat Ilahiah.  

Hingga kini, murid Tarekat Naqsybandi berada pada tahap awal, jadi mereka masih pada tataran pertama.  Pada tataran itu mereka tidak dapat melihat pencerahan jenis itu yang terkuak di hadapan mereka. Hanya di bawah asuhan Mursyid at-Tazkiyya, seorang mubtadi‘ bergerak ke tataran musta‘i, di mana Syekh akan menaruh zikir pada lidahnya yang akan mengangkatnya ke Hadirat Ilahiah.  Mursyid at-Tazkiyya dapat memanggil Syekh Naqsybandi di mana pun, hidup atau mati.  

Ketika dia memanggilnya,  Syekh itu akan segera datang melalui kekuatan spiritual Mursyid at-Tazkiyya. Berapa banyak Syekh telah mencapai tahap wali melalui Tarekat Naqsybandi? Mursyid at-Tazkiyya manapun yang memanggil, hidup maupun tidak, mereka harus datang dan memenuhi kebutuhannya. Dari kuasa yang diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW, beliau selanjutnya memberikannya kepada Mursyid at-Tazkiyya, agar Mursyid itu mengetahui semua awliya Allah SWT di setiap abad, dengan namanya maupun ruhaniahnya. Lagi pula, Mursyid itu memiliki hubungan dengan mereka, karena dia memerlukan mereka dan mereka memerlukan dia.  Dia harus tahu keluasan ilmu mereka, dan dari pancuran (mata air) ilmu yang mana  mereka melepaskan dahaga mereka.  Pada setiap waktu khusus, dia harus tahu ilmu apa yang sedang diterima wali itu, dan untuk hikmah dan tujuan apa mereka menerima ilmu itu. 

Sebagai tambahan, dia harus tahu setiap wali di antara mereka, dan dari Nabi SAW yang mana dia mewarisi ilmu rahasia itu, karena setiap wali berada dalam tapak tilas satu di antara seratus dua puluh empat ribu anbiya, menurut hadits al-‘ulama warits at al-anbiya

Kekhususan Mursyid at-Tazkiyya lainnya adalah bahwa dia selalu sadar akan serangan dari empat musuh kepada setiap muridnya. Allah SWT mengaruniakan kepada mereka sebuah kekuatan untuk bersama setiap muridnya, untuk memastikan mana dari empat musuh yang sedang menyerang dan memperdaya mereka.  Pada saat demikian itu, dia akan menangkap musuh itu dan menghindarkan mereka dari penyerangan terhadap muridnya. 

Dalam kawalannya, murid akan mencapai tahap zahid dalam hidup ini. Mereka menjadi seseorang yang mempersembahkan seluruh perhatiannya semata-mata untuk membangun masyarakat yang sempurna dan ideal, kelompok dalam masyarakat dan bangsa, di mana tidak seorang pun membeda-bedakan terhadap ciptaan Allah SWT. 

Bilamana seorang dari muridnya merasakan kemalasan, kelelahan, penyesalan, depresi atau perasaaan negatif lainnya, hanya dengan satu kata Mursyid at-Tazkiyya dapat mengusir perasaan negatif itu dan membuat murid itu merasa lega dan santai. Itulah sebabnya jika duduk bersama Mawlana Syekh Nazhim QS, semua beban akan terbuang karena daya tarik yang datang dari matanya. 

Mursyid at-Tazkiyya harus membentuk muridnya untuk berpegang teguh pada tahap tertinggi dari syariat dan sunnah Nabi SAW.  Itu berarti di samping semua kewajiban (fardhu), Syekh akan mendorong muridnya untuk menegakkan ibadah-ibadah sunnah. Sebuah contoh adalah tentang sebuah rukhsa – kalian mempunyai wudu dan mempertahankannya sampai salat berikutnya. Kalian tidak memperbaharui wudu pada saat itu. Namun tahap kedua dari azhiima adalah mengambil wudu pada setiap waktu salat; tahap tertinggi adalah untuk melakukan ghusl (mandi suci) pada setiap waktu salat. 

Mursyid at-Tazkiyya harus memegang kuasa untuk memberi mimpi benar kepada murid.  

Dalam pengalaman saya, banyak orang datang dan mengatakan, “Saya melihat seorang Syekh dalam mimpi saya.”  Dia tampak seperti ini (menggambarkan mimpinya) dan memberikan saya sebuah barang (cindera mata) dari Sayyidina Muhammad SAW.” Kemudian, mereka mengecek kepada Syekh secara berhadapan, atau mereka melihat fotonya di Internet, atau mereka melihat seorang murid Syekh itu dalam sebuah mimpi padahal dia tidak mengenalnya. 

Kemudian mereka bertemu dengan Syekh itu, dan menyadari mereka melihatnya sebelum ini dalam sebuah mimpi.  Mursyid dapat mencapai (menghubungi) siapapun di dunia ini melalui mimpi dan penampakan.  Orang dapat menjadi pengikut melalui mimpi dan penampakan, membaktikan diri untuk mengikuti jalan ahlus-sunnah wal-jama‘ah pada level tertinggi, bahkan menerima perintah dari Syekh melalui mimpi dan penampakan. Begitulah kekuatan seorang Mursyid at-Tazkiyya

Pada waktu itu, Mursyid at-Tazkiyya akan memberikan muridnya yaqaza, dan memelihara napasnya, keduanya – apakah meniup atau menghirup – harus dilakukan dengan pengamatan bahwa pada setiap saat,  Allah SWT dapat menghentikan murid itu dari meniup atau menghirup napasnya. Itu artinya bahwa pada setiap detik, dengan barakah Mursyid, yang diambilnya dari Nabi SAW, murid akan mengingat Rabbnya dengan setiap napasnya.  Kini bagi kebanyakan orang di antara kita, bernapas adalah sesuatu yang dilakukan  tubuh secara otomatis tanpa kesadaran kita. Kita bercakap dan kita bernapas, tanpa sadar. Kita tidak mengingatnya. Ketika kita menyelam dalam laut, barulah kita menyadari, untuk pergi ke permukaan dan mengambil sehirup udara. 

Mursyid at-Tazkiyya akan membuat muridnya menyadari bahwa pada setiap saat dia diselamkan dalam sebuah samudra, bahwa energi yang mereka serap atau keluarkan, adalah melalui Qudra Allah SWT.   Maka mereka akan ingat pada setiap napas untuk mengatakan “Allah, Allah” ketika meniup dan menghirup, dan mengingat Allah SWT melalui sifat-Nya, “Hu, Hu, Hu” atau melalui Asma-Nya yang lain, tergantung pada waktu hari dan kondisi. 

Setiap hirupan dan setiap tiupan adalah dengan satu Asma Allah SWT.  Dengan setiap hirupan terdapat sepuluh malaikat menyertai napas itu, dan sepuluh lagi dengan setiap tiupan.  Setiap malaikat diciptakan dengan cahaya yang berbeda dari Nuur Allah SWT.  Grandsyekh mengatakan bahwa sembilan per sepuluh dari cahaya itu adalah dari Sayyidina Muhammad SAW dan sepersepuluhnya adalah dari Nuur Ciptaan.   Kita tidak dapat berasal dari Nuur Allah SWT; itu tidak mungkin.  Kita adalah hamba Allah SWT dan tidak dapat berbagi Nuur-Nya.  Setiap hirupan dan tiupan adalah dengan sembilan per sepuluh Nuur Muhammad SAW dan sepersepuluhnya dari Bahr al-Qudra (Samudra Kekuatan). Awliya mengatakan bahwa manusia memiliki 24.000 napas dalam 24 jam.  Setiap hirupan dan tiupan harus dengan dzikirullah. Hanya Mursyid at-Tazkiyya yang dapat meletakkan itu pada lidah kalian. 

Setiap napas adalah dengan dzikirullah, namun kalian lalai akan hal itu. Jika kalian mencapai tahap lebih tinggi, kamu akan memiliki kesadaran untuk setiap napas. Sekali kamu mencapai kesadaran tentang 24.000 napas, Mursyid akan menambah kesadaran itu menjad 700.000 kali per hari. Itu disebut sebagai kekuatan ta’i al-lisan. Mereka memekarkan waktu untuk membuat kalian memanggil Rabb kalian 700.000 kali, dengan memperpanjang waktu, tanpa membuat waktu itu lebih besar, tetapi dengan menambahnya dengan kekuatan lidah, sebagaimana Allah SWT dapat membuat seluruh dunia melalui lubang jarum tanpa membuat dunia lebih kecil atau lubang jarum lebih besar.  Itu adalah dari haqiqat at-ta’i – salah satu dari tujuh realitas (haqq) dalam diri manusia. 

Hakikat mengerutkan jarak berada dalam hati manusia. Bagi seseorang yang telah mencapai tahap ini, mereka hanya perlu berkata “bismillah ir-rahmaan ir-rahiim”dan dapat berada di sebarang lokasi di bumi dalam sesaat. Bagaimana mereka melakukan hal itu?  Kini kalian bergerak dengan raga fisik kalian. Raga dibatasi oleh hukum fisika dunia, gaya berat, dsb. Ketika kalian bergerak, kalian bergerak dengan kemampuan itu. Kalian menggunakan sebuah kendaraan, seperti sebuah mobil, yang memiliki kekuatan fisik untuk membawa kalian. Untuk bergerak dengan lebih cepat kalian menggunakan sebuah pesawat terbang. Dia memiliki mesin yang lebih kuat yang akan membawa kalian.  Jadi mengapa kita terheran-heran, ketika kita dapat melintasi sebuah jarak yang - sebagai contoh, satu abad yang lalu akan memakan waktu tiga tahun untuk mencapainya, katakan dari Cina ke Mekah? Jika pada waktu itu kalian mengatakan, “Sesuatu akan membawamu lewat udara suatu hari nanti,” orang akan mentertawakan kalian.  Jadi awliya-ullah menemukan energi yang lebih kuat yang dapat membawa kalian, yaitu energi ruhaniah. Mobil dan pesawat menggunakan bahan bakar yang berasal dari kedalaman bumi. Itu adalah sesuatu yang diisolasi dari sekelilingnya sendiri dan dia menjadi energi, sedang sebelumnya dia adalah sesuatu yang lain, dan Allah SWT tahu  apa itu. Ruh terkait dengan surgawi. Jadi Allah SWT tahu energi apa yang ada di dalamnya. Jika seorang awliya mau bergerak, mereka membawa raga dan menaruhnya di dalam ruh dan kemudian bergerak dengan kecepatan ruh. Kemudian ketika mereka sampai di tujuan, mereka mengeluarkan raga dari ruh dan ruh memasuki kembali raga itu. Mengapa kita dapat menerima kenyataan dengan sebuah pesawat, tetapi tidak menerimanya pada kasus raga dan ruh?  Itu memerlukan landasan iman kepada hal yang ghaib (tak nampak). Awliya menggunakan kekuatan yang sama untuk mengerutkan jarak. 

Energi dapat membawa apapun. Untuk mengangkat sebuah balok besi dua ton, kalian membawa sebuah crane, dan dengan sebuah mesin kecil, dia dapat mengangkatnya. Mengapa kita memandang bahwa kekuatan ruh  tidak berfungsi? Kalian dapat memanfaatkannya dengan menggunakan kekuatan yang dikembangkan oleh para wali.  Ta’i al-lisan adalah mirip dengan ta’i al-makan.  Jika kalian mau melakukan zikir 24.000 kali, kalian dapat dengan mengulang-ulang “Allah, Allah” dengan setiap hirup dan tiup. Jika kamu mau melakukan zikir dengan biji tasbih, kamu dapat mencapai - sebagai contoh, 200.000 dengan lidah normal. Tapi untuk mencapai 700.000 kali kalian memerlukan ta’i al-lisan. Dengan kekuataan Mursyid at-Tazkiyya, yang mendapatkannya dari Nabi SAW dia dapat membuat kalian mengucapkan “Allah, Allah” 700.000 kali  dalam satu jam; bagi beberapa murid dalam  setengah jam; untuk beberapa lainnya dalam 15 menit, dan untuk beberapa lagi  dalam satu menit.  Bagaimana itu mungkin? Bagaimana dapat lidah mencapai itu? 

Di bawah lidah, Allah SWT menciptakan pembuluh darah arteri yang langsung menyambung kepada jantung.  Jika kegelapan dihapuskan dari lidah dan jantung, dengan jalan murid berlanjut dalam mengikuti  perintah Mursyid, kalian menjadi nurani, dan pada saat itu kalian bukan lagi raga atau lidah, namun kalian menggunakan Cahaya, yang terkait dengan Surgawi. Segala sesuatu yang menyangkut surgawi dapat melakukan apapun; tiada sesuatu yang tak mungkin, tiada lagi batasan. 

Pikiran manusia terkait dengan keduniawian. Tetapi ketika orang menjadi nuriyaaniyuun, itu adalah makna dari hadith Qudsi, “Tidak surga tidak pula bumi dapat menampung Aku, kecuali hati hamba-hamba-Ku yang beriman.”  Hati dalam situasi seperti itu dapat melaksanakan keajaiban. Hati seperti itu dapat mencapai 7 juta  kali “Allah, Allah”, bahkan 70 juta kali. Itu semua diperkenankan bagi setiap manusia, jika dia mau mengikuti awliya-ullah.  Allah SWT berfirman, “Awliya-Ku berada di bawah kubah-Ku; tiada seorang pun tahu tentang mereka, kecuali Aku.” 

 

MURSYID AT-TASFIYYA

Mursyid at-Tasfiyya adalah Mursyid tahap ketiga, di atas tahap Mursyid at-Tazkiyya dan Mursyid at-Tabarruk. Mursyid at-Tabarruk adalah keawliaan tahap pertama dalam Tarekat Naqsybandi. Tahap kedua adalah Mursyid at-Tazkiyya, harus mencakup semua aspek Mursyid at-Tabarruk dan begitu pula Mursyid at-Tasfiyya membawa semua yang dibawa Mursyid at-Tazkiyya dan Mursyid at-Tabarruk. Semua karakteristik tahap sebelumnya terefleksi pada Mursyid at-Tasfiyya ini.

 

Mursyid at-Tabarruk dan Mursyid at-Tasfiyya tidak memiliki perhatian kepada dunia ini:

Mereka itu zahid. Cukup bagi mereka makan sedikit, minum sedikit, dan hidupnya terdiri dari ibadah dan membimbing orang.  Mursyid at-Tasfiyya adalah zahid fid-dunya maupun zahid fil-akhira. Itu artinya surga bagi mereka bukanlah tujuannya. Banyak orang memohon surga abadi, jannat al-khuld.  Namun surga bukanlah tujuan seorang awliya-ullah; mereka harus sederhana. Sasaran mereka hanyalah Al-Khaliq. Apapun selain Allah SWT tiada artinya bagi mereka - maa siwallah. Semua yang diciptakan Allah SWT adalah maa siwahu. Allah SWT adalah Sang Pencipta dan semua lainnya adalah ciptaan-Nya. Awliya-ullah pada tahap itu tidak tertarik untuk mendapatkan apapun yang diciptakan Allah SWT.  Kecintaan mereka hanya kepada-Nya, dan bagi mereka akhirat tidak berbeda dengan dunia. Untuk kita, akhirat adalah harapan dan sasaran kita. Bagi mereka, Allah SWT adalah harapan dan sasaran mereka. 

Nabi SAW berkata, "Setelah orang-orang diadili dan dikirimkan ke surga dan neraka, Allah SWT akan muncul bagi beberapa orang di surga [Dia akan menampakkan Diri, turun].  Harapan awliya ini hanyalah Allah SWT – tiada lainnya.  Seluruh perhatian melalui hatinya tidak dapat ditujukan kepada selain Allah SWT.   Jika sesaat pun Cahaya mereka tertuju kepada selain Allah SWT, mereka akan disingkirkan sepenuhnya dari Hadirat Ilahi. Dan jika Allah SWT mengungkapkan kepada wali itu apapun dari yang ghaib tahap tinggi, derajat, keadaan dan pengetahuan, dia tidak boleh melihatnya. Dia harus tetap mempertahankan konsentrasinya untuk mencapai pintu Rabbnya. 

Salah seorang dari Mursyid demikian itu, Bayazid al-Bistami QS, yang lebih tinggi dari tahap itu, selalu melihat ke depan tidak pernah melihat ke belakang, ke kanan atau ke kiri. Dia mencapai tahap di mana dia mendengar suara dari arah Hadirat Ilahi.  Dia berkata, “Ya  Rabbi, bukalah untukku pintu-Mu.  Ini adalah harapan ku, ‘ishq – ku.  Bukalah untukku pintu-u.” Dan dia mendengar sebuah suara, “Ya Bayazid,  Pintu-Ku tidak dapat dibuka sampai kamu menjadi abdi dari abdi-Ku, mazballatan lil‘ibad untuk ciptaan lainnya – sebuah tong untuk sampah mereka. Barulah Aku akan membuka untukmu pintu-Ku.” 

Grandsyekh tidak diminta untuk menjadi tong sampah bagi dirinya, namun menjadi tong sampah orang yang paling hina yang ditemuinya. Engkau dapat menjadi tong sampah bagi ayahmu, ibumu, isterimu, saudaramu atau temanmu, tetapi untuk seorang asing yang tak kamu kenal?  Dan saya yakin bahwa tidak seorang pun menerima menjadi tong sampah bagi ayah atau ibunya. Dia bahkan tidak setuju bahwa dia adalah sampah. Dia berpikir dia memiliki pikiran paling cemerlang dan semua lainnya adalah dungu, idiot. 

Bahkan anak-anak ini sibuk ke sana ke sini berpikir bahwa mereka mempunyai intelegensi yang lebih tinggi dari orang dewasa.  Mereka ingin mendidik kita! Kita tidak akan masuk ke dalam cerita begitu, tetapi apa artinya “memikul beban abdi-Ku”. Mengapa Sayyidina Muhammad SAW datang sebagai seorang “rahmat bagi umat manusia”?  Karena beliau memikul beban umatnya.  Wa innaka la‘ala khuluqin ‘azhiim “Engkau adalah seorang dengan karakter lebih tinggi.” Itu adalah karakter (akhlaq) terbaik. Ketika Nabi Muhammad SAW dilukai, beliau tidak membalas, padahal beliau memiliki kekuatan untuk membalas, tetapi beliau tidak melakukannya, bahkan beliau memaafkan, wa innaka la‘ala khuluqin ‘azhiima, beliau adalah seorang yang paling rendah hati. Beliau adalah yang tertinggi, tetapi beliau memperlihatkan dirinya sebagai yang paling rendah. 

Sekarang orang zaman ini secara salah mengatakan, ana basyaran mitslukum, bahwa Nabi SAW hanyalah raga, daging dan ruh. Faktanya adalah, Allah SWT membuatnya paling tinggi, namun Nabi SAW membuat dirinya pada tahap yang sama dengan semua orang.  Ketika menjadi manusia terhebat, beliau menundukkan kepalanya, dan beliau tidak menengadahkannya. Apakah kalian saling memikul beban? Tidak.  Jadi mengikuti jalan awliya-ullah, ketika dia melewati semua beban itu, Syekh Bayazid al-Bistami QS meminta kepada Allah SWT, “Jadikanlah tubuhku sebesar neraka, sehingga tidak seorang pun yang masuk neraka kecuali aku.” Dan dia sangat tulus dalam doa-nya itu. Dia seratus persen jujur dalam permohonannya itu.  Sasaran Mursyid at-Tasfiyya hanyalah Allah SWT, ilahi anta maqsuudi wa ridha’ ka matlubi. 

Ketika pintu itu terbuka bagi Mursyid at-Tasfiyya, pada saat itu Allah SWT akan mengungkapkan kepadanya segala sesuatu yang tertulis di Lauh al-mahfuzh. Ketika al-Quran diungkapkan kepada Nabi SAW, itu  dipindahkan dari Lauh al-mahfuzh ke Bayt al‘izza. Ketika seorang Mursyid mencapai tahap itu, dia akan dapat mengetahui rahasia al-Quran yang diungkapkan kepada Nabi SAW“Tasfiyya” berarti meninggalkan segala sesuatunya. Sebuah contoh, jika sebuah toko melelang barangnya karena mau tutup usaha, dan semua butir barang dalam toko itu diuangkan.  Ketika seorang hamba sejati Allah SWT mencapai tahap itu, Allah SWT akan membuka segala sesuatu kepadanya. Dia memberikan hamba itu kuasa untuk menarik para pengikutnya tanpa mengatakan sepatah kata pun – hanya melalui jazbat, daya tarik melalui mata. 

Terdapat banyak awliya masa kini dan banyak yang telah meninggal dunia. Orang mengunjungi kuburan mereka dan merasakan jazbat mereka. Hal yang sama dapat pula terjadi kepada awliya yang masih hidup, yang dapat menarik kalian kepada mereka tanpa melakukan apapun, karena kuasa itu dikaruniakan Allah SWT melalui Nabi SAW, dan berada dalam hati mereka. Allah SWT memberikan Mursyid itu sebuah kekhususan untuk melihat kepada pengikutnya. Setiap hamba  telah dibentuk (molded), ketika dia dilahirkan ke dunia ini dan orang tuanya membesarkannya.  Mereka dibentuk dengan 800.000 kebiasaan (adab) buruk  yang berbeda-beda, yang tak dapat dihitung! Bukankah kalian tidak dapat menghitung 800.000 adab buruk? Tentu saja tidak dapat. 

Terdapat 800.000 titik spiritual diletakkan pada selebar tubuh fisik, masing-masingnya memiliki karakteristik buruknya sendiri, nafsu buruk dari ego. Masa kini, praktisi pengobatan tradisional dan alternatif mengenali bahwa raga fisik memiliki tiga ratus enam puluh titik penyembuhan. Tetapi dalam realitas, terdapat 800.000 titik tekan spiritual di mana awliya-ullah membersihkan karakteristik buruk kita.  Tanpa membersihkan dulu 800,000 titik ini, seseorang tidak dapat dihadapkan kepada Sayyidina Muhammad SAW dan mengalami keadaan spiritualitas atau berkomunikasi dengan hati beliau, bahkan tasbih malaikat pun tidak dapat kita dengar.  Mursyid at-Tasfiyya dikaruniai kuasa untuk membersihkan 800.000 karakter buruk itu. Tujuh ratus amal terlarang  akan membawa kalian kepada 800.000 karakter buruk, dan awliya-ullah dapat menarik dan menolong mereka dari keburukan itu. 

Dengan lidah kalian tidak dapat membuat klasifikasi karakter buruk ini (kosa katanya tidak cukup). Mursyid at-Tasfiyya mencabuti karakter buruk itu seperti sebuah saringan, mengayak biji-bijian sampai tinggal karakter baik saja.  Lagi pula, Allah SWT membuat Mursyid at-Tasfiyya untuk selalu hadir dengan para wali yang telah meninggalkan dunia fisik ini, begitu juga mereka yang masih tinggal di dunia ini. Semua wali terhubung dengannya setiap saat, memberinya masukan apa yang mereka miliki dan apa yang mereka kerjakan, karena dia adalah seorang yang tertinggi. Dia dapat memantau muridnya 12.000 kali sehari.  Setiap kali dia memandang muridnya dia mengiriminya kebijaksanaan, nasihat untuk mengerjakan kebaikan. Jangan mengira itu terlalu banyak! Mereka itu langka, seperti sebuah berlian. 

Beberapa Muslim, khususnya yang dibesarkan di Amerika Serikat, tidak mengetahui apapun tentang awliya-ullah atau tentang keramat. Sungguh disayangkan, sebagian besar Muslim di seluruh dunia telah dicuci otaknya dari warisan Islam sejati dan ajaran tradisional dan praktek Islam oleh doktrin Wahhabi.  Semoga Allah SWT melindungi kita dari ideologi atau mentalitas yang demikian itu!  

Begitulah kuasa dan jangkauan ilmu Mursyid at-Tasfiyya, bahwa dari setiap kata dalam al-Quran, sedikitnya dia dapat memungut sembilan belas makna. Sa-usliihi saqar. La-wahatan lil basyar. ‘Alayha tis‘at ‘ashar. “Segera kami akan melemparkan dia ke neraka. Di atasnya adalah sembilan belas. Dan kami tidak menempatkan kecuali malaikat yang menjaga neraka.” Sembilan belas ini adalah malaikat khusus, penjaga neraka. Mereka besar sekali dan sangat kuat.  Mursyid at-Tasfiyya juga memegang kunci bagi keajaiban pribadi untuk setiap murid. Untuk setiap murid terdapat sebuah rahasia dalam al-Quran yang disebutkan sebagai: as wa laa yaabis wa laa ratbin illa fii kitabin mubiin. Mursyid tahu mana dari kalimat dalam al-Quran yang didisain untuk menghentikan kalian dari terjerumus  ke dalam kegelapan dan dilemparkan ke dalam neraka, yang dijaga oleh sembilan belas malaikat.  Dia akan memberimu awrad (wirid) untuk dibaca setiap hari. 

Mursyid at-Tasfiyya mengetahui awrad yang dibuat khas untuk diri kalian; untuk alasan inilah kamu memerlukan seorang wali. Jika seseorang merangkai sebuah kalimat dibuat dari kode yang salah, itu tidak akan efektif (memberi hasil). Mursyid at-Tasfiyya dapat merangkai bacaan dari al-Quran dan hadits Nabi SAW, untuk membersihkan kalian dari karakter buruk pribadi kalian yang akan membawa kalian ke neraka, jika mereka tidak dibuang.  Terdapat lima ratus ma‘muraat (perbuatan baik) dan delapan ratus perbuatan terlarang. 

Mursyid at-Tasfiyya akan membimbing kalian kepada lima ratus perintah itu dan membimbing kalian untuk mencegah terjerumus ke dalam delapan ratus perbuatan terlarang, kesemuanya itu dengan satu kata tunggal yang ditugaskan bagi kalian untuk membacanya dari al-Quran; untuk setiap individu sebuah kata yang berbeda. 

Karakter lain yang diberikan Allah SWT kepada Mursyid at-Tasfiyya di antaranya adalah bahwa dengan pengamatannya kepada alam semesta, dia akan menarik tiga puluh lima tanda yang berbeda-beda tentang Hu Ahad Allah SWT dari setiap planet.  Dari setiap sebarang planet dia memandang dengan pandangan spiritualnya, dia akan menurunkan tiga puluh lima tanda spiritual dari Hu Ahad Allah SWT. 

Lebih jauh lagi, dia dapat menanam tanda-tanda yang berbeda-beda ini ke dalam lima tingkatan hati: qalb, sirr, sirr-as-sirr, khafa, dan akhfa.  Ketika kalian mengucapkan laa ilaaha ill-Allah – bacaan itu akan mengambil kalian lewat lidah dan hati, qawlan wa fi‘lan, di mana kalian akan dibuat mengamati HU Ahad Allah SWT. Allah SWT memberikan Mursyid at-Tasfiyya kuasa atas keajaiban penampakan spiritual ini yang lebih kuat dari penampakan mata fisiknya. Qutb zaman itu akan berada di bawah otoritasnya. 

Allah SWT memberikan Mursyid at-Tasfiyya kuasa untuk membaca 700.000 kali “Allah, Allah” pada setiap tiupan napas dan setiap hirupan napas.  Dia memiliki ‘ilm al-yaqiin, ‘ayn al-yaqiin, haqq al-yaqiin, dan la rayba fiih

Semua yang telah kita gambarkan tentang Mursyid at-Tasfiyya tadi hanyalah sekedar pandangan selintas saja dari maqam dan kuasanya. 

 

MURSYID AT-TARBIYYA

23 Desember 2002 [DE1.14]

Tahap tertinggi dari irsyad bagi ulama dalam membimbing ummah adalah Mursyid at-Tarbiyya,  al-‘ulama waritsat al-anbiya.” Semua ilmu awliya hanyalah setetes saja dari Samudra Ilmu Nabi SAW, yang dibukanya untuk semua awliya. Dari awal hingga akhir, semua itu hanyalah setetes dari Samudra, jadi bayangkan saja apa yang diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW. 

Tulisan serial ini adalah tentang awliya Tarekat Naqsybandi.  Mereka yang mendapat kesempatan untuk berjamaah dengan mereka memiliki kesempatan untuk mendapat manfaat dari mereka.  Mereka yang tidak memiliki kesempatan itu atau belum mengambil bay’at dengan salah satu mursyid demikian itu telah kehilangan kesempatannya. 

Suatu kali Grandsyekh Syarafuddin QS membahas apa yang dikirimkan awliya.  Pada majelis itu terdapat ribuan, kadang-kadang ratusan ribu murid dalam jemaahnya. Satu malam mereka duduk dan seorang asing datang. Syekh Syarafuddin QS memandang kepada hatinya dan mengamati bahwa orang itu tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh manfaat ajaran luhur yang umumnya datang dalam majelis yang demikian itu. 

Untuk mencegah agar majelis itu tidak mengalami penurunan derajatnya dan untuk tetap mempertahankan majelis itu pada level tinggi, beliau berkata, “Wahai anakku. Aku sedang memikirkan kamu.” Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu murid dengan berbicara pada maqam yang rendah atau dengan mendapat pertanyaan (dari orang yang baru datang itu) yang akan mengganggu aliran informasi.  Syekh Syarafuddin QS memiliki  sebuah jubah sebagai hadiah dari Sultan Abdul Hamid.  Jubah itu didekorasi dengan tujuh ratus ribu keping emas, penuh dengan rajutan benang.  Beliau ingin menunjukkan kepada muridnya bahwa beliau tidak memiliki ikatan kepada jubah itu dibanding dengan nilai dari majelis itu, lalu beliau berikan jubah itu kepada orang asing tadi.  Orang asing itu sangat bergembira, dan pada saat yang sama khawatir bahwa Syekh itu akan mengambil jubah itu kembali, maka dia pamit secepatnya.  Itulah sebabnya suhbat seperti itu hanyalah bagi pengikut ahl as-sunnah wal-jama‘ah yang berpegang teguh pada setiap sunnah dan pemahaman hakikat spiritual. 

Sebelumnya dijelaskan tentang tiga macam mursyid, yaitu: Mursyid tabarruk, tazkiyya, dan tasfiyya.  Tiga tahap yang berbeda ini dapat saja terjadi di tarekat mana pun.

 

Mursyid tarekat mana pun dapat mencapai tiga tahap ini.

Namun tahap Mursyid at-Tarbiyya hanya terdapat di Tarekat Naqsybandi.  Allah SWT telah menganugerahkannya kepada Tarekat Naqsybandi. Tahap apapun yang dicapai para Masyekh tarekat lainnya itu, mereka hanya mencapai tahap Mursyid at-Tasfiyya.  Namun mereka yang Naqsybandi dan telah mencapai tahap tarbiyya telah melewati tiga tahap yang digambarkan sebelumnya itu.  Mursyid at-Tarbiyya, pembimbing yang menaikkan murid, agar mencapai tahap itu dia harus mencapai tahap ijtihad absolut, al-ijtihad al-mutlaq. Bukan hanya dalam syariat, tetapi juga dalam haqiqat. Dalam bahasa Arab hal itu sama dengan tawkiil al-syamila, (the power of attorney).  Ada kuasa mewakili yang bersifat umum, khusus; ada pula kuasa mewakili yang lebih luas dan kuasa mewakili yang lengkap. Dan di atas semua itu, dalam tradisi Arab kita, terdapat wakilat syamila kamilat mutlaqa: kuasa mewakili yang umum, lengkap dan tak-berakhir.  Dalam Islam, Hukum Ilahiah yang kita ikuti (syariat) ditujukan kepada situasi kehidupan secara luas dan pikiran terbuka.  Kita dapat berpisah dan kemudian bercerai tanpa kembali kepada pasangan kita, tanpa berbicara kepadanya.  Kita dapat mengawini seseorang yang tidak hadir (in absentia), dan berkumpul dengan pasangan itu pada waktu kemudian.  Jadi Mursyid at-Tarbiyya ini diberikan kuasa umum, lengkap dan tak-berakhir dalam membuat putusan juristik syariat, maupun putusan dalam hal hakikat.   Ini adalah Mursyid yang dimaksud Allah SWT dalam firman-Nya, rijaalun sadaqu ma ‘ahadallahu ‘alayh; mereka mendapat kepercayaan penuh dari Allah SWT. 

Grandsyekh, semoga Allah SWT mensucikan ruhnya, berkata bahwa terdapat sembilan awliya yang doa-nya akan diterima Allah SWT dan merubah apapun yang mereka minta dari (yang tercantum dalam) Lauh al-mahfuzh.  Mujtahid mutlak dalam syariat dan haqiqat. 

Ketika Grandsyekh ditanya oleh Grandsyekh-nya, Syekh Syarafuddin QS, untuk menerima tahap irsyad seperti itu oleh Syekh-nya, beliau berkata, “Jika engkau bertanya, aku menjawab tidak.” Syekh Syarafuddin QS berkata, “Ini adalah perintah dari Nabi SAW.” Grandsyekh kemudian berkata, “Jika itu adalah perintah, ala raasii wal-ayn. Tetapi kalau itu hadiah (pemberian), maka aku tidak menerima tanggung jawab seperti itu. Aku tidak menerima, kecuali dengan satu syarat.” Malam itu dalam pertemuan awliya dalam majelis nabi-nabi, Grandsyekh Syarafuddin QS mendiskusikan situasi itu dengan Nabi SAW. “Dia tidak menerima, kecuali dengan satu syarat.”  Nabi SAW berkata, “Tanyakan apa syaratnya.” Hari berikutnya beliau mendatangi muridnya, dan mengikuti perintah Nabi SAW, Syekh Syarafuddin QS bertanya kepada Syekh `Abdullah QS apa syaratnya.  Syekh `Abdullah QS menjawab, “Dalam masa kini terdapat begitu banyak kegelapan, kebodohan, kelalaian, kebohongan, penghianatan, racun, dan penipuan. Dalam kegelapan seperti itu yang hadir pada masa kini, tidaklah cukup setahun atau limabelas tahun atau seratus tahun untuk mencapai keberhasilan spiritual tahap manapun.  Mereka bahagia dalam majelisku.  Tetapi begitu mereka berjalan keluar pintu, nafsu buruk akan menyeret mereka ke bawah lagi. Jadi mengapa membuang waktuku, jika lebih baik membaca awrad-ku sendirian.” Syekh Syarafuddin QS berkata, “Jadi apa yang engkau kehendaki?” 

Syekh `Abdullah QS berkata, “Aku menginginkan sebuah hadiah dari Nabi SAW, bahwa barang siapa duduk dalam majelisku, mendengarkan pembicaraanku, tanpa melakukan apapun atas prakarsanya sendiri, Aku mohon izin untuk mengangkat dia kepada maqamku. Tidak hanya itu, jika Aku berbicara tentang wali yang manapun dalam majelisku, wali manapun yang Aku sebut, Aku menghendaki murid-muridku diberi izin untuk mendapatkan maqam wali itu. Jika tidak, Aku tidak memerlukan (jabatan tahap) itu.”  Kalian lihat tahap Mursyid at-Tarbiyya? Dia tahu bahwa kita tidak akan mendapatkan apapun dengan upaya kita sendiri. Seperti seorang ayah dengan anaknya, dia menanggung seluruh tanggung-jawab.  Bahkan ketika mereka telah dewasa dan hilir mudik di jalanan, orang tua akan berbuat terbaik untuk anak mereka. 

Grandsyekh Syarafuddin QS berkata, “Aku akan tanyakan hal itu.” Dalam dewan al-awliya, Syekh Syarafuddin QS berkata, “`Abdullah Effendi QS menyampaikan syarat demikian.”  Nabi SAW berkata, ana raadi, anaa raadi, ana raadi - “Aku terima! Aku terima!  Aku terima!” dengan tangannya diletakkan di dadanya. Dan beliau menambahkan, “Tak seorang wali pun sebelum ini yang memohon  kepadaku seperti itu untuk murid-muridnya.” 

Itu berarti Nabi SAW tidak menunggu kita untuk mengalami kemajuan dalam tarekat, karena beliau tahu kita tak dapat berbuat apa-apa pada waktu ini.  Kita adalah mujtahidin mutlaq, yang berarti tidak seorang pun dapat membuat sebuah deduksi (kesimpulan khusus) ketetapan juristik dari syariat atau haqiqat kecuali Mursyid at-Tarbiyya; dia adalah yang tertinggi. Di atas kuasa itu, dia harus jauh mendalami dan mendapatkan hakikat dan kepastian, dan mendapatkan pengakuan kebenaran bagi semua ilmunya dan mendapatkan konfirmasi atau pembuktian dari semua ilmunya yang berada dalam kawasan ‘ilm al-yaqiin, ‘ayn al-yaqiin and haqq al-yaqiin

Tahap Mursyid ini mirip dengan saluran digital yang kini kita miliki (dalam bidan komunikasi), multipleks dari satu satelit, sinyal yang dapat dilihat dan didengar serentak, dan bukan maya namun sangat nyata, dengan kepastian lengkap.  Mursyid at-Tarbiyya itu tidak sedang mengalami imajinasi atau illusi, namun sesungguhnya hidup dalam waktu atau tempat itu, dengan memiliki kapasitas pendengaran dan penglihatan mutlak (paling tinggi) yang dapat dimiliki manusia. 

Mursyid itu hadir di semua kenyataan sebagaimana dia hidup di masa lalu, masa kini dan bahkan di masa mendatang, sampai saat Hari Pengadilan. Allah SWT mengaruniakan kepadanya lima elemen yang berbeda dari Irsyad:

Asuhan Allah SWT (inayatullah)

Asuhan Nabi SAW, penampakan dan dukungan (inayat an-nabi)

Asuhan para pembimbing terdahulu dan penampakan (vision) (inayatan min al-Mursyidiin al-‘izham)

Asuhan grandsyekhnya (inayat al-Mursyid)

Asuhan dan penampakan dari dua malaikat di bahu kanan dan kiri (inayat Kiram Katabiin)

Mursyid ini diperkenankan mengetahui semua rincian dari Hari Perjanjian, ketika ruh ditanya, “Bukankah Aku Rabb-mu?” Mereka berkata, “Ya.” Allah SWT bertanya kepada ruh “Siapa Aku dan siapa kamu?” Ruh menjawab, “Engkau adalah Rabb kami dan kami adalah hamba-Mu.” Pada saat itu Allah SWT merencanakan semua hal yang semua orang harus lakukan dalam hidupnya sebagai tanggung jawabnya.  Itu adalah ‘alam al-miithaq – Dunia Perjanjian.  Pada saat itu, Mursyid at-Tarbiyya berada di sana dan mengetahuinya secara rinci dan ketika dia datang ke dunia dia masih ingat saat itu dan rinciannya.  

Berapa orang Mursyid at-Tarbiyya yang ada sejak masa Nabi SAW hingga sekarang?  Allah SWT memberinya ilmu dari semua awliya-ullah, dari sejak saat Sayyidina Adam AS sampai kepada Hari Pengadilan, dengan nama dan ilmu mereka. Ini adalah kunci khusus seorang Mursyid at-Tarbiyya. Para Syekh adalah pewaris para Nabi. Bukan ulama masa kini – mereka itu juhala – lalai. ‘Ulama adalah salih dan bersungguh-sungguh, memiliki kedua ilmu, ‘ilm asy-syari`ah (hukum) dan ‘ilm al-haqiqat (spiritualitas). 

Karakteristik lain yang diberikan Allah SWT kepada Mursyid at-Tarbiyya adalah perubahan apapun yang terjadi pada Lauh al-mahfuzh, dia tahu tentang itu. Sedang untuk 24.000 napas setiap murid, Mursyid itu akan tahu status muridnya dan maqam dari setiap napas ini. 

Metabolisme, pernapasan, tahap kimiawi, reaksi syaraf, dan pembuluh kapiler terkecil, dia menyadari setiap perubahan di dalamnya.  Jika kalian menaruh pembuluh kapiler (yang lebih kecil dari sehelai rambut) dalam satu garis, mereka mencapai jarak dari bumi ke bulan. Terdapat tiga trilyun sel di dalam tubuh. Mursyid at-Tarbiyya itu mengetahui keadaan semuanya. Semua keterangan ini, kemampuan dan kuasa ini berasal dari setetes Samudra Nabi SAW. 

Orang masa kini bermain-main di dunia ini. Itulah sebabnya ketika mereka mulai menyadari hakikat ini, mereka meninggalkan perhatian mereka terhadap dunia ini. Hanya satu kali menyelam ke dalam Samudra Hakikat ini telah mendatangkan kebahagiaan cukup bagi mereka, dalam hidup ini dan di Kehidupan Abadi. 

Mursyid at-Tarbiyya harus tahu sumber kehidupan muridnya, ilmu muridnya di dunia, dan kondisi tubuh murid itu dari sejak diciptakan hingga pada Hari Pengadilan.  Dia harus mengetahui setiap huruf Arab, yang berada di Lauh al-mahfuzh, karena itu adalah lughat ahl al-jannat. Apapun yang tertulis di sana, dia harus tahu berapa huruf dituliskan dari awal hingga akhir.  Bukan hanya dua puluh tujuh huruf dari alfabet, namun setiap huruf sebagaimana muncul di Lauh al-mahfuzh, satu demi satu, dianggap sebagai sebuah huruf  tunggal (individual). 

Bihurmat al habiib wa bi hurmat al-Fatiha.

16 Maret 2009

Membangun Energi dan Mencoba Mempertahankannya

عُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS

(ilustrasi oleh Salim dari Burton)

http://nurmuhammad.com/Meditation/EnergyHealing/muraqabahbuildingyourenergy.htm

  

 

Syekh al-Kamil,

Petunjuk yang lengkap, contoh kesempurnaan yang lengkap. Pandanglah dia untuk melihat contoh kalian. 

“Apabila Allah SWT ingin memperagakan Diri-Nya, Dia memandang pada makhluk-Nya.  Perhatian pertama-Nya kepada manusia karena mereka menyerupai-Nya.  Mereka yang paling menyerupai-Nya di antara manusia itu adalah para wali; maka Nabi SAW bersabda tentangnya, ‘Mereka mengingatkan kalian akan Allah SWT.’” 

“Kami juga menyayangkan karena manusia tidak mau membuka diri mereka untuk menarik kekuatan malaikati yang dengan itu mereka dapat mencapai tahap ilmu surgawi yang merupakan warisan mereka.  Itulah yang membuat kami muncul dalam bentuk kamu, manusia dalam berbagai bentuk dan derajat cahaya, di tempat yang berbeda-beda dan pada masa yang berbeda-beda dari kehidupan manusia, untuk mengingatkan kamu bahwa kamu telah dimuliakan dengan sebuah kekuatan malaikati dan sebuah kemiripan Ilahiah.” 

Pertahankan kemiripan itu!  Gunakan kekuatan malaikati itu!  Dia akan mengangkat kalian pada tingkat gemerlap yang tanpanya Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tidaklah dia mempunyai cahaya sedikit pun!” [24:40] dan Dia berfirman, “Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)!” [24:35] menyatakan bahwa cahaya dari visi hati harus dihubungkan pada cahaya dari kekuatan malaikati, untuk memastikan keberhasilan dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.  Cahaya itu kemudian akan nampak meliputi segenap alam manusiawi seperti sebuah matahari menyingsing dan sebuah rembulan yang menyingsing meliputi segenap ciptaan, tanpa terbenam.  Cahaya dari kekuatan ini, pada saat itu, akan membuat setiap diri seperti sebuah rembulan; yaitu, sebuah raga surgawi yang akan memantulkan cahaya asli bagi seluruh ciptaan.  Dengan cahaya itu, dunia ini akan dilindungi, cinta akan alam akan menguasai bumi, dan setiap orang akan hidup dalam damai dan cinta, berenang dalam samudera kecantikan dan keselarasan malaikati.”  

 

7 Busana Surgawi, 7 Pintu Keagungan 

Mahkota dari Ciptaan adalah kepala yang suci.  Sang pencari hendaknya menjaga karunia Ilahi ini.

7=

2 telinga untuk mendengar dengannya,

2 mata untuk melihat dengannya,

2 lubang hidung untuk bernapas dengannya, dan

1 mulut dan lidah untuk berkata dan merasakan dengannya. 

Ini adalah 7 pintu yang diberkati pada penciptaan manusia.  Banyak bacaan (ayat suci al-Quran-penerj.) adalah dalam angka 7 untuk alasan ini. 

5-indera meliputi indera pendengaran, penglihatan, peraba, penciuman dan perasa.  Jika dijaga, titik-titik ini adalah pintu bagi semua energi rohaniah kalian.  Jika mereka terluka ini akan menjadi sumber semua kesengsaraan. 

Gambar berikut dibuat buruk untuk memperlihatkan jauhnya kerusakan yang menimpa Ciptaan Mulia ini.

 

Titik Energi pada Mahkota: 

telinga adalah pintu kepada jiwa

mata adalah jendela kepada jiwa

hidung adalah napas rahmat

mulut adalah lidah kebenaran 

 

Mahkota Kepala 

Mahkota kepala lunak ketika baru dilahirkan.  Ini adalah sumber pancaran agung Cahaya dan Energi dari Ilahi.  Titik ini harus dilindungi keselamatannya dari energi negatif yang mencoba untuk merebut energi (Ilahiah) itu dari kalian. 

Perlindungan untuk titik ini:

Wudu dan memakai penutup kepala atau peci.

Sewaktu tidur usahakanlah untuk menggunakan sebuah penutup kepala.

Rambut panjang mengambil energi rohaniah pria.

Untuk wanita, rambut panjang meningkatkan energi rohaniahnya. 

Al-Quran Surat al-A`raf [7:179]:

Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jinn dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).  Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.  Mereka itulah orang-orang yang lalai.

 

Telinga: Pintu kepada Jiwa 

Efek yang membahayakan:

Dekatilah Rabb-mu dari pintu ini.

Pendengaran adalah peringkat pertama.

Kami mendengar Risalah itu dan kami patuh.

Ini adalah Pintu Masuk Ilahiah kepada Jiwa.  Setan tahu akan hal ini; oleh sebab itu sekarang inilah pengaruh yang paling kuat.

Suara buruk yang dipompakan ke dalam telinga menghalangi pintu kepada jiwa.  Setiap orang memiliki sebuah walkman, bagaikan menuangkan adukan semen menutupi pintu.

Mencoba menggelapkan dan membahayakan hakikat itu. 

Perlindungan untuk telinga:

Dekatilah Ilahi melalui pintu bukan melalui jendela.

Perlindungan untuk pintu ini adalah dengan cara mendengar suara di dalam atau kata hati.  Ini adalah langkah pertama yang sangat penting menuju pada hakikat untuk mendengar makhluk malaikati menolong kalian.

Dengarkan hanya al-Quran atau selawat.  Membaca Kitab Suci atau Pepujian bagi Nabi SAW.  Nada yang mengingatkan kalian tentang cinta dan kesyahduan.

Cinta dan bacaan kitab suci adalah bagaikan bahan bakar roket bagi jiwa. 

 

Mata: Jendela kepada Jiwa

Efek yang membahayakan:

Mata adalah keinginan untuk dunia atau materi.

Pernahkah kalian mendengar ungkapan bahwa mata kalian “Lapar”?

Allah SWT memperlihatkan kepada kita melalui teknologi kita.

Jika kalian membiarkan komputer kalian menangkap gambar tanpa henti, khususnya yang negatif, Hard Drive kalian akan mengalami kerusakan.

Hati kalian menjadi rusak karena gambar-gambar yang negatif, horor, kekerasan, pornografi atau kekasaran tanpa henti.

Semua gambar disimpan dan sulit untuk dimusnahkan. Melupakan gambar sangat sulit.” 

Perlindungan untuk mata:

Untuk “mengambil” dunia atau materialisme, seseorang harus “sering menutup matanya” dan bermeditasi.

Perlindungan bukaan ini adalah untuk mengurangi pengambilan gambar yang membahayakan.

Pandanglah hanya yang baik, misalnya dengan membaca kitab suci.  Itu adalah gambar/citra yang perlu diingat.

Tutuplah mata kalian terhadap dunia materi dan mintalah kepada Allah SWT untuk membuka mata hati kalian. 

 

Lubang Hidung: Napas Ilahiah, Napas Rahmat 

”Misi paling penting bagi seorang pencari dari tarekat ini adalah untuk menjaga keselamatan napasnya, dan orang yang tidak dapat menjaga keselamatan napasnya, akan dikatakan bahwa dia telah menyesatkan dirinya sendiri.” 

Syah Naqsyband QS berkata, “Tarekat ini dilandasi oleh napas.  Jadi, adalah wajib bagi semua orang untuk menjaga keselamatan napasnya ketika menghirup dan melepaskannya dan lebih jauh lagi, menjaga keselamatan napasnya dalam kurun waktu antara menghirup dan melepaskannya.” 

Janganlah kalian tidak peduli tentang karunia hidup berupa “24.000 napas setiap harinya.” Hidup kita di dunia adalah satu napas lagi. 

Semua rencana di dunia tidak akan berubah jika itu adalah napas kita yang terakhir.  Pujilah Kehidupan Ilahiah yang (berada) dalam setiap napas.  Menghirup Hu-Allah dan menghembuskan Huu.  Setan ingin memenuhi saluran ini dengan rokok atau narkoba untuk menentang karunia Ilahiah berupa napas ini. 

 

Mulut dan Lidah Kebenaran 

Mawlana Bistami QS berkata, “Selama tiga puluh tahun, ketika aku ingin mengingat Allah SWT dan berzikir, aku biasa mencuci lidahku dan mulutku untuk mengagungkan-Nya.” 

Lidah Kebenaran merupakan saluran suci bagi makanan dan energi untuk umat Manusia. 

Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan puasa.  Puasa adalah amal tertinggi yang dapat dilakukan seseorang dengan ganjaran tertinggi dari Allah SWT.  Ketika kalian memutuskan untuk berpuasa dengan sungguh-sungguh, maka kalian harus mensucikan semua pendengaran, penglihatan, napas, rabaan.  Kelima indera kalian tunduk kepada Tuhan kalian, maka kelima level hati kalian juga tunduk kepada Tuhan.  Dan Dia akan membuka bagi kalian dari “Lidah Kebenaran.” 

Al-Quran Surat Maryam [19:50]:

Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan dan Kami mengabulkan bagi mereka kemuliaan yang tinggi pada lidah kebenaran. 

Karunia Allah SWT yang tertinggi adalah al-hikmah, kebijaksanaan.  Seseorang yang memiliki kekuatan untuk menghidupkan yang mati.  Jiwa yang mati, itulah yang membutuhkan realitas surgawi. 

Al-Quran Surat al-Baqarah [2:269]:

Allah SWT menganugerahkan al-hikmah (kebijaksanaan) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.  Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang melimpah.  Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. 

Perlindungan bagi mulut dan lidah: 

Ini adalah sebuah Bukaan Suci, ini adalah tempat di mana lidah bersaksi tentang Ke-Esaan Allah SWT.

Lidah Kebenaran dan kekuatan ucapan.

Makan hanya makanan yang ditetapkan secara Ilahiah.

Menghindar dari makanan dan minuman yang terlarang.

Berbicara dengan kalimat yang baik.

Mengurangi kemarahan.

Menjaga lidah agar tetap basah dengan dzikrullah atau ingatan yang penting.

Rahasia SIWAK (tusuk gigi) adalah kayu pentanahan (grounding) untuk membuang energi negatif dari mulut.

Allah SWT berfirman…Wa in min syay-in illaa yusabbihu bihamidihii wa laakin laa tafqahuuna tasbihahum...  Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka...[17:44].  Itu artinya segala sesuatu hadir dalam Pepujian kepada-Nya, bahkan sebuah batu karang pun memuji-Nya, dia memiliki energi atom. 

Dampak berbahaya:

Mulut adalah saluran untuk energi dan makanan bagi pemeliharaan kelangsungan hidup kalian.  Begitu kalian makan, 32 gigi mengunyah makanan yang penuh dengan energi.

Kemudian energi itu dibagi di antara 16 gigi yang mengambil energi positif (baik), dan

16 gigi yang mengambil energi negatif (jahat).

Energi itu kemudian disebarkan ke seluruh tubuh, khususnya dikirim ke jantung dan lambung.

Makanan sampah (termasuk minuman yang haram), kata-kata yang buruk, sumpah serapah, bentakan, teriakan kemarahan adalah racun di dalam mulut dan kemudian dikirimkan ke seluruh tubuh.

Menyebabkan penyakit jantung dan semua penyakit pencernaan.

Doa Nabi SAW untuk siwak di dalam mulut, Allaahumma thah-hir qalbi minal syirik wal nifaaq.”  Ya Allah SWT, lindungilah hatiku dari syirik (menyekutukan Allah SWT), dan kemunafikan.”  Ini adalah doa yang beliau panjatkan ketika menggunakan siwak; yang menunjukkan bahwa terlalu banyak keburukan yang masuk melewati mulut. 

Proses berserah diri akan mengembalikan manusia kepada Citra Ilahi.  Ini adalah citra tentang Kemuliaan, Cinta, Kehormatan dan Adab (yang Baik).

 

Bahwa energi dialirkan kepada mahkota di kepala, dan dijaga keselamatannya dengan sebuah “Penutup”. 

Penutup kepala Syekh menekankan pentingnya menutupi ubun- ubun dan Taj atau topi segitiga di bawah kain turban menuding ke Langit (Surga) memperlihatkan bahwa Islam-Iman menggiring  kepada Ihsan.  Agama ditambah Iman menghasilkan akhlak mulia. 

Kalian dapat membayangkan sebuah hubungan energi ke dalam hati rohaniah dari alam semesta dari lathaif/chakra mahkota kalian, sambil berniat bahwa kalian berjajar/ beresonansi dengan maksud roh tertinggi, sementara masih terhubung dengan baik kepada dataran fisik. 

Bayangkan energi dari atas, semua terfokus kepada satu titik, pada puncak turban dan seperti sebuah cahaya laser yang mencair memasuki lathaif/chakra mahkota. 

Kalian terbungkus di dalam diri sendiri dan tersambung dengan bumi dan (alam) fisik dan kepada sumber rohaniah pada waktu bersamaan dalam sebuah keseimbangan harmoni dengan alam semesta. 

Memfokuskan energi dari Surga kepada Mahkota Kepala: 

Kain turban adalah cabikan kuburan dari pencari untuk mengingatkan dia bahwa hidup ini hanyalah sementara dan bahwa akhirat adalah tempat tinggal yang abadi. 

Rambut di kepala:

Untuk pria, rambut di kepala mengecilkan kekuatan spiritual dan memperbesar kekosongan dan kebanggaan, seperti halnya di hutan, di mana binatang jantan menghiasi dirinya untuk menarik betina.  Manusia tidaklah seperti binatang, peranan Ilahiah bagi manusia adalah mengabdi pada Kerajaan Ilahi.  Keanggunan seorang manusia terletak pada mahkota di kepalanya. 

Janggut:

Ini adalah kekuatan spiritual manusia surgawi.  Malaikat akan mengerumuni janggut dan mengolesi rambut-rambut itu dengan kekuatan malaikati. 

Rahasia Mulut

Mulut dijaga keselamatannya dengan SIWAK (tusuk gigi).

Mulut adalah seperti sebuah Bukaan Suci untuk makanan, napas dan perkataan. 

Ajaran para Nabi bahwa mengendalikan lubang/bukaan mulut adalah menjadi perhatian tertinggi dan dapat medatangkan ganjaran yang luar biasa atau hukuman yang kekal. 

Makanan yang kita santap penuh dengan energi; gelombang radio, radiasi elektromagnetik apapun yang ada di atmosfer dan memancarkan (energi) dari ciptaan diserap oleh makanan yang kita santap dan udara yang kita hirup. 

Energi ini berkumpul di dalam mulut dan akan dicoba diserap oleh gigi dan kemudian dikirimkan ke dalam tubuh, di mana energi itu akan dibawa ke jantung, pembuluh darah dan kemudian ke daerah lambung.  Jika energi ini buruk atau dikuasai energi negatif, maka penyaklit fisik dan spiritual akan terjadi. 

Kebencian menghancurkan gigi, energi buruk menggelapkan dan melemahkan jantung dan meracuni tubuh.

SIWAK adalah tongkat pentanahan (ground) yang akan menarik keluar energi negatif dari mulut. 

Jika energi negatif ada dalam mulut, perkataan seseorang adalah seperti api, apabila energi positif ada dalam mulut, dia seperti pemanis di mana orang dapat menyadap manfaat darinya. 

Doa Nabi SAW ketika menggunakan siwak dari akar pohon tertentu adalah “Ya Allah SWT, lindungilah hatiku dari syirik (menyekutukan Allah SWT), dan kemunafikan.”  Nanti kita akan mendapati bahwa ganjaran tertinggi dari Allah SWT adalah “puasa.”  Allah SWT memperlihatkan kepada kita bahwa mulut ini adalah pernyataan/peragaan terhadap Ke-Esaan-Nya dan lidah yang menyanyikan pepujian bagi-Nya adalah bukaan luar biasa yang menjaga keselamatannya bagi Bukaan Tertinggi dari hati berdasarkan pada kelestariannya. 

 

Kekuatan Cincin dan Penjaga Keselamatannya

Cincin yang berkah dipakai di tangan kanan, pada jari manis dekat kelingking. 

Maksud dari cincin adalah perlindungan terhadap kebencian, yang merupakan sebuah kekuatan negatif yang sangat kuat.  Sayangnya manusia tidak mengerti pemberian energi atau yang kita sebut hidup yang dikaruniakan kepada kita.  Energi atomik ini selalu mengalir ketika kita merasa baik; pihak lain yang berada dalam samudra energi kita juga akan merasa baik. 

Berkumpullah bersama para shalihin, karena mereka adalah sahabat yang paling baik.  Mereka akan mencerahkan kalian.  Namun bila seseorang bersifat negatif, dia akan memancarkan negativitas kepada orang.  Hal itu mengakibatkan banyak penyakit. 

Nabi Muhammad SAW mengajarkan penggunaan cincin pada tangan kanan (karena tangan kanan adalah Ashab al-Yamin, orang di kanan mendapat berkah, menghilangkan kebencian).  Cincin yang dianjurkan adalah Amber atau Turquoise.  Untuk pria, perak atau besi tanpa emas.  (Tangan kiri digunakan untuk membersihkan kotoran dan untuk keperluan di kamar kecil). 

AMBER

Sebuah batu mulia yang bersifat elektromagnetik.  Dia membuka lathaif/chakra solar plexus dan dapat membantu dalam memperkuat dan menyeimbangkan perasaan, mendapatkan kejernihan mental, dan keyakinan.  Dia juga dapat digunakan untuk mensucikan atau membuang racun. 

TURQUOISE/PIRUS

Merupakan penyembuh umum, multiguna, meringankan banyak emosi negatif, meningkatkan sambungan psikis, meramalkan, komunikasi, kreativitas, menyejukkan, memberi inspirasi, membuat damai dan tenang. 

 

Tongkat dan Memelihara Keselamatan Energi

 

Tongkat adalah Mekanisme Pentanahan (ground) kalian. 

Mengambil dari Langit (Surga) dan mengirim energi negatif ke bumi

Dua kaki dan sebuah tongkat seperti steker listrik modern.  Ini adalah cara semua Utusan Allah SWT. "Pentanahan". 

Kini kita melihat bahwa Hadirat Ilahi mengirim utusan untuk mengajarkan kitab, hukum dan moral; namun lebih dari itu semua, bagaimana mencapai kesempurnaan untuk kembali kepada Keadaan Malaikati di mana mereka diciptakan. 

Kalian tentunya terbiasa dengan energi pentanahan listrik dan sifat-sifatnya, melalui pengalaman kalian dengan sinar matahari.  Itu adalah jenis energi yang menghangatkan, memencar, yang dapat membuat kalian merasa terbuka, puas, dan terselimuti atau tertawan. 

Di sisi lain, terlalu banyak energi listrik yang masuk dapat membuat kalian melayang-layang, hilang orientasi, terbakar hangus atau was-was dan mudah tersinggung.  Terlalu banyak (atau terlalu sedikit) energi surgawi dapat membuat kalian haus akan gula. 

Terlalu banyak (atau terlalu sedikit) energi bumi dapat terlihat dengan sendirinya melalui rasa haus akan garam. 

Pertempuran Abadi antara Energi Surgawi dan Energi Bumi: Bagaimana untuk Menyeimbangkan dan Menjaga Keselamatan diri? 

Simbol ini (yin-yang) mengungkapkan sebuah aliran berkesinambungan dari “Qudra” atau energi dalam sebuah arah melingkar ketika dia menciptakan dua kekuatan yang berlawanan dari positif dan negatif, kegelapan dan cahaya, surgawi dan bumi, lelaki dan perempuan. (kode biner aktif 1, dan pasif 0). 

Kedua energi ini saling berinteraksi untuk menyeimbangkan masing-masing kelebihannya dan untuk membawa kepada keberadaan realitas/domain fisika dan metafisika. 

Yin dan yang mewakili semua prinsip yang bertentangan yang ditemukan di alam semesta. 

Di bawah yang (aktif atau 1) adalah prinsip tentang kejantanan, matahari, penciptaan, panas, cahaya, Surga, dominasi, dan sebagainya,

Di bawah yin (pasif atau 0) adalah prinsip tentang kewanitaan, rembulan, selesai/akhir, dingin, gelap, bentuk materi, kepasrahan, dan sebagainya.

Masing-masing lawan ini menciptakan lainnya. 

Pentanahan di dalam diri elemen 

Tubuh kalian adalah sebuah perubah (transformer) energi. 

Kalian menyerap energi listrik dari alam semesta.  Kalian menyerap energi magnetik dari bumi, dan tubuh kalian mencampur dan menggunakan kedua energi ini, umumnya di daerah sekitar Pusar dan Jantung.

Bagian bawah tubuh adalah pintu masuk untuk sejumlah banyak energi magnetik. Itu adalah sesuatu yang dapat kalian sebut sebagai energi “pentanahan ke bumi.”  Dan bagian atas kepala dan bagian belakang leher kalian adalah yang biasanya menjadi pintu masuk untuk energi listrik ataupentanahan ke langit.” 

Di dalam diri kalianlah Bumi dan Langit bertemu dan bercampur.  Itu adalah sifat alamiah kalian untuk menyatukan dua “bahan bakar” ini untuk hidup kalian di planet ini. 

Itulah sebabnya kalian memiliki sebuah tubuh fisik yang memerlukan energi bumi; dan kalian juga memiliki sebuah roh yang memerlukan energi langit. 

Energi Bumi merupakan sesuatu yang kami yakin kalian mengetahuinya dengan baik.  Dia berat dan padat, selain itu lamban, megah  dan meyakinkan.  Jika kalian berbaring di bumi sesaat, sambil merasakan kepadatan bumi ini, dukungan dari tanah di bawah kalian, beratnya menjadi makhluk fisik, itu adalah energi magnetik

Terlalu banyak energi ini dapat membuat kalian merasa bingung, malas, terhambat, atau mengantuk. 

Pancaran Surgawi menghujani kalian 

Energi bumi datang melalui kontak dengan bumi.  Kekuatan ini berbenturan dengan abdomen (daerah lambung).  Nabi SAW mengingatkan kita bahwa semua penyakit berawal dari perut.  (pria dan wanita)

Di atas kita mengupas perlindungan untuk kepala, mulut, tangan, dan aspek pentanahan dari tongkat dalam penyembuhan sufi.  Semua ini kini menunjukkan bagaimana menarik energi ke dalam tubuh kalian, bagaimana menyimpan energi itu, dan bagaimana melepaskan energi negatif yang tidak kita kehendaki. 

Rahasia besar berada dalam peranakan seorang wanita yang disebut "rahim" – “Ra-Ha-Miim" rahmat dan rahasia ciptaan adalah karunia Allah SWT.  Tanpanya kita tidak akan terlahir dan daur kehidupan tidak akan berlangsung terus.  Untuk melindungi titik itu, sangat penting untuk melakukan meditasi pada titik itu dan menutupinya dengan pakaian untuk menjaga keselamatannya. 

Setan ingin membuat titik itu terbuka dan menarik rahasia kehidupan dari perempuan.  Mereka menyedot energi yang tidak mereka miliki itu. 

Selalu terhubunglah dengan mereka yang lebih saleh dari diri kita.  Ini adalah fondasi tarekat kita.   Lakukanlah meditasi inti langkah 1. 

Wa min Allah at tawfiq

 

15 Maret 2009

Muraqabah: Meditasi Sufi dengan Ilustrasi Langkah demi Langkah


أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 As-Sayyid Nurjan Mirahmadi

http://nurmuhammad.com/Meditation/Core/naqshbandimeditationillustration.htm

Alih bahasa: Eyang Soetono 

 

Sasaran dan maksud dari Muraqabah/Meditasi/Rabitha Syarif  adalah untuk memperagakan kehadiran terus-menerus ke dalam realitas Syekh. Semakin seseorang memelihara pelatihan ini, semakin terungkapkan manfaatnya dalam kehidupan  sehari-harinya sampai pada titik dia mencapai tataran fana dalam hadirat Syekh. Orang harus tahu betul bahwa Syekh adalah jembatan antara ilusi dan realitas dan dia berada di dunia ini hanya untuk tujuan itu. Jadi Syekh adalah seutas tali yang khas yang diulurkan kepada siapa pun  yang mencari kebebasan (dari ilusi), karena hanya Syekh  yang dapat memberikan layanan sebagai penghubung antara seseorang yang masih terikat kepada dunia dengan Hadirat Ilahi. Agar menjadi fana di hadapan dan keberadaan Syekh adalah menjadi fana dalam kenyataan, dalam Hadirat Ilahi, karena memang sesungguhnya di situlah dia berada.

 

Langkah 1

 

Bayangkan dirimu berada di hadapan Syekh. Sampaikan salammu. Tutup matamu. Pandanglah melalui mata hatimu. Jangan mencari raut muka, melainkan hanya auranya saja, ruhaniah. 

Sebagai awal murid dapat memulai praktik Muraqabah ini untuk jangka waktu pendek, antara 5 sampai 15 menit, dan secara bertahap menjalaninya menuju jangka waktu yang lebih panjang, bahkan merentang hingga berjam-jam sekali sesi. Yang terpenting adalah bahwa  seseorang mempertahankan sebuah praktik yang konsisten untuk mendapatkan manfaat dari praktik tersebut. Adalah jauh lebih baik dan bijaksana untuk bertahap pada sesi yang pendek secara harian daripada disiplin dan praktik yang acak. Sebuah upaya kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan kemajuan luar biasa dalam waktu yang singkat. 

Ambillah wudu dan salat 2 rakaat (tahiyatul wudu).

Ucapkan Kalimat Syahadat (3 kali): Asy-hadu an laa ilaaha illa-llah  wa asy-hadu anna Muhammadan `abduhu wa rasuuluh

Istighfar (100-200 kali): Astaghfirullah al `Azhiim wa atuubu ilayh

Surat al-Ikhlash (3 kali): Qul huwa-llaahu ahad/ Allaahu Shamad/ Lam yalid wal lam yuulad/ wa lam yakul- lahuu kufuwan ahad

Membaca Surat al-Fatiha

Minimal 200 kali mengulang kalimat zikir, mencari dukungan dan kehadiran Mawlana Syekh dengan mengucapkan: “Madad ya Sayyidi, Madadul-Haqq Yaa Mawlana Syekh Nazim Al-Haqqani 


Langkah 2

 Mata tertutup, mohon izin untuk menyambung cahaya beliau kepada hatimu dan cahayamu kepada hati beliau. Bayangkan sebuah kontak dua arah dan kemudian, baca awrad di atas.

Ketika seseorang duduk bermeditasi dan menutup matanya, ia memfokuskan pikirannya pada satu titik tunggal. Dalam hal ini titik itu biasanya adalah konsep dari mentor spiritualnya; jadi ia memfokuskan seluruh kemampuan kesaksiannya memikirkan dengan konsentrasi penuh tentang guru spiritualnya agar mendapatkan gambaran atau citra mentornya pada layar mental, selama ia masih berada dalam status meditasi itu. Sifat, karakteristik dan potensi yang terkait dengan sebuah citra juga dipindahkan pada layar pikiran ketika citra itu terbentuk pada layar mental dan pikiran menerimanya sesuai dengan itu. 

Sebagai contoh, seseorang sedang memperhatikan api. Ketika  gambaran tantang api itu dipindahlan ke layar pikiran, suhu dan panas api itu terekam oleh pikiran. Seseorang yang hadir dalam sebuah taman menikmati kesegaran dan kesejukan pepohonan dan tanaman dalam taman itu untuk menciptakan gambaran itu semua pada layar pikirannya. Begitu juga ketika gambaran mentor spiritual dipindahkan pada layar pikiran, Ilmu yang Dihadirkan yang beroperasi dalam diri guru spiritual, juga ikut dipindahkan dengan gambaran itu dan pikiran murid secara bertahap menyerap hal yang sama.

 

Langkah 3

Duduk bersimpuh, yang rapi,  tetap bersimpuh,  mata tertutup, tangan di tempat, mulut tertutup, lidah ditekuk ke atas, napas terkendali, telinga mendengar lantunan ayat suci al-Quran, Selawat atau suara sendu. Ruang gelap. 

Meditasi, memikirkan tentang mentor spiritual, sebuah upaya untuk memfokuskan dengan konsentrasi pikiran kita kepada seseorang, sehingga citranya dapat dipantulkan secara berulang pada layar pikiran kita, (maka) kita terbebaskan dari keterbatasan indera. Makin sering sebutir pikiran di tayangkan pada layar mental, makin jelas pula formasi (pembentukan) sebuah pola dalam pikiran itu. Dan, pola pikiran demikian ini, dalam istilah spiritualitas disebut 'pendekatan pikiran’. 

Ketika kita membayangkan mentor spiritual atau ‘Syekh’, sebagai sebuah hal dari hukum eternal, ilmu Elohistic Attributes yang beroperasi dalam Syekh dipantulkan pada pikiran kita dengan ulangan yang berkali-kali menghasilkan pencerahan pikiran dari murid dengan cahaya yang berfungsi dalam diri Syekh dan dilimpahkan kepadanya. Pencerahan hati murid berusaha mencapai tataran  atau tahap Syekhnya. Dalam Sufisme, keadaan ini disebut  'kedekatan’, ‘afinitas' (nisbat). Cara terbaik dan telah teruji untuk menikmati kedekatan, menurut spiritualitas, adalah hasrat kerinduan dari cinta. 

Pikiran Syekh terus-menerus mentransfer kepada murid spiritualnya sesuai dengan kobaran cinta dan rindu akan Syekh, yang mengalir di dalam diri murid dan datang suatu saat ketika cahaya beroperasi dalam diri Syekh yang sesungguhnya adalah pantulan Tampilan Ilahiah yang Indah yang dipindahkan kepada murid spiritual itu. Hal ini memungkinkan murid spiritual untuk membiasakan diri dengan Cahaya Gemilang dan Tampilan Indah. Keadaan ini, dalam istilah sufisme disebut 'Menyatu dengan Syekh’ (Fana fi Shaykh). 

Cahaya Syekh dan Tampilan Indah gemilang yang beroperasi dalam diri Syekh bukanlah ciri pribadi Syekh. Sebagaimana halnya murid spiritual, yang dengan perhatian dan konsentrasi penuh dedikasi, menyerap (asimilasi) ilmu dan ciri khas Syekhnya, maka Syekh juga menyerap ilmu dan busana Nabi SAW dengan dedikasi pikiran dan konsentrasi penuh.

Langkah 3a

Posisi duduk:  Posisi Teratai (yoga Lotus), Wudu Ritual Wudu adalah kunci sukses.  Kapal Nabi Nuh AS melawan banjir kelalaian.  Kebersihan adalah dekat dengan iman (ilahiah).  Ingat bahwa bukanlah saya yang menghitung bahwa saya adalah bukan apa-apa, saya dan aku harus melebur kedalam dia.  Syekhku, Rasulku, menggiring kepada Rabbku.. 

Zikir dengan penolakan (laa ilaaha) dan pembenaran (illa Allah), dalam tradisi para syekh Naqsybandi, mensyratkan bahwa murid (salik, pejalan) menutup matanya, menutup mulutnya, menekan giginya, melekatkan lidahnya ke langit-langit mulutnya, dan menahan (mengatur) napasnya. Dia harus membaca zikir itu melalui hatinya, dengan penolakan dan pembenaran, memulainya dengan kata LAA ("Tidak"). Dia mengangkat "Tidak" ini dari titik (dua jari) di bawah pusar kepada otaknya. Ketika mencapai otaknya kata "Tidak" mengeluarkan kata ILAAHA ("sesembahan"), bergerak dari otaknya  ke bahu Kanan, dan kemudian ke bahu Kiri di mana dia menabrak hatinya dengan ILLALLAH ("kecuali Allah"). Ketika kata itu mengenai hatinya energi dan panasnya menjalar/memancar ke sekujur tubuhnya. Sang salik yang telah menyangkal semua yang berada di dunia ini dengan kata-kata LAA ILAAHA, membenarkan dengan kata-kata ILLALLAH bahwa semua yang ada telah dilenyapkan di Hadirat Ilahi. 

Langkah 3b

 

Posisi Mulut dan Lidah

Menutup matanya,

Menutup mulutnya,

Menekan giginya,

Melekatkan lidahnya pada langit-langit mulutnya, dan menahan napas.

(secara perlahan-lahan memperlambat napas dan getaran jantungnya).


 

Tangan membawa rahasia yang dahsyat, mereka itu seperti antena parabolamu, pastikan bahwa mereka itu bersih dan berada dalam posisi yang semestinya. Jadi ketika kamu memulai dengan tangnmu itu, menggosok-gosoknya, ketika mencucinya dan menggosok gosoknya untuk mengaktifkan mereka, itu adalah tanda dari (angka) 1 dan 0, dan kamu sedang mengaktifkan proses kode yang diberikan Allah SWT melalui tangan itu. Kamu mengaktifkan mereka.   

Mereka memiliki titik sembilan peluru yang terdiri dari keseluruhan sistem, seluruh tubuh. Ketika kamu menggosok jari-jari itu, sesungguhnya kamu mengaktifkan 99 Asma-ul’ husna Allah SWT.

tangan kiri, "81"

tangan kanan, "18"

Dengan mengaktifkan mereka, kamu mengaktifkan 9 titik dalam tubuhmu.

Dan ketika mengaktifkan mereka, itu adalah seperti menghidupkan receiver (pada radio/tv), energi mengalir masuk, itu mulai berfungsi untuk dapat menerima, memecahnya dalam bentuk kode digital yang dipancarkan keluar seperti gambar atau suara sebagaimana kita kenal di zaman ini (radio dan tv). 

Demikian juga halnya dengan tangan yang saling mengelilingi, itulah mengapa ketika kita menggosok-gosokkan dan membuka mereka, mereka mulai bertindak seperti lingkaran satu terhadap lainnya, menampung apapun energi yang datang, dan mereka ini mengelolanya.  Lihatlah pada bagian Rahasia Tangan. 


Langkah 4

 

Posisi Tangan :

Jempol dan telunjuk memperagakan posisi "Allah Hu" untuk kuasa/kekuatan terbesar. Tangan diberi kode dengan kode angka, tangan kanan "18",  tangan kiri "81" masing-masing dijumlahkan keduanya menjadi 9 dan dua 9 menjadi 99. Tangan diberi karakter dengan  Asma-ul’husna Allah. Dan nama ke-99 dari Rasul adalah Mustafa..


Bernapas dengan Sadar ("Hosh dar dam") 

Hosh artinya "pikiran" Dar artinya "dalam" Dam artinya "Napas" Itu artinya, menurut Mawlana Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, bahwa  "Misi paling penting bagi salik dalam thariqat ini adalah menjaga napasnya, dan dia yang tidak dapat menjaga napasnya, akan dikatakan tentang orang itu, 'dia telah tersesat/kehilangan dirinya.'" 

Syah Naqsyband QS berkata, "Thariqat ini dibangun di atas (dengan fondasi) napas. Jadi adalah sebuah keharusan untuk semua orang menjaga napasnya di kala menghirup dan membuang napas, dan selanjutnya untuk menjaga napasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan membuang napasnya." 

"Zikir mengalir dalam tubuh setiap makhluk hidup oleh keharusan (kebutuhan) napas mereka – bahkan tanpa kehendak – sebagai sebuah tanda/peragaan ketaatan, yang adalah bagian dari penciptaan mereka. Melalui napas mereka, bunyi huruf "Ha" dari Nama Ilahiah Allah dibuat setiap kali membuang dan menghirup napas dan itu adalah sebuah tanda dari Jati Diri (Dzat) Gaib yang berfungsi untuk menekankan Kekhasan Allahu Shamad. Maka adalah penting untuk hadir dengan napas seperti itu, agar supaya menyadari (merasakan) Jati Diri (Dzat) Maha Pencipta." 

Nama 'Allah' yang meliputi sembilan puluh sembilan Asma-ul’husna terdiri atas empat huruf: Alif, Lam, Lam dan Ha yang sama –dengan suara napas - (ALLAH SWT). Kaum Sufisme mengatakan bahwa Dzat Allah SWT yang paling gaib mutlak dinyatakan oleh huruf terakhir itu yang dibunyikan dengan vokal Alif, "Ha".  Ini mewakili Gaib Absolut Dzat-Nya Allah SWT. 

Memelihara napasmu dari kelalaian akan membawa mu kepada Hadirat sempurna, dan Hadirat sempurna akan membawamu kepada Penampakan (Visi)  sempurna, dan Penampakan sempurna akan membawamu kepada Hadirat (Manifestasi) Asma-ul’husna Allah SWT yang sempurna. Allah SWT membimbingmu kepada Hadirat Asma-ul’husna-Nya, karena dikatakan bahwa, "Asma Allah SWT adalah sebanyak napas makhluk". 

Hendaknya diketahui oleh semua orang bahwa melindungi napas terhadap kelalaian sungguh sukar bagi para salik. Maka mereka harus menjaganya dengan memohon ampunan (istighfar) karena memohon ampunan akan membersihkannya dan mensucikannya dan mempersiapkan sang salik untuk (menjumpai) Hadirat Benar (Haqq) Allah SWT di mana-mana. 

 

Langkah 5

 

Bernapas,

Menghirup melalui hidung - Zikir = "Hu Allah", bayangkan cahaya putih memasuki tubuh melalui perut.

Menghembus – melalui hidung - Zikir= "Hu", bayangkan  hitamnya karbon monoksida, semua perbuatan dosamu dikuras / didorong keluar dari dirimu. 

"Salik yang bijak harus menjaga napasnya dari kelalaian, seiring dengan masuk dan keluarnya napas, dengan demikian menjaga hatinya selalu dalam  Hadirat Ilahi; dan dia harus menghidupkan napasnya dengan ibadah dan pengabdian dan mempersembahkankan pengabdiannya itu kepada Rabbnya dengan segenap hidupnya, karena setiap napas yang dihisap dan dihembuskan dengan Hadirat adalah hidup dan tersambung dengan Hadirat Ilahi. Setiap napas yang dihirup dan dihembuskan dengan kelalaian adalah mati dan terputus dari Hadirat Ilahi." 

Untuk mendaki gunung, sang salik harus melintas dari dunia Bawah menuju Hadirat Ilahi. Dia harus melintas dari dunia ego keberadaan sensual (sensasi) menuju kesadaran jiwa terhadap Al Haqq

Untuk membuat kemajuan dalam perjalanan ini, sang salik harus membawa gambaran Syekhnya (tasawwur) ke dalam hatinya karena itu adalah cara paling kuat untuk melepaskan diri dari cengkeraman sensualnya. Dalam hatinya Syekh menjadi cermin dari Dzat Absolut. Jika dia berhasil, kondisi penisbian diri (ghayba) atau "absensi" dari dunia sensasi muncul dalam dirinya. Sampai kepada tahap bahwa keadaan ini menguat dalam dirinya dan keterikatannya kepada dunia sensasi melemah dan menghilang, dan fajar dari Level Hilang Mutlak- Tidak Merasa- Selain  Allah SWT mulai menyinari dirinya. 

Derajat tertinggi dari maqam ini disebut fana'. Demikianlah Syah Naqsyband QS berkata, "Jalan terpendek kepada sasaran kita, yaitu Allah SWT mengangkat tabir dari Dzat Wajah-Nya Yang Ahad yang berada dalam semua makhluk ciptaan-Nya. Dia melakukan itu dengan (melalui) maqam ghayba dan fana', sampai Dzat Agung (Majestic Essence) menyelimutinya dan melenyapkan kesadarannya akan segala sesuatu selain Dia.  Inilah akhir perjalanan untuk mencari Allah SWT dan awal dari perjalanan lainnya." 

"Pada akhir Perjalanan Pencarian dan Level Ketertarikan datanglah Level Perendahan Diri dan Penihilan.  Sasaran ini adalah untuk segenap ummat manusia sebagaimana disebut Allah SWT dalam al-Qur'an, 'Aku tidak menciptakan Jinn dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.' Beribadah di sini berarti Ilmu Sempurna (Ma`rifat)." 

 

Langkah 6

 

Mengenakan ‘busana’ Syekh:

3 tahap perjuangan yang berkesinambungan:

Memelihara  Cintanya (Muhabbat),

Memelihara Kehadirannya (Hudur),

Melaksanakan Kehendaknya atas diri kita  (Penihilan atau Fana).


 

Kita memiliki cinta kepadanya, jadi kini kenakanlah Cahayanya dan selanjutnya bayangkan segala sesuatunya dari titik (sudut) ini, dengan busana yang kita kenakan itu. Ini adalah penopang hidup kita. Kamu tidak boleh makan, minum, salat, zikir atau melakukan apapun tanpa membayangkan bayangan Syekh pada kita. Cinta ini akan menyatu dengan Hadirat Ilahi, dan ini akan membuka pintu Penihilan ke dalam-Nya. 

Semakin seseorang menjaga ingatan untuk mengenakan busana dengan dia (Syekh) semakin meningkatlah proses penihilan itu berlangsung. Kemudian penuntun itu  akan meninggalkan dirimu di hadirat Rasul Allah Sayyidina Muhammad SAW. Di mana sekali lagi kamu akan menjaga cinta kepada Rasul SAW (Muhabbat), menjaga Hadiratnya (Hudur). Laksanakan kehendaknya atas diri kita (Penihilan atau Fana).

Fana fi Syekh, Rasulullah SAW, Allah SWT.

  

Penihilan Fana

Dalam keadaan spirit murid menyatu dengan spirit Syekhnya, kemampuan Syekh akan diaktifkan dalam diri muridnya, karena itu Syekh menikmati kedekatan Nabi SAW.  Dalam situasi ini, dalam istilah sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Rasul SAW’ (Fana fi Rasul).  Ini adalah pernyataan Nabi SAW, "Aku seorang manusia seperti kamu, namun aku menerima wahyu'. Jika pernyataan ini dicermati, kita melihat bahwa kemuliaan Nabi terakhir ini adalah bahwa beliau menerima wahyu dari Allah SWT, yang mencerminkan Ilmu-ladduni, ilmu yang diilhamkan langsung oleh Allah SWT, Pandangan yang Indah dari Allah SWT dan Cahaya Cemerlang ke dalam hati Nabi SAW. 

Dalam keadaan 'Penyatuan dengan Nabi SAW' seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengenali ilmu Nabi Suci SAW. Kemudian datanglah saat paling berharga, saat yang ditunggu-tunggu, ketika ilmu dan pelajaran ditransfer dari Nabi Suci SAW kepadanya sesuai dengan kapasitasnya. 

Murid itu menyerap karakter Nabi Suci SAW sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya dan karena kedekatannya dengan Nabi Suci SAW dan dukungannya dia dapat mencapai keadaan ketika dia mengenali Rabbil ‘Alamin, ketika Dia menguraikan dalam al-Qur’an, ‘Ya, sesungguhnya Engkau adalah Rabbi!’ Kedekatan ini, dalam sufisme disebut ‘Penyatuan dengan Allah SWT' (Fana fi-llah) atau singkatnya wahdat. Setelah itu, jika seseorang dikaruniai dengan kemampuan, dia akan membuat eksplorasi di daerah yang tentangnya  cerita (narasi) tidak lagi memiliki kata-kata untuk menjelaskannya, karena kepekaan dan kehalusan situasinya.

 

Langkah 7

 

Menjadi sesuatu  yang tidak ada, kendaraan sebening kristal untuk siapa pun yang ingin mengisi keberadaanmu dari Allah SWT Malikul Mulk

Dalam keadaan 'Penyatuan dengan Nabi Suci SAW’ seorang murid karena emosinya, kerinduannya dan cintanya secara bertahap, langkah demi langkah, berasimilasi dan mengnali ilmu dari Nabi Suci SAW.